Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

November 30, 2010

Love What You Do

Wisdom in the air, itu nama dari suplemen majalah yang kerap saya baca dalam kabin pesawat. Mungkin ada yang bertanya-tanya setelah saya menulis postingan di sini dan di sini, dan dalam kesempatan perjalanan ke Kupang kemarin, saya sempatkan tuk melirik judul suplemennya, nah, ya..that’s it, wisdom in the air.

Setidaknya kalimat itu cocok tuk menenangkan saya yang masih sering terkena sindrom aerophobia :)

Hmm, artikelnya dimulai dengan perjalanan sejarah sebuah perusahaan teknologi komputer terkemuka, Apple. Inc. Sobat bisa menjelajah referensi tentang detail kisah yang merevolusi penggunaan Personal Computer (PC) di era 70-an itu, karena saya hanya tertarik tuk sharing benang merah dari lika-liku hidup salah satu pendirinya, yaitu Steve Jobs.

Tahun 1985, saat Apple Inc. tengah menikmati perkembangan pesat, Jobs diberhentikan oleh manajemennya sendiri dengan alasan sudah tak ada kecocokan visi. Sebuah peristiwa yang sangat ironis, mengingat Apple-lah tempat dimana mimpi-mimpinya menuai realita dan disanalah semuanya berawal.

Jobs down. Lalu ia berusaha mengurai kesedihan dengan bersepeda dan berpetualang keliling Eropa. Di tengah kegalauan itu, di benak Jobs sempat terbersit tuk mengubur dalam-dalam dunia teknologi yang membesarkannya dan memulai hal baru. Namun itu sia-sia. Jobs tak pernah bisa menghilangkan ambisi dan kecintaan pada teknologi. Dan untuk menebusnya, Jobs mendirikan NEXT, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perakitan komputer, yang kemudian memberi jalan baginya tuk mengakuisisi perusahaan film animasi terkenal, PIXAR.

Meski NEXT tak memberi hasil yang memuaskan dalam hal komersil, PIXAR menunjukkan pada dunia bagaimana tangan dingin seorang Steve Jobs melahirkan trend baru dalam dunia perfilman animasi. Memang betul, siapa sih yang ngga suka Toy Story, Finding Nemo dan The Incredibles? :)

Sebaliknya, era kebangkitan Jobs ternyata tak sejalan dengan Apple Inc. yang tengah berjuang menghindari jurang kebangkrutan karena sepak terjangnya tergerus oleh dominasi Microsoft dan IBM. Nah, di sinilah rasa cinta itu kembali diuji. Jobs mengesampingkan sentimen pribadi dan kembali membuka pintu bagi perusahaan yang dulu pernah jadi tumpuan impiannya itu. Singkat kata, ce el be ka, alias cinta lama bersemi kembali kali ye :D

Selesaikah urusannya? Belum. Karena banyak pihak yang meramalkan Jobs takkan mampu tuk mengangkat kembali Apple Inc dari ranah degradasi. Dan Jobs pun berujar...
Saya yakin bahwa satu hal yang bisa membuat saya bertahan adalah bahwa saya mencintai apa yang saya lakukan. Kita harus mencari apa yang sebenarnya kita cintai. Dan adalah benar bahwa pekerjaan kita adalah kekasih kita. Pekerjaan kita akan mengisi sebagian besar hidup kita. Dan satu-satunya jalan untuk bisa mencapai kepuasan sejati adalah melakukan apa yang kita yakini.
Mantap. Saya sampai membaca berulang-ulang kali saking terpesonanya :D

Energi cinta yang dipancarkan Jobs meledak di tahun 2001, dimana Apple Inc meluncurkan salah satu produk pemutar media digital yang fenomenal, iPod. Bukan itu saja, perusahaan ini juga melahirkan Mac OS X, yaitu sebuah sistem operasi komputer yang membuat Windows dari Microsoft seperti ngga ada bagus-bagusnya. Tak pelak lagi, dua produk itu adalah sebuah lompatan besar yang pernah dialami Apple Inc. Great.

Epilog
Love what you do, mungkin itu pesan yang tersirat dari artikel singkat ini. Dan bila dikaitkan dengan aktivitas blogging yang saya alami akhir-akhir ini, bisa jadi ini sebuah pembelajaran yang sangat baik. Sedikit banyak memberi pemahaman yang lebih terang, bahwasanya - memang - saya harus mencintai apa yang saya lakukan, yaitu blogging itu sendiri :)

Dan Steve Jobs pun telah membuktikan mantra itu.

So, happy blogging everyone! ^_^

November 22, 2010

Cheshire Cat is Right!

Ada dialog unik di novel Alice’s Adventure in Wonderland. Saat itu Alice yang hanya ditemani oleh seekor kucing ajaib bernama Cheshire Cat, tengah tersesat di hutan yang gelap, dan Alice pun berkata, “Tolong beritahu aku kemana harus melangkah pergi dari sini!”
“Itu tergantung kamu mau pergi ke mana,” jawab si kucing.
“Aku tidak peduli kemana,” jawab Alice.
“Kalau begitu, tidak masalah jalan mana pun yang kamu ambil,” sahut si kucing.

Dialog singkat di atas terlihat sepele, tapi entah, saya jadi mendadak masygul. Jikalau saya menempatkan diri sebagai Alice dan tak tahu kemana akan pergi, tentu saran dari si kucing ada benarnya, alias kemana pun saya melangkah tak kan jadi masalah.

Betul juga. Kenapa harus pusing-pusing memikirkan langkah yang akan diambil bila jalan yang ditempuh tak tahu arahnya kemana? Mengapa juga mesti nguthek-nguthek progres jika hasil yang akan didapat tak ada dalam bayangan sama sekali?

Dan bila gagasan itu dikaitkan dengan blogging, hasilnya akan sangat-sangat absurd. Saya pribadi, yang sampai sekarang belum jua ngeh kenapa saya bisa nyasar nulis-nulis di media blog, mungkin bakal senasib dengan Alice. Tak memperdulikan apapun konsekuensi dalam aktivitasnya karena memang, I have no idea where I’m gonna up to. Kecuali satu hal, narsis tentunya ^_^

Indonesianer pun cenderung tuk menganut faham seperti yang dilukiskan di atas. Blog personal ini non-profit, and always be kalau kata facebook :D Thus, sepadan dengan itu, wajar kiranya jika saya tak menorehkan sebiji pun iklan di sini. Namun - yeah - tak menutup kemungkinan, blog ini adalah sebuah jembatan bagi saya tuk mengenyam pengalaman blogging ke level selanjutnya *opo kui? :D*

Yup, Cheshire Cat is right. Selama tujuan ngeblog belum ada bayangan, ya sudah, enjoy saja corat-coret di media paling asyik ini!

image credit: http://sillyhumans.blogspot.com/2008/09/cat-blogging-by-proxy.html

November 19, 2010

Menggeser Zona Nyaman Dengan Visi

Apa yang dialami Chelsea akhir-akhir ini, mungkin adalah efek dari ganasnya virus yang bernama zona nyaman. Gile aje, di saat ada kesempatan tuk melebarkan jarak dengan pesaing-pesaingnya, minggu malam kemarin The Blues malah melempem dihajar oleh tim medioker - Sunderland - dengan 3 gol tanpa balas. Sangat kontras dengan apa yang terjadi di fase terakhir Liga Primer musim lalu, dimana Chelsea tengah diburu musuh bebuyutannya, MU, dengan selisih hanya satu poin, The Blues dengan beringas menggasak Wigan Athletic 8-0 sekaligus menasbihkan Chelsea sebagai kampiun Liga Inggris!

