November 19, 2010

Menggeser Zona Nyaman Dengan Visi

Apa yang dialami Chelsea akhir-akhir ini, mungkin adalah efek dari ganasnya virus yang bernama zona nyaman. Gile aje, di saat ada kesempatan tuk melebarkan jarak dengan pesaing-pesaingnya, minggu malam kemarin The Blues malah melempem dihajar oleh tim medioker - Sunderland - dengan 3 gol tanpa balas. Sangat kontras dengan apa yang terjadi di fase terakhir Liga Primer musim lalu, dimana Chelsea tengah diburu musuh bebuyutannya, MU, dengan selisih hanya satu poin, The Blues dengan beringas menggasak Wigan Athletic 8-0 sekaligus menasbihkan Chelsea sebagai kampiun Liga Inggris!

Benang merah dari paragraf singkat di atas adalah: sungguh hebat efek dari perasaan tertekan, dan sebaliknya, sangat mengenaskan bila kita terlalu terbuai dengan kenyamanan.

Apa Itu Zona Nyaman?
Sulit menerangkannya, sesulit bagaimana saya sendiri mengenali zona tersebut. Pun di dunia online dan offline sudah banyak motivator dan inspirator yang kerap menyinggung kalimat ini. Jadi saya ngga akan mendefinisikan secara detail, kecuali mungkin mencoba memberikan opini yang mungkin bisa jadi bahan introspeksi saya pribadi maupun sobat Indonesianer.

First, sebelumnya kita menyimak dulu analogi berikut:

Bila kita punya uang 5000 rupiah untuk ongkos pulang, mana yang dipilih: ojek dengan ongkos Rp. 2000,-, angkot Rp. 3500,-, atau bus kota AC dengan tarif Rp. 4800,-?

Mungkin banyak dari kita akan menjawab: tergantung situasi dan kondisi. Yap, sikon sangat mempengaruhi bagaimana kita memilih moda transportasi sekaligus secara tidak langsung membentuk zona nyaman. Di saat tanggal muda, keadaan keuangan membaik, tentu kita tak ragu tuk menaiki bus kota AC. Kita nyaman-nyaman saja meski harus membayar lebih mahal, toh tak ada yang perlu dikuatirkan.

Beda halnya jika situasi keuangan tengah dirundung duka (dramatis banget ya? *hehe*), keluar uang seperak pun kita sangat perhitungan, so, ber-semriwing ria dengan ojek pun jadi pilihan yang rasional. Meski itu tak nyaman, namun kita dengan otomatis memaksa tubuh tuk menyamankan diri.

Berarti zona nyaman tiap orang itu relatif dong? Betul. Dan semua yang bersifat relatif itu tak ubahnya posisi pion-pion catur, bisa digeser kesana-kemari sesuai kebutuhan. Boleh-boleh saja kita mandeg, stagnan dalam satu kondisi, namun jangan lupa, bahwa semua yang kita lakukan pasti menghadirkan konsekuensi.

Ok, ojek dan bus kota lewat, mari kita berpindah pada analogi berikut:

Kita sudah graduate dan segar bugar mencari kerja ke setiap perusahaan. Dari pengalaman orang lain, teman, bisik-bisik tetangga dan semacamnya, kita lalu mematok gaji yang cukup nyaman tuk didapat dan sesuai dengan kapasitas kemampuan kita adalah berkisar antara 2 juta hingga 4 juta rupiah perbulan. Pabila ada tawaran job dengan gaji 1,75 juta perbulan, kita ragu dan cenderung mengabaikan. Pun bila ada yang menawarkan pekerjaan dengan gaji 5 juta perbulan, kita langsung berfikir: wow kegedean! Pasti dibutuhkan seseorang yang kapasitasnya melebihi saya! dan akhirnya kita pun merelakan job itu diembat orang.

Zona nyaman ternyata berada diantara nilai minimal dan maksimal yang kita tentukan sendiri harganya, dan tendensi kita membawa kenyamanan bila apa yang kita dapat berada pada range tersebut. Bila kurang, kita terancam, dan kalau terlalu lebih, kita jadi tak nyaman. Dan jika dikembangkan, nilai minimal dan maksimal ini tak melulu dalam hal nominal gaji. Bisa berlaku pula pada pemilihan pasangan hidup, kriteria rumah idaman, bahkan hal remeh seperti pemilihan topik postingan di blog. See?

