Apa yang dialami Chelsea akhir-akhir ini, mungkin adalah efek dari ganasnya virus yang bernama zona nyaman.
Gile aje, di saat ada kesempatan tuk melebarkan jarak dengan pesaing-pesaingnya, minggu malam kemarin
The Blues malah
melempem dihajar oleh tim medioker - Sunderland - dengan 3 gol tanpa balas. Sangat kontras dengan apa yang terjadi di fase terakhir Liga Primer musim lalu, dimana Chelsea tengah diburu musuh bebuyutannya, MU, dengan selisih hanya satu poin,
The Blues dengan beringas menggasak Wigan Athletic 8-0 sekaligus menasbihkan Chelsea sebagai kampiun Liga Inggris!
Benang merah dari paragraf singkat di atas adalah: sungguh hebat efek dari perasaan tertekan, dan sebaliknya, sangat mengenaskan bila kita terlalu terbuai dengan kenyamanan.
Apa Itu Zona Nyaman?
Sulit menerangkannya, sesulit bagaimana saya sendiri mengenali zona tersebut. Pun di dunia
online dan
offline sudah banyak motivator dan inspirator yang kerap menyinggung kalimat ini. Jadi saya
ngga akan mendefinisikan secara detail, kecuali mungkin mencoba memberikan opini yang mungkin bisa jadi bahan introspeksi saya pribadi maupun sobat Indonesianer.
First, sebelumnya kita menyimak dulu analogi berikut:
Bila kita punya uang 5000 rupiah untuk ongkos pulang, mana yang dipilih: ojek dengan ongkos Rp. 2000,-, angkot Rp. 3500,-, atau bus kota AC dengan tarif Rp. 4800,-?
Mungkin banyak dari kita akan menjawab: tergantung situasi dan kondisi.
Yap, sikon sangat mempengaruhi bagaimana kita memilih moda transportasi sekaligus secara tidak langsung membentuk zona nyaman. Di saat tanggal muda, keadaan keuangan membaik, tentu kita tak ragu tuk menaiki bus kota AC. Kita nyaman-nyaman saja meski harus membayar lebih mahal,
toh tak ada yang perlu dikuatirkan.
Beda halnya jika situasi keuangan tengah dirundung duka (dramatis
banget ya?
*hehe*), keluar uang
seperak pun kita sangat perhitungan,
so, ber-
semriwing ria dengan ojek pun jadi pilihan yang rasional. Meski itu tak nyaman, namun kita dengan otomatis memaksa tubuh tuk menyamankan diri.
Berarti zona nyaman tiap orang itu relatif
dong? Betul. Dan semua yang bersifat relatif itu tak ubahnya posisi pion-pion catur, bisa digeser kesana-kemari sesuai kebutuhan. Boleh-boleh saja kita
mandeg,
stagnan dalam satu kondisi, namun jangan lupa, bahwa semua yang kita lakukan pasti menghadirkan konsekuensi.
Ok, ojek dan bus kota lewat, mari kita berpindah pada analogi berikut:
Kita sudah
graduate dan segar bugar mencari kerja ke setiap perusahaan. Dari pengalaman orang lain, teman, bisik-bisik tetangga dan semacamnya, kita lalu mematok gaji yang cukup nyaman tuk didapat dan sesuai dengan kapasitas kemampuan kita adalah berkisar antara 2 juta hingga 4 juta rupiah perbulan. Pabila ada tawaran
job dengan gaji 1,75 juta perbulan, kita ragu dan cenderung mengabaikan. Pun bila ada yang menawarkan pekerjaan dengan gaji 5 juta perbulan, kita langsung berfikir:
wow kegedean! Pasti dibutuhkan seseorang yang kapasitasnya melebihi saya! dan akhirnya kita pun merelakan
job itu diembat orang.
Zona nyaman ternyata berada diantara nilai minimal dan maksimal yang kita tentukan sendiri harganya, dan tendensi kita membawa kenyamanan bila apa yang kita dapat berada pada
range tersebut. Bila kurang, kita terancam, dan kalau terlalu lebih, kita jadi tak nyaman. Dan jika dikembangkan, nilai minimal dan maksimal ini tak melulu dalam hal nominal gaji. Bisa berlaku pula pada pemilihan pasangan hidup, kriteria rumah idaman, bahkan hal remeh seperti pemilihan topik postingan di blog.