Benang merah dari paragraf singkat di atas adalah: sungguh hebat efek dari perasaan tertekan, dan sebaliknya, sangat mengenaskan bila kita terlalu terbuai dengan kenyamanan.

Apa Itu Zona Nyaman?
Sulit menerangkannya, sesulit bagaimana saya sendiri mengenali zona tersebut. Pun di dunia online dan offline sudah banyak motivator dan inspirator yang kerap menyinggung kalimat ini. Jadi saya ngga akan mendefinisikan secara detail, kecuali mungkin mencoba memberikan opini yang mungkin bisa jadi bahan introspeksi saya pribadi maupun sobat Indonesianer.

First, sebelumnya kita menyimak dulu analogi berikut:

Bila kita punya uang 5000 rupiah untuk ongkos pulang, mana yang dipilih: ojek dengan ongkos Rp. 2000,-, angkot Rp. 3500,-, atau bus kota AC dengan tarif Rp. 4800,-?

Mungkin banyak dari kita akan menjawab: tergantung situasi dan kondisi. Yap, sikon sangat mempengaruhi bagaimana kita memilih moda transportasi sekaligus secara tidak langsung membentuk zona nyaman. Di saat tanggal muda, keadaan keuangan membaik, tentu kita tak ragu tuk menaiki bus kota AC. Kita nyaman-nyaman saja meski harus membayar lebih mahal, toh tak ada yang perlu dikuatirkan.

Beda halnya jika situasi keuangan tengah dirundung duka (dramatis banget ya? *hehe*), keluar uang seperak pun kita sangat perhitungan, so, ber-semriwing ria dengan ojek pun jadi pilihan yang rasional. Meski itu tak nyaman, namun kita dengan otomatis memaksa tubuh tuk menyamankan diri.

Berarti zona nyaman tiap orang itu relatif dong? Betul. Dan semua yang bersifat relatif itu tak ubahnya posisi pion-pion catur, bisa digeser kesana-kemari sesuai kebutuhan. Boleh-boleh saja kita mandeg, stagnan dalam satu kondisi, namun jangan lupa, bahwa semua yang kita lakukan pasti menghadirkan konsekuensi.

Ok, ojek dan bus kota lewat, mari kita berpindah pada analogi berikut:

Kita sudah graduate dan segar bugar mencari kerja ke setiap perusahaan. Dari pengalaman orang lain, teman, bisik-bisik tetangga dan semacamnya, kita lalu mematok gaji yang cukup nyaman tuk didapat dan sesuai dengan kapasitas kemampuan kita adalah berkisar antara 2 juta hingga 4 juta rupiah perbulan. Pabila ada tawaran job dengan gaji 1,75 juta perbulan, kita ragu dan cenderung mengabaikan. Pun bila ada yang menawarkan pekerjaan dengan gaji 5 juta perbulan, kita langsung berfikir: wow kegedean! Pasti dibutuhkan seseorang yang kapasitasnya melebihi saya! dan akhirnya kita pun merelakan job itu diembat orang.

Zona nyaman ternyata berada diantara nilai minimal dan maksimal yang kita tentukan sendiri harganya, dan tendensi kita membawa kenyamanan bila apa yang kita dapat berada pada range tersebut. Bila kurang, kita terancam, dan kalau terlalu lebih, kita jadi tak nyaman. Dan jika dikembangkan, nilai minimal dan maksimal ini tak melulu dalam hal nominal gaji. Bisa berlaku pula pada pemilihan pasangan hidup, kriteria rumah idaman, bahkan hal remeh seperti pemilihan topik postingan di blog. See?

Jadi...
Dari dua analogi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa - kira-kira - zona nyaman itu adalah zona dimana kita merasa nyaman untuk melakukan sesuatu tanpa ada tekanan. Zona dimana semua urusan terlihat terang benderang, dan kita sangat-sangat terganggu jika suatu saat zona itu terancam oleh hal yang kita anggap 'tidak seharusnya' ada.

Oke, kita telan dulu saja definisi itu, yang kemudian muncul adalah pertanyaan: baik atau buruk kah kita dengan zona nyaman yang kita miliki sekarang? Versi jawabannya mungkin akan seperti kasus hukum yang belum terselesaikan di Republik ini, alias banyak sekali! Dan semua akan setuju kalau faktor yang teramat penting dalam penentuan jawaban itu adalah faktor psikologis.

Ya, karena baik tidaknya zona nyaman yang kita miliki adalah murni produk alam bawah sadar kita. Gini, kita kadang tak mampu memberikan gambaran secara visual apa dan bagaimana zona nyaman yang kita miliki, lha terus gimana mau menilai itu baik atau buruk? Betul? 

Visi Adalah Kunci
Sedikit melebar, kalau saja Thomas Alva Edison sudah cukup nyaman dengan gelap-gelapan saat tenggelam di laboratoriumnya, apakah kita akan dapat menikmati indahnya kerlap-kerlip lampu di kota? Jika saja Wright bersaudara masih nyaman dengan hanya memandangi burung-burung yang berterbangan sambil menghayal tanpa aksi, adakah kita bisa melakukan penerbangan Solo-Kupang yang berjarak sekitar 900 km dengan waktu kurang dari dua jam?

Dan kenapa mereka mau-maunya susah-susah keluar dari zona nyaman hanya tuk menciptakan sesuatu yang belum tentu direalisasikan dengan mudah? Sekedar catatan, Edison melakukan kesalahan sebanyak 9998 kali sebelum akhirnya menemukan konsep lampu pijar, dan Wright bersaudara pun rela diteriakin orang gila! Apa yang menggerakkan mereka? 

Satu kata: visi.

Nah, sekarang, setelah tau zona nyaman itu apa dan visi itu bagaimana, iseng-iseng saja kita cocokkan, apakah keduanya sudah klop dan sejalan, atau berseberangan yang lalu kemudian kita buat itu seolah-olah sejalan? Apakah benar yang kita rasakan nyaman itu adalah juga sesuai dengan kenyamanan dalam visi hidup kita? Dan satu pertanyaan yang menggelitik: bagaimana jika zona nyaman tak selaras dengan visi yang kita punya?