Jadi...
Dari dua analogi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa - kira-kira - zona nyaman itu adalah zona dimana kita merasa nyaman untuk melakukan sesuatu tanpa ada tekanan. Zona dimana semua urusan terlihat terang benderang, dan kita sangat-sangat terganggu jika suatu saat zona itu terancam oleh hal yang kita anggap 'tidak seharusnya' ada.

Oke, kita telan dulu saja definisi itu, yang kemudian muncul adalah pertanyaan: baik atau buruk kah kita dengan zona nyaman yang kita miliki sekarang? Versi jawabannya mungkin akan seperti kasus hukum yang belum terselesaikan di Republik ini, alias banyak sekali! Dan semua akan setuju kalau faktor yang teramat penting dalam penentuan jawaban itu adalah faktor psikologis.

Ya, karena baik tidaknya zona nyaman yang kita miliki adalah murni produk alam bawah sadar kita. Gini, kita kadang tak mampu memberikan gambaran secara visual apa dan bagaimana zona nyaman yang kita miliki, lha terus gimana mau menilai itu baik atau buruk? Betul? 

Visi Adalah Kunci
Sedikit melebar, kalau saja Thomas Alva Edison sudah cukup nyaman dengan gelap-gelapan saat tenggelam di laboratoriumnya, apakah kita akan dapat menikmati indahnya kerlap-kerlip lampu di kota? Jika saja Wright bersaudara masih nyaman dengan hanya memandangi burung-burung yang berterbangan sambil menghayal tanpa aksi, adakah kita bisa melakukan penerbangan Solo-Kupang yang berjarak sekitar 900 km dengan waktu kurang dari dua jam?

Dan kenapa mereka mau-maunya susah-susah keluar dari zona nyaman hanya tuk menciptakan sesuatu yang belum tentu direalisasikan dengan mudah? Sekedar catatan, Edison melakukan kesalahan sebanyak 9998 kali sebelum akhirnya menemukan konsep lampu pijar, dan Wright bersaudara pun rela diteriakin orang gila! Apa yang menggerakkan mereka? 

Satu kata: visi.

Nah, sekarang, setelah tau zona nyaman itu apa dan visi itu bagaimana, iseng-iseng saja kita cocokkan, apakah keduanya sudah klop dan sejalan, atau berseberangan yang lalu kemudian kita buat itu seolah-olah sejalan? Apakah benar yang kita rasakan nyaman itu adalah juga sesuai dengan kenyamanan dalam visi hidup kita? Dan satu pertanyaan yang menggelitik: bagaimana jika zona nyaman tak selaras dengan visi yang kita punya?

Katanya Mudah, Tinggal Geser Saja!
Satu artikel menarik yang saya dapat saat searching referensi, yaitu dari Supardi Lee, yang katanya...
Satu-satunya cara meraih kemajuan hidup adalah dengan menggeser zona nyaman. Geser batas atas zona nyaman anda ke tingkat yang lebih tinggi, begitu juga dengan batas bawahnya. Misalnya anda pebisnis dengan omset minimal Rp. 1 Milyar dan omset maksimal Rp. 10 Milyar. Bila anda ingin tambah maju, maka langkah pertamanya secara mental anda geser dulu batas-batas zona nyaman tersebut. Misalnya batas atasnya jadi Rp. 20 Milyar (naik 100%) dan batas bawahnya jadi Rp. 10 Milyar (naik 1000%)...
Busyet! Hmm, sebetulnya saya agak silau dengan pemisalan bermilyar-milyar itu :D Tapi kalau direnungkan, perihal geser-menggeser itu ada benarnya juga, yang mana itu secara tidak langsung akan memberi efek psikologis tak nyaman bila kita tidak berada di range yang telah kita tentukan sendiri. Contoh konkritnya ya kembali ke analogi gaji tadi, geser saja standar gaji yang membuat kita nyaman di kisaran 3 juta - 6 juta...

Waw, semudah itu kah? :D
Move out of your comfort zone. You can only grow if you are willing to
feel awkward and uncomfortable when you try something new. (Brian Tracy)
Ada yang berani?

23 comments:

Ami said...

masalah zona nyaman adalah topik di MLM. untuk sukses harus mau melewatkan zona nyaman. karena dibutuhkan waktu cukup banyak yang diperjuangkan untuk fondasi membuat jaringan.

untuk menggeser zona nyaman, akhirnya belajar untuk menjadi orang yang mau berusaha, tapi mau bersabar tidak putus asa.

bagaimana merubah orang yang putus asa jadi mau berjuang lagi? kayaknya pertama orang yang putus asa mesti percaya pada yang mau ngebantu. soalnya kalo gak percaya... waduh sampe berbusa-busa juga gak ngerti

mensyukuri yang kita miliki mas darin, ada artikel bahwa millionaire terkemuka di dunia lebih suka hidup sederhana. nah lo...