See?
Jadi...
Dari dua analogi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa - kira-kira - zona nyaman itu adalah zona dimana kita merasa nyaman untuk melakukan sesuatu tanpa ada tekanan. Zona dimana semua urusan terlihat terang benderang, dan kita sangat-sangat terganggu jika suatu saat zona itu terancam oleh hal yang kita anggap 'tidak seharusnya' ada.
Oke, kita telan dulu saja definisi itu, yang kemudian muncul adalah pertanyaan:
baik atau buruk kah kita dengan zona nyaman yang kita miliki sekarang? Versi jawabannya mungkin akan seperti kasus hukum yang belum terselesaikan di Republik ini, alias banyak sekali! Dan semua akan setuju kalau faktor yang teramat penting dalam penentuan jawaban itu adalah faktor psikologis.
Ya, karena baik tidaknya zona nyaman yang kita miliki adalah murni produk alam bawah sadar kita.
Gini, kita kadang tak mampu memberikan gambaran secara visual apa dan bagaimana zona nyaman yang kita miliki,
lha terus
gimana mau menilai itu baik atau buruk? Betul?
Visi Adalah Kunci
Sedikit melebar, kalau saja
Thomas Alva Edison sudah cukup nyaman dengan
gelap-gelapan saat tenggelam di laboratoriumnya, apakah kita akan dapat menikmati indahnya kerlap-kerlip lampu di kota? Jika saja
Wright bersaudara masih nyaman dengan hanya memandangi burung-burung yang berterbangan sambil menghayal tanpa aksi, adakah kita bisa melakukan penerbangan Solo-Kupang yang berjarak sekitar 900 km dengan waktu kurang dari dua jam?
Dan kenapa mereka mau-maunya susah-susah keluar dari zona nyaman hanya tuk menciptakan sesuatu yang belum tentu direalisasikan dengan mudah? Sekedar catatan, Edison melakukan kesalahan sebanyak 9998 kali sebelum akhirnya menemukan konsep lampu pijar, dan Wright bersaudara pun rela diteriakin orang gila! Apa yang menggerakkan mereka?
Satu kata:
visi.
Nah, sekarang, setelah
tau zona nyaman itu apa dan visi itu bagaimana,
iseng-iseng saja kita cocokkan, apakah keduanya sudah
klop dan sejalan, atau berseberangan yang lalu kemudian kita buat itu seolah-olah sejalan? Apakah benar yang kita rasakan nyaman itu adalah juga sesuai dengan kenyamanan dalam visi hidup kita? Dan satu pertanyaan yang menggelitik:
bagaimana jika zona nyaman tak selaras dengan visi yang kita punya?
Katanya Mudah, Tinggal Geser Saja!
Satu artikel menarik yang saya dapat saat
searching referensi, yaitu dari
Supardi Lee, yang katanya...
Satu-satunya cara meraih kemajuan hidup adalah dengan menggeser zona nyaman. Geser batas atas zona nyaman anda ke tingkat yang lebih tinggi, begitu juga dengan batas bawahnya. Misalnya anda pebisnis dengan omset minimal Rp. 1 Milyar dan omset maksimal Rp. 10 Milyar. Bila anda ingin tambah maju, maka langkah pertamanya secara mental anda geser dulu batas-batas zona nyaman tersebut. Misalnya batas atasnya jadi Rp. 20 Milyar (naik 100%) dan batas bawahnya jadi Rp. 10 Milyar (naik 1000%)...
Busyet! Hmm, sebetulnya saya agak silau dengan pemisalan bermilyar-milyar itu :D Tapi kalau direnungkan, perihal geser-menggeser itu ada benarnya juga, yang mana itu secara tidak langsung akan memberi efek psikologis tak nyaman bila kita tidak berada di
range yang telah kita tentukan sendiri. Contoh konkritnya
ya kembali ke analogi gaji tadi, geser saja standar gaji yang membuat kita nyaman di kisaran 3 juta - 6 juta...
Waw, semudah itu kah? :D
Move out of your comfort zone. You can only grow if you are willing to
feel awkward and uncomfortable when you try something new. (Brian Tracy)
Ada yang berani?