Katanya Mudah, Tinggal Geser Saja!
Satu artikel menarik yang saya dapat saat searching referensi, yaitu dari Supardi Lee, yang katanya...
Satu-satunya cara meraih kemajuan hidup adalah dengan menggeser zona nyaman. Geser batas atas zona nyaman anda ke tingkat yang lebih tinggi, begitu juga dengan batas bawahnya. Misalnya anda pebisnis dengan omset minimal Rp. 1 Milyar dan omset maksimal Rp. 10 Milyar. Bila anda ingin tambah maju, maka langkah pertamanya secara mental anda geser dulu batas-batas zona nyaman tersebut. Misalnya batas atasnya jadi Rp. 20 Milyar (naik 100%) dan batas bawahnya jadi Rp. 10 Milyar (naik 1000%)...
Busyet! Hmm, sebetulnya saya agak silau dengan pemisalan bermilyar-milyar itu :D Tapi kalau direnungkan, perihal geser-menggeser itu ada benarnya juga, yang mana itu secara tidak langsung akan memberi efek psikologis tak nyaman bila kita tidak berada di range yang telah kita tentukan sendiri. Contoh konkritnya ya kembali ke analogi gaji tadi, geser saja standar gaji yang membuat kita nyaman di kisaran 3 juta - 6 juta...

Waw, semudah itu kah? :D
Move out of your comfort zone. You can only grow if you are willing to
feel awkward and uncomfortable when you try something new. (Brian Tracy)
Ada yang berani?

November 12, 2010

Kebenaran Atau Pembenaran?

Sekali lagi, saya mendapat suplemen yang bagus dari free magazine di atas kabin saat perjalanan Kupang-Surabaya kemarin. Kali ini artikel itu dimulai oleh suatu kisah yang kira-kira berbunyi seperti berikut...

Pada suatu hari - kenapa mesti semua cerita dimulai dengan kalimat ini? - ada seorang pemuda dari desa yang terkagum-kagum dengan ramainya suasana kota. Ia tercengang menatapi megahnya gedung-gedung pencakar langit dan geleng-geleng kepala menyaksikan riuhnya kendaraan yang berseliweran. Sampai suatu saat ia mendapati sebuah kerumunan orang yang kelihatannya sedang menonton sesuatu yang menarik. Apaan tuh?

Dengan susah payah ia menyeruak di antara kerumunan dan akhirnya berdiri tepat di jajaran paling depan. Yang didapatinya adalah seseorang berjubah hitam yang tengah berteriak-teriak berjalan berkeliling, melingkari sebuah meja dengan sesuatu yang ganjil di atasnya.

"Saudara-saudara! Ini adalah alat paling mutakhir sedunia! Tak ada yang mampu menandingi kehebatannya!" Lalu ia memandangi penonton di sekelilingnya dengan tajam, dan tatapannya berhenti di mata pemuda desa tadi.

"Hey kamu!" teriaknya seraya mengacungkan jarinya ke arah si pemuda. Merasa bingung, pemuda desa itu celingukan, mencari tahu siapa yang ditunjuk. "Hey, iya kamu! Yang pakai baju belang-belang!" Dengan polos si pemuda melihat kaosnya sendiri, lalu dengan kikuk ia maju ke depan.

Orang berjubah hitam itu menggandeng pemuda ke sisi meja, sehingga tepat menghadap ke benda ganjil tersebut. Pemuda desa memandangi benda aneh yang baru kali ini dilihat seumur hidupnya. Berbentuk seperti tabung yang berdiri miring, ditopang oleh besi-besi dan dibawahnya ada mangkok kecil berisi sekelopak bunga.

"Coba kamu lihat seperti ini!" sahut orang berjubah hitam sambil memperagakan sesuatu. Pemuda desa itu menurut dan meletakkan pandangan di atas tabung. Sedetik pertama ia belum mengerti apa yang dilihatnya, hingga akhirnya ia berteriak kaget. "Luar biasa! Sangat indah sekali!" Ya, ia melihat detail serat-serat bunga yang menakjubkan.

Penonton saling pandang keheranan. Lalu orang berjubah hitam mengganti kelopak bunga dengan sepotong berlian, dan kembali pemuda desa itu berteriak-teriak girang. Begitu pun saat menaruh segelas air, teriakan si pemuda makin menjadi-jadi. "Gila! Hebat! Ini memang alat yang sangat luar biasa!" semburnya.

Dan tanpa waktu lama, si pemuda desa langsung membeli alat itu yang di kemudian hari dinamakan dengan mikroskop.

Sesampainya di rumah, di desanya yang sepi dan permai, ia pun mulai melakukan banyak eksperimen. Banyak benda-benda di sekelilingnya yang ia teliti di bawah alat ajaib itu, dan dari waktu ke waktu ia makin takjub, karena ia dapat melihat kebenaran dari apa-apa yang selama ini ia lihat dengan kasat mata. Sebongkah batu ternyata adalah kumpulan kerikil yang menempel, sejumput rumput ternyata rimbun oleh jutaan helai dedaunan, dan sehelai rambut ternyata diselimuti oleh wol yang amat tebal!

Ia masih tersenyum gembira saat menyantap makanan dengan sambal kesukaannya, yang tiba-tiba menyadarkannya akan suatu hal. Ooh, kalau begitu apa ya kira-kira isi yang sebenarnya dari sambal kesukaan saya ini? Fikirnya. Lalu dengan antusias ia tempatkan sesendok sambal di bawah alat ajaib itu.

Apa yang dilihatnya sungguh di luar dugaan, ada ribuan cacing-cacing kecil menari-nari di dalam sambal itu dan membuatnya kaget terjengkang. Shock!

Belum pernah si pemuda mengalami kebingungan seperti saat ini. Sambal kesukaannya adalah yang terenak, terbaik dan menjadi santapan wajib baginya. Namun semua menjadi sebuah pertanyaan besar karena ternyata oleh alat sialan itu terlihat sebagai kumpulan cacing!

Mana yang benar? Mana yang lebih benar? Setelah terdiam beberapa lama, ia lalu mengambil alat itu, membantingnya ke tanah lalu dan rasa benci yang menyala-nyala, ia hantam dengan sebilah kayu hingga hancur berkeping-keping.

Intisari
Kadang saat kita inginkan sebuah kebenaran, dan ketika kebenaran itu tak sejalan dengan apa yang selama ini kita yakini, maka kita akan melakukan pembenaran dengan mengacuhkan kebenaran, dan bahkan menghancurkannya!

Berapa banyak dari kita terjebak dalam pola yang sama, dengan begitu mudah melakukan pembenaran atas apa-apa yang telah menimpa hidup kita? Dengan menyalahkan situasi, mengurai banyak alasan, dan bahkan menghakimi diri sendiri. Padahal kebenaran sejatinya adalah sebuah kenyataan, tak masalah bila ia dibenarkan atau disalahkan, karena ia akan tetap menjadi sebuah kebenaran. No matter what!

Meski saya sudah mendarat dan berjalan-jalan di gedung terminal, efek psikologis artikel itu masih menggelayut, meminta kejelasan lebih lanjut yang mungkin tak akan saya dapati jawabannya dalam waktu dekat. Sempat juga berfikir: apa pemuda desa itu adalah gambaran dari diri saya seutuhnya?

Bagaimana dengan Anda-anda sekalian?

October 6, 2010

Kalau Ngga Hepi Ngeblog, Ngapain Jadi Blogger?

Nikmatilah hidup Anda sendiri, tanpa membandingkannya dengan orang lain (Marquis de Condorcet)
Dulu, blogger newbie yang ingin belajar ngutak-ngatik template dan bahasa web butuh berbulan-bulan tuk riset, tanya sana-sini maupun trial and error, dikarenakan minimnya sumber referensi meski itu sudah didukung oleh mesin pencari secanggih google. Sekarang, tips dan trik sejenis itu tumpah ruah, banjir dan bertebaran. Efeknya, hasil penelusuran google untuk kata kunci yang sama, jauh lebih mencengangkan dan lebih relevan dibanding beberapa tahun silam. Wut wut wuut!

May 1, 2010

Bijak Memilih Kalimat Motivasi

Kepala masih agak puyeng. It’s ok. Mungkin ini bakal jadi pengalaman saya pertama kali meng-update postingan blog dengan kondisi meriang :)

Ok, kita mulai saja dengan pemilihan kalimat antara..
Saya harus meng-update postingan hari ini
Dengan
Saya senang meng-update postingan hari ini
Tanpa disadari, pemilihan kalimat motivasi yang tepat akan memberi dampak yang lebih luas, terutama mind set. Blogger yang cenderung memilih kalimat pertama, biasanya terpicu akan adanya kompetisi terselubung antar blogger. Skor Alexa, PageRank, jumlah visitor, ataupun RSS subscriber, merupakan alasan-alasan klasik yang selalu jadi bahan perbandingan. Ya, bagaimanapun parameter-parameter itu berefek manis pabila blog kita memang profit oriented.

April 23, 2010

Boleh Mati Ide, Tapi Jangan Sampai Mati Gaya!

Yup, salah satu kegiatan yang saya sukai adalah menulis dan menulis, tapi ampun dah, saya sangat sangat benci deadline! Dua sisi mata uang ini – jujur saja – beberapa hari belakangan sering menghantui saya. Ngeri men. Apa ini yang namanya blogger’s block? Mati ide, mati-matian mikir, mati mood,..tapi thank God, untung saya belum mati gaya! *hihi*

Apa pasal?

Sedikit nyerempet fiksi nih. Seperti halnya mengendarai mobil off road yang ugal-ugalan membelah belantara hutan rimba imajiner, dalam aktivitas blogging, saya pun optimis bakal menembusnya dengan berbahan bakar gagasan yang nyaris unlimited. Bahan bakar ini lah yang terus membakar semangat tuk berburu informasi, research, berjam-jam melototin feed reader, corat-coret ngga keruan hingga sempat nyasar blogwalking ke situs-situs layak sensor. *oopss*

Thus, hari, minggu dan bulan berganti. Hingga di satu waktu, saat otak lagi jauh dari kata error, ternyata ada dua hal yang baru saya sadari:
Satu, saya terlalu boros menggunakan sumber daya ide.
Dua, hutan belantara ini lebih ganas dari yang saya duga.

Well, saya tau, saya terlalu pede, dan menganggap ide dan gagasan itu seperti produk daur ulang yang bisa di-recycle sepuas hati. Walhasil, telat dalam mengantisipasi keadaan ’hampa ide’ ini, mau ngga mau menyeret saya tuk terus menerus memikirkan hal-hal berikut: bagaimana bila kita benar-benar dilanda perasaan mati ide, tapi ingin terus eksis? Otak kosong melompong tapi hati ngeyel tuk menulis? Mata lamur menatap layar monitor yang suwung tapi jemari gatel tuk mengetik sesuatu?

Saya fikir, boleh lah kita mati ide, tapi jangan sampai mati gaya! :D

Ok, kenapa bisa begitu? Dan bagaimana agar kita ngga mati gaya walau kepala nihil ide? Cobain deh resep-resep berikut...

March 29, 2010

6 Jurus Menghidupkan Kembali Inspirasi Menulis Konten Blog Yang Mati Suri

Halo sobat indonesianer, bagaimana weekend-nya? Saya harap semua baik-baik saja, okey? Lanjutan kisah Noebesi masih menunggu di daftar postingan, jadi don't worry, pasti nanti saya publish.

Berikut cemilan untuk dinikmati di Senin yang cerah ini...

Membuat sebuah konten blog, saya kira bisa dibilang serupa tapi tak sama dengan mengolah resep suatu masakan. Tiap individu pasti punya selera sendiri kan? Ada yang suka manis, asem, asin, pedes, pake bawang, dan semacamnya. Nah, suatu masakan yang terhidang tentu sebelumnya butuh inspirasi yang memicu tuk proses terwujudnya masakan tersebut. Misal, ingin memasak sayur sop. Setidaknya butuh kentang, wortel, kubis dan kawan-kawan sayur mayur lainnya. Ngga masalah soal rasa, kalau sudah jadi sayur sop, ya itulah sayur sop, versi kita sendiri tentunya.

Ok, cukup main analoginya dengan sayur, kita kembali ke akar permasalahan: inspirasi. Saya sendiri merasakan bagaimana pasang surut ide menulis itu selalu ada. Kadang on fire, kadang yah ngga bisa nulis sama sekali. Blank. So, what should we do?

March 24, 2010

Menyetel Ritme Blogging

Menarik sekali apa yang diulas oleh Pakde Sulas tentang solusi frekuensi postingan blog.

Memang benar adanya, bahwa ngeblog adalah salah satu kegiatan online yang sepatutnya tak boleh melalaikan aktivitas offline. Blogging hanyalah wahana penyaluran ide, sharing pengalaman, pengetahuan, juga apa-apa yang menjejal otak, hingga tertuang di belantara maya ini. Efeknya absurd, jauh berbeda dengan efek kegiatan offline yang setia mengikuti hukum sebab-akibat kehidupan.

Lalu apa yang bermain di sini? Tentu motif.

Kita sebagai blogger, datang dari berbagai macam motif. Bentuk nyata yang terlihat dapat dikaji dari pemilihan theme, topik penulisan, gaya menulis, dan tentu, frekuensi postingan. Itu adalah bentuk-bentuk nyata. Nah, bagaimana dengan yang tak kasat mata? Mood, kesempatan online, koneksi internet, dan kegiatan-kegiatan offline penulisnya? Kita sebagai pengunjung buta tentang hal itu, kecuali jika memang dalam postingannya si penulis mengemukakan hal ihwal aktivitas selain blogging.

March 10, 2010

Book Review: Menulis Itu Genius

Buku ini sebenarnya satu paket dengan apa yang saya beli waktu itu. Berhubung waktu luang yang kian sedikit, baru beberapa hari ke belakang ini saya menyicil membacanya. Kembali flashback ke malam itu, apa yang mendasari saya memilih buku ini? Pertama lewat sampulnya yang merah menyala, seakan menantang saya dan terlihat cool di antara buku-buku lainnya. Kedua, setelah saya timang, di sampul depannya ada sebuah pesan berbentuk matahari yang isinya: Anda mengalami jalan buntu dalam menulis? Baca buku ini! Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat saya menyerah, sekaligus membawanya ikut serta di tas jinjingan :)

March 9, 2010

Mengejar Backlink Sampai Keriting

Sobat baru memulai membuat blog? Saya tebak, apa hal pertama yang dianjurkan para blogger pendahulu agar blog sobat cepat terdeteksi mbah google dan mendapat traffic bejibun? Tak salah lagi, satu mantra yang sangat terkenal: SEO.

Banyak yang berlomba mendefinisikan SEO, tapi syukurlah ada wikipedia yang menengahi. Dari situ tersimpul benang merah bahwasanya backlink memang perlu untuk mempercepat pertumbuhan traffic. Lalu seperti apa sih wujud asli dari istilah backlink ini?

March 3, 2010

Patut Dicoba: 4 Situs Supporter Google Buzz

Sejak Google meluncurkan Google Buzz/Gmail Buzz pada tanggal 9 Februari 2010, sejak itu pula bermunculan media sosial dan platform jejaring sosial baru yang ikut serta mendukung jutaan pengguna buzz.

Untuk sobat yang sudah memakai buzz, berikut 4 situs pendukung atau lebih tepatnya search engine yang mungkin bisa mempernyaman kita mencari topik-topik terhangat di blogosphere. Untuk yang belum, ini bisa jadi pertimbangan.

Buzzzy.com, adalah mesin pencari berbagai artikel yang di-buzz. Saya pernah mencobanya, dan saya rasa situs ini sangat akurat untuk mencari trend topik yang sedang berkembang, ataupun diskusi-diskusi seputar buzz. Sobat bukan pengguna gmail? Rileks, buzzzy pun bisa diakses untuk non-gmail user.
Buzrr.com, mirip dengan counter tweetmeme namun dalam versi Googe Buzz. Kita dapat mencari artikel-artikel terbaru, terpanas dan menjadi perbincangan hangat yang di-buzz oleh user di seluruh dunia. Yang mengasyikkan, buzrr juga menyediakan logo buzz alternatif untuk blog dan website. Hmm..bisa dicoba.


Buzzusers.com, adalah komunitas online pertama bagi pengguna google buzz. Disana di bahas berbagai topik tentang buzz, seperti tip dan trik, marketing via google buzz juga diskusi seputar topik terhangat di blogosphere. Menurut saya ini forum yang terpanas saat ini :)


Gonebuzz.com, sangat berguna bagi kita yang ingin mengetahui profil-profil orang yang blog atau situsnya sering di-buzz. Sepertinya asyik, dan mungkin saya juga akan mendaftar profil di sana.


Semoga info ini bermanfaat :)

Berlangganan artikel gratis, untuk artikel berikutnya.

February 28, 2010

Book Review: I Am A Writer

Langit di atas kota Solo mendung-mendung tipis saat saya diajak paman saya ke salah satu toko buku ternama di suatu mall yang jaraknya hanya seseberangan jalan dari rumah. Tadinya saya sedikit malas, toh masih bisa besok kan? Namun karena ada ga enak, ya saya ikut juga. Dan benar, ajaibnya, rasa itu perlahan pudar seiring makin jernihnya mata ini melihat puluhan salesgirl berlalu lalang (dasar lu! :D).

Singkat kata, karena saya sedang intens meminati bidang tulis menulis, saya ambil buku yang judulnya I am a Writer karangan Andrea Tejokusumo. Kalau ditanya alasan memilih buku itu, ya selain sampulnya yang menarik, tebalnya juga layak lah untuk dicemil dalam waktu semalam. Maklum, lagi malas ngapa-ngapain weekend ini :)

The Author
Andrea Tejokusumo tercatat sebagai alumnus London College of Communication (LCC) jurusan ilmu jurnalistik. Selama tiga tahun masa kuliah di sana, ia sempat menjadi editor koran kampus, dilanjutkan dengan beberapa kesempatan magang di stasiun radio dan website amal untuk anak muda. Ia mulai menulis fiksi sejak usia 11 tahun, dan mengaku walau tak ada satupun ceritanya yang pernah selesai, pengalaman itu memperkenalkannya akan kenikmatan menulis hingga memutuskan untuk menimba ilmu di Inggris. Saya tergelitik dengan alasannya untuk mulai menulis. Ia dengan polos mengatakan: pertama-tama mulai menulis sebenarnya karena ingin menyalurkan imajinasi masa kecil yang cenderung berlebihan :D

Content
Dari sampul bukunya (yang terkesan chick lit), sebenarnya saya mengharapkan isi yang lebih renyah dibaca. Namun dugaan saya meleset, ternyata selain renyah, isinya juga lebih berbobot dan membuka wawasan saya jauh dari yang saya kira. Mungkin karena selain ilmu menulis, di buku ini juga seolah Andrea membeberkan biografi singkatnya, yang berupa pengalaman pribadi semasa kuliah, karir, juga opininya mengenai dunia tulis menulis. Ini yang menurut saya memiliki nilai lebih dan membuat saya betah nyemil hingga tak bisa berhenti sampai mentok halaman terakhir.

Di awal-awal halaman, buku ini langsung memikat saya dengan kalimat:
Amat sulit rasanya untuk membayangkan dunia ini tanpa kata-kata. Perkembangan peradaban manusia selama beribu-ribu tahun telah memberikan makna pada bahasa dan kata-kata yang dulunya hanya memiliki makna simbolis..
Selanjutnya dengan urutan yang sistematis - cenderung berpola mengerucut - tiap bab dalam buku mengulas pengertian, alasan, tools dan ekspektasi untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup (way of life). Menarik. Apalagi saat ia menanyakan mengapa kita menulis?
Apakah karena kamu banyak memiliki ide-ide brilian yang ingin dituangkan?
Apakah karena kamu suka bermain dan memanipulasi kata-kata?
Apakah kamu melihat bahwa menulis sebagai mata pencaharian yang menjanjikan?
Atau sebagai sarana untuk menjadi beken? :D
Kalau saya - sambil tertawa - mungkin memilih yang terakhir! :D

Yang membuat saya terkejut, sekaligus tercenung, ternyata kepribadian juga berpengaruh lho dalam menentukan jalan karir menulis seseorang.
Mereka yang stylish dan supel dalam bergaul akan merasa lebih cocok dengan pekerjaan menulis berlatar belakang kreatif seperti copywriter atau di media yang berbau lifestyle. Mereka yang peka secara emosi lebih bisa menyalurkan perasaan saat menulis sesuatu yang bertema sosial atau human interest, sementara mereka yang analitik berkemampuan menjadi analis atau kritikus yang obyektif.
Ada benarnya. Tapi kemudian di akhir bahasan, Andrea menengahi pergulatan antara kepribadian dan proses menulis ini dengan:
Atau mungkin, bisa jadi kepribadian kita yang malah berubah mengikuti kebiasaan menulis yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, dan membuat pilihan kita menjadi lebih luas dari sebelumnya!
Saya cenderung setuju dengan yang terakhir, karena sudah setua ini pun saya masih belum tahu pasti jenis kepribadian saya gimana :)

Thus, pengalaman-pengalaman menariknya selama kuliah dijadikan selipan di tiap bab buku. Saya rasa ini sebagai penyegar suasana, namun tetap memberi inspirasi. Yang paling mengena adalah saat pengalamannya mengalami pencerahan. Dimana di salah satu punggung buku Seandainya Saya Wartawan, semacam buku how to yang beredar di kalangan internal redaksi Tempo, Goenawan Mohamad menuliskan sebuah kisah:
Pelukis S. Soedjojono suatu hari ditanya tentang teori yang dipakainya dalam melukis. Ia menjawab dengan suaranya yang agak parau, "Apa saudara tahu ada teorinya orang naik sepeda?"
Well. Jujur, saya langsung menandai halaman itu dan menebalkan tulisannya dengan stabilo!

Last Thought
Setelah membaca buku ini, wawasan saya tentang dunia tulis menulis sedikit demi sedikit terungkap. Yang tadinya brutal dan terkesan sekenanya, saya jadi memiliki kekuatan ekstra untuk berusaha lebih baik dalam merangkai tulisan. Ya setidaknya sih bagus untuk dibaca sendiri :) Karena saya sadar, tulisan bisa membuat kita dikenang, walau kita telah tiada nantinya...weh, koq jadi dalem gini sih hehe..

So, happy weekend, happy writing and happy blogging sobat!


February 27, 2010

Jika Menulis Yang Diketahui Itu Sulit, Tulislah Tentang Yang Belum Diketahui

Memahami bahwa kemampuan tulis-menulis itu merupakan elemen terpenting dalam proses blogging, saya sering terperangkap ke dalam mind set dimana ngeblog itu sesulit menulis jurnal penelitian, karena butuh referensi yang tidak sedikit dan pemilihan kata yang tepat sehingga memenuhi standar writing to be read.

Namun kemudian saya berfikir, bukankah manusia itu punya keterbatasan? Baik keterbatasan tentang apa yang diketahui maupun keterbatasan tentang apa yang belum diketahui. Nah, disini saya mencoba membandingkan dua hal tersebut, mana yang paling dominan?
Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I'm not sure about the universe. (Albert Einstein)
Bahkan Enstein sendiri mengakui bahwa keterbatasan manusia akan hal yang belum diketahui (stupidity) adalah tak terhingga. Saya belum tahu pasti apakah Einstein itu seorang blogger, tapi saya fikir isu ini adalah bersifat universal, dalam artian bisa juga dikaitkan dengan media kata seperti halnya blog.


Blogging tentang sesuatu yang sudah diketahui mungkin lebih mudah, apalagi bagi mereka yang telah lihai menyusun kata (saya sendiri banyak belajar dari sobat blogger yang begitu luwesnya dalam menulis pengalaman sehari-hari, karena saya tahu itu hal yang tidak mudah bagi saya). Namun ketika gagasan menulis tidak selalu selaras dengan konsep who, what, when, where, why dan how, saya mungkin akan mempertimbangkan untuk menulis tentang hal-hal yang belum atau ingin saya ketahui.
Just write what’s on your mind and don’t stop. Forget about the grammar, sentence structure, facts, and research. The key to this is just to get everything in your brain onto paper. The more you get down the easier it becomes. (Stanley Tang)
Saya tahu, saya belum menerapkan gagasan ini dalam proses blogging. Tapi bukankah ini gagasan yang bagus?

Komentar sobat?

February 25, 2010

Anggap Saja Google Ngga Eksis!

Para blogger master senantiasa berkata: ngeblog-lah untuk pengunjung, bukan untuk search engine. Ada apa dibalik frase singkat itu? Sebenarnya itu sindiran untuk kita karena akan kembali melempar sebuah pertanyaan: akankah kita terus ngeblog jika search engine, seperti google, yahoo, dogpile dan yang lainnya tak pernah eksis di internet? Well, bagi kita ini sebuah tantangan hebat. Dengan anggapan radikal seperti itu bagaimana kita akan terus konsisten ngeblog dan menaikkan traffic pengunjung? Belum lagi itu terjawab muncul lagi pertanyaan lain (yang ini mungkin lebih mengerikan), bagaimana pengunjung bisa menemukan blog kita?


Kemungkinan terbesar adalah kita kembali ke kebiasaan alamiah kita sebagai manusia, yaitu berkomunitas. Berkumpul di satu wadah dimana mereka bisa saling mengenal dan mendukung satu sama lain. Saya ga ngerti awal mula munculnya blog-blog direktori - karena saya sendiri masih belajar - namun inilah mungkin wadah yang dimaksud. Selain itu mungkin juga forum-forum dan situs jejaring sosial macam facebook, youtube, twitter dan - yang paling gress - google buzz.

Keuntungan dari bersosialiasi online ini saya rasa ga bisa dipandang remeh. Meski saya belum memanfaatkan ide itu secara maksimal, namun saya berfikir, ini mungkin yang akan menjadi trend di kemudian hari.

Imajinasi saya, blogosphere ini sudah sedemikian penuh sesak, dan kita mustahil survive bila masih terus-terusan fight as a single fighter.

Jadi, bagaimana ya seandainya google ga ada? Pendapat sobat?

Improvisasi Yuk!

Tahukah sobat, bahwa blog pertama kali yang pernah dipublikasikan ternyata dibuat oleh para ilmuwan? Pada waktu itu mereka menggunakan fasilitas blog - yang dulu dinamakan web log - untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitian dan saling membandingkan analisa di dalam komunitasnya. Hingga kini, seiring perkembangan internet, web log telah berevolusi menjadi blog yang kita kenal sekarang. Apa yang mendasari proses tersebut? Saya kira inilah yang dinamakan improvisasi.

Kita ga bisa membayangkan bila format blog hanya dipublikasikan untuk kalangan tertentu, bahasa tertentu dan tujuan tertentu. Dan juga sangat aneh rasanya, di era sekarang, masih ada orang atau organisasi yang enggan bergaul di kampung maya. Singkat cerita, saya rasa improvisasi memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan zaman.


Only the flexibly creative person can really manage future, only the one who can face novelty with confidence and without fear (Abraham Maslow)
Blog ini pun akan terus mengalami improvisasi, baik dari segi template, bahasa penyajian maupun dalam konteks tujuannya ke depan, dengan harapan dapat menemukan bentuk idealnya yang sesuai dengan visi penulis.

Last but not least, semoga blog ini bisa bermanfaat bagi penulis maupun bagi pembacanya.

Nah, siapkah kita untuk terus berimprovisasi? Pendapat sobat?

PS: Maaf untuk sobat indonesianer yang belum saya link, saya akan mencantumkannya di halaman page dan kemungkinan masih dalam proses. Terima kasih.

February 24, 2010

Aturan Link Exchange Antar Blogger Yang Tak Terungkap

Layaknya seorang asing yang baru menempati dunia baru, sebuah blog yang ingin diketahui keberadaanya tentu dengan sendirinya ingin berbaur dan mengenal blog-blog lain yang lebih dulu eksis. Blogwalking, saling sapa di chatbox dan saling mengomentari konten blog menjadi irama yang asyik untuk dinikmati. Nothing to lose. Tambah teman, tambah pengetahuan, tambah wawasan dan (syukur-syukur) tambah rejeki :)

Dan untuk lebih mempererat persahabatan, para blogger biasanya menyediakan ruang di blognya yang umum disebut blogroll, atau daftar blog yang dijadikan partner bertukar link (link exchange). Disinilah seni ngeblog kita berbicara. Karena menurut saya, bertukar link ternyata bukan perkara yang mudah.

February 23, 2010

Wanted: Konten Bermutu!

Untuk blog yang baru seumur jagung seperti indonesianer ini, konten bermutu adalah harga yang tak bisa ditawar. Selain untuk mempertahankan kualitas blog, saya berfikir ini adalah masa-masa kritis yang harus dilalui sebuah blog dalam perjuangannya mengarungi dunia online.

Konten bermutu, setidaknya membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk melakukan hal-hal berikut:

Mengendapkan Ide
Saya biasa membuat sket tulisan, meski hanya berupa sepenggal dua penggal kalimat, dan di-save dalam format word. Kumpulan sket itu tersimpan dalam satu folder yang saya namakan ideas. Beberapa terkesan konyol, bahkan membuat saya tertawa sendiri, dan tak jarang beberapa ide saya fikir terlalu riskan untuk dipublikasikan (biasanya bersifat kontroversi). Saya tahu, belum tentu semua ide itu akan terangkat, namun dengan cara inilah saya merasa bisa terus konsisten ngeblog.


Seleksi Referensi
Feeds dan newsletter email jadi andalan utama, tapi tetap butuh waktu untuk browsing ke situsnya bila ingin mendalami sebuah topik. Selain cara itu, saya balik lagi ngoprek-ngoprek rak buku, mencari kesamaan pandangan dengan isi buku yang biasanya kotor ditempeli kertas-kertas kecil penanda halaman. Quote atau pun kalimat pembangkit inspirasi boleh lah dicomot untuk memperkuat gagasan.

Tulis!
Sepenggal kalimat ide digubah. Kadangkala malah meleset jadi ide asal dan muncul judul yang sama sekali berbeda. Proses menulis inilah yang menurut saya paling menguras fikiran – dimana basic keilmuan saya sangat berbeda dari ilmu bahasa dan tulis menulis – dan tak jarang satu tulisan memakan waktu berhari-hari. Namun bila sedang mood, ada yang selesai hanya dalam hitungan menit saja. Saya salut untuk sobat blogger yang sudah tidak lagi menganggap fase ini fase yang sulit :)

Timing Publikasi
Sebuah tulisan tak akan dikenal khalayak bila tak terpublikasi. Dan sebuah konten yang bermutu tak akan dikenal khalayak jika tak ada traffic. Jujur, pada awalnya saya ga terlalu peduli dengan SEO, namun setelah difikir, orang yang mencari artikel tidak melulu blogger kan? Untuk itu agar konten tak lekang dan menjadi angin lalu, saya membiasakan menggunakan jasa ping (seperti di pingoat dan totalping) untuk optimasi dan menambahkan keyword terkait pada meta tag (lho, memang blogger mana yang ngga?).

Promosi, Terselubung dan Terang-terangan
Artikel bermutu atau yang sering disebut artikel pilar ini akan terus terendus keberadaannya jika rajin diintip atau dijadikan link referensi. Dengan mengaitkannya, secara tak langsung bisa menjadikan promosi terselubung untuk artikel tersebut. Ada pula sebagian blogger yang terang-terangan mempromosikan lewat forum dan signature (bila admin mengizinkan), ataupun kotak komentar jika pemilik blog tidak keberatan (
ini tidak disarankan karena cenderung berbau spam).

Enjoy It
Menikmati proses, itu yang penting :) Karena saya juga masih menduga-duga, apa sih yang dinamakan bermutu itu.. Just enjoy it.

Sobat punya pengalaman sendiri?

Untuk postingan kali ini saya memperbolehkan sobat untuk menaruh link konten dari blog sobat yang sobat anggap paling bermutu di kotak komentar. Bisa berupa artikel pengetahuan, opini, puisi, tutorial, ataupun tips, sehingga kita semua bisa belajar, sekalian promosi tentunya. Nah, tunggu apa lagi? :)



February 21, 2010

Alasan Mengapa Blogger Harus Lebih Banyak Membaca Buku

Capeknya. Setelah jogging di pagi hari menyusuri GOR Manahan Solo dan main ping pong sebentar dengan adik ipar, seharian ini diisi dengan acara muter-muter Pasar Klewer, searching kebaya dan batik tuk keperluan sepupu menikah. Namun sore menjelang malam seperti saat ini, keadaan sudah agak aman dan terkendali, jadi saya dengan rela menuruti kata hati yang terus-terusan maksa dan mengajak saya untuk segera meng-update blog ini. Yah, saya setuju aja, hitung-hitung biar ga cepet kena alzheimer :)

Selamat datang dan salam kenal bagi sobat indonesianer yang baru mendarat di sini, salam hangat juga bagi sobat-sobat yang telah lebih dulu hinggap. Sejak pagi tadi sebenarnya ide untuk membuat tulisan tentang ini sudah menggelitik saya, dan untuk memuaskan rasa gatel ini, saya baru bisa menyajikannya sekarang.

Topik yang saya angkat kali ini adalah seberapa pentingkah membaca buku bagi seorang Blogger? Saya mencoba berargumen dengan menguraikannya dalam beberapa poin berikut :

Meningkatkan Kredibilitas
Buku, bagaimanapun hingga kini adalah sebuah media yang terpercaya. Kita bisa mengenal penulisnya, latar belakang penulisan, juga pengalaman menulis dari sang author. Itu yang disebut kredibilitas. Logikanya, jika kita sering membaca dan mengutip buku (yang bagus tentunya), kredibilitas kita sebagai blogger juga akan ikut terangkat.


Para master blogger adalah contoh yang bagus. Mereka tahu betul apa yang ditulis dan diulas dalam blognya. Pengalaman dan pengetahuan mereka akan referensi-referensi mematangkan proses yang akhirnya bisa menjadi sekarang ini. Mereka telah lebih dulu mengetahui ada duri di jalan dan menjadi pelopor untuk menempuh jalur yang lebih efisien.

Dan mereka mendapat kredibilitas, bukan atas kemauan mereka, kredibilitas diberikan oleh pengunjung yang mengikuti advice-advice mereka. Meski di dunia online ga ada istilah newbie dan master karena semua mempunyai kesempatan yang sama, paling tidak kita butuh pengetahuan tentang mana yang lebih efektif untuk proses blogging kita. Kita – sadar atau pun tidak – memberikan kredibilitas pada mereka, yang dalam istilah saya, idol blogger.

Memperdalam Kajian Akan Sesuatu Hal
Blogwalking dan membaca konten blog secara online hanya akan memberi perspektif yang lebih dangkal ketimbang kita membaca sebuah buku. Seberapa panjang sih sebuah postingan blog? Seberapa efektifkah pesan yang diangkat oleh penulisnya, dan seberapa kuatkah inspirasi yang didapat sehingga kita dapat memulai sebuah aksi?

Postingan blog sebagian besar adalah isu-isu terkini, tips-tips terbaru dan berita terhangat yang cepat atau lambat akan berangsur pudar. Adapun buku, kekuatan pesan dari penulisnya bisa kita akses lebih mendalam, lebih dapat kita selami dan pilah sesuai topik mana yang jadi kajian kita. Jadi singkatnya, buku mempunyai nilai lebih ketimbang hanya semata membaca online.

Memberi Ciri Khas
Sebagian besar blogger saat ini merupakan pembaca online secara regular. Dengan banyak membaca buku, kita akan bisa mengekspos konten yang tidak biasa dikonsumsi para pengunjung blog. Keunikan gaya bahasa, irama kalimat dan kedalaman bahasan yang kita lepaskan akan memperkuat image pembaca bahwa kita memang menguasai hal yang dituliskan.

Dan juga, kita dapat menghindari fenomena gaung bersambut, dimana para blogger membicarakan hal yang sama dan diulang-ulang terus dalam kurun waktu tertentu. Blogger A menulis tentang anu, Blogger B mengutip dan mengulasnya lagi, lalu Blogger C melihat bahwa ini bagus dan kemudian diulas lagi. Membaca buku akan memberi perspektif yang berbeda, karena kita mengajukan sumber bahan yang valid, yaitu buku. Perbedaan inilah yang akan memberi kesan khas pada tulisan-tulisan kita.

Jadi...
Poin-poin di atas mungkin hanya opini dari saya pribadi dan cenderung subyektif. Tapi saya akan tetap mengingatkan diri saya sendiri, juga sobat indonesianer, untuk sebisa mungkin memperbanyak membaca buku. Karena sebuah blog adalah media untuk berbagi ilmu plus inspirasi dan buku adalah salah satu sumbernya.

Ada yang menambahkan, atau memberi pandangan lain?

sumber gambar


Artikel ini menarik? Silahkan berlangganan artikel gratis via RSS agar tak melewati postingan artikel berikutnya.

February 20, 2010

Ngeblog Ala Grunge

Come as you are
As you were
As I want you to be..

Saya manggut-manggut seiring bait demi bait yang mengalun dari balik earphone butut pinjaman yang saya paksain nangkring di telinga. Nirvana. Satu band yang jadi favorit saya sejak mulai nge-band pas kuliah semester 3. Ingatan saya kembali ke waktu itu, dimana lewat suatu pertemuan yang tak disengaja, saya dikenalkan dengan dua orang penggila musik grunge. Alkisah, singkat kata singkat cerita, kita bertiga langsung nyambung dan kerap hang out bareng, nongkrong bareng (bukan di toilet tentunya) juga kerap hilir mudik ke studio musik terdekat meski cuma sekedar ndengerin band lain latihan. Maklum, jaman nge-kos dulu budget sangat tipis, jadi jadwal latihan kami lumayan ketat, seketat kaus Luna Maya *oopss* :)

Untungnya, sebelum perkenalan itu, saya iseng privat drum di salah satu tempat les musik. Belum ada fikiran untuk bikin band. Saya cuma merasa kayaknya asik juga bisa main drum. Siapa tau nanti bisa jadi kayak Dave Grohl, udah mantep ngedrum-nya, digilain cewek-cewek lagi.. ahayyy *mulai narsis kumat* :D


Ternyata keisengan saya berbuah manis. Duo grunger itu tengah ditinggal drummer-nya dan mereka ngebet banget tampil di suatu parade musik di salah satu kampus swasta. Right person, right time in a right place..bisa jadi demikian. Bayangkan, kita baru kenal, chit chat sebentar, langsung latihan di studio. Cuma sekali itu kita latihan dan besoknya langsung tampil. Pede abis lah.

Sejak itulah kita sering wara-wiri di parade-parade musik (meski penontonnya kayak celananya kena lem pipa, lengket, ga gerak-gerak), festival (meski ga pernah masuk 10 besar), pentas Agustusan (meski belum habis satu lagu dah langsung disuruh ganti dangdutan), dan semua yang berbau pentas musik, kita sambangi. Pede yang ga abis-abis. Lha gimana lagi, wong seneng koq :D

Itu dulu. Namun saya dapat memetik satu pelajaran dari sana. Bahwa apa-apa yang kita lakukan dengan asyik, akan mematahkan semua anggapan, praduga, atau apapun yang bisa melemahkan keasyikan itu sendiri. Buktinya ya pengalaman saya nge-band itu. Cuek aja, yang penting nge-grunge! :)

Gaya grunge ini bisa jadi saya terapkan saat ngeblog. Keasyikan yang ditawarkan begitu besar, melewati batas-batas aturan page rank, SEO, or whatever. Ngeblog ya ngeblog.

Come as you are
As you were
As I want you to be..

Pendapat sobat?