BlOG-SANTAI ♪ ♫ said...

kata orang2, ''jangan takut untuk bermimpi, tapi jangan terbuai oleh mimpi itu sendiri''

Gak bisa komen banyak2 dah :)

andi sakab said...

hmmm... zona aman menurut saya adalah zona yang paling rawan karena biasanya di sini orang suka lupa diri. memang kalo tidak di geser bisa bahaya juga untuk perkembangan diri kita.

Ami said...

sedikit nambahin ya, zona nyaman itu adalah saat kita bersantai-santai, nonton tivi. dengan gaji 3 juta cukup deh, gitu. tapi saat menggeser zona nyaman, nonton tivi dikurangi dan standar kita digeser jadi 30 juta misalnya. tentu saja menggeser zona nyaman butuh visi dan ambisi.

aku membaca buku Yusuf Mansyur bahwa materi saja tidak menjanjikan kebahagiaan. saran beliau, menggeser zona nyaman saat tidur untuk shalat malam di sepertiga malam terakhir itulah yang terbaik. sukses menurut beliau adalah selain kaya hati juga kaya jiwa. kaya jiwa itu mencari kebaikan selain di dunia juga di akhirat. memperbaiki usaha dan do'a supaya lebih baik lagi

bukankah kita setiap hari berdo'a seperti yang nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan. ya Allah, berikan kami kebaikan di dunia, dan berikan kami kebaikan di akhirat, dan hindarkan kami dari api neraka. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina adza bannar

Joko Sutarto said...

Zona Nyaman atau yang sering populer disebut Comfort Zone, di tempat kerja saya kata-kata ini sering disebut untuk mencap orang yang tak berani menghadapi perubahan, tak berani menghadapi tantangan. Contoh, banyak kawan saya yang menolak promosi naik jabatan dan lebih senang dan nyaman tetap di jabatan yang sekarang, padahal dia punya potensi atau kemampuan, namun hanya karena alasan tak mau meninggalkan kota tercintanya, tak mau meninggalkan kelurganya maka banyak yang lebih memilih menolak sebuah kesempatan.

mas-tony said...

kalo kami lagi berfikir bagaimana hidup di zona AMAN mas, hehehe

inge / cyber dreamer said...

berada terlalu lama dalam suatu zona, tanpa disadari zona itu telah menjadi zona nyaman kita... sehingga kadang ketakutan untuk keluar atau bergeser pasti ada... memang tidak mudah untuk keluar dari suatu zona nyaman, tapi kalau memiliki keinginan yang teguh dan mau berusaha maju maka zona nyaman bisa berada dimana saja... karena ketakutan pertama yang tak disadari bukan resiko yang neko-neko kadang hanya karena malas beradaptasi lagi >.<

Bumi Al Fattah said...

Namun demikian, ada satu zona nyaman yg sejatinya kita gak perlu keluar dr zona tersebutb hny untuk mencapai mimpi yg nyatanya nafsu, kata guru saya lho..

ehehehe...

Common Cyber said...

Zona nyaman, jadi ingat waktu sedikit kecipratan di MLM..
^___^

aldy said...

Semua orang berjuang agar sampai pada zona ini, ketika telah sampai, tidak banyak yang mau mengambil resiko untuk beralih kezona lain yang belum tentu nyaman dan itu wajar.
Hanya orang-orang yang haus tantangan atau orang yang sedang terjepit dengan keaadaan yang mau mengubah zona tersebut.

eserzone said...

Untuk menggapai zona nyaman bukanlah merupakan pekerjaan yang gampang karena itu hanya sedikit orang yang berhasil untuk berada di zona nyaman. Semoga suatu saat nanti saya bisa berada dizona nyaman.

iskandaria said...

Saya seringkali terjebak pada zona nyaman ini. Perlu kekuatan luar biasa dan kemauan yang kuat untuk bisa keluar dari zona ini dan mencoba hal-hal baru.

saka hero said...

Mampir mas, sudah lama saya tidak mampir
Rumahnya ternyata sudah dipermak
Komen ah : Unik, simple, ringan :D

padly said...

Sangat-sangat memotivasi... Tapi analogi-analoginya itu lho! semua berhubungan dengan fulus/materi, menjadikan manusia serakah/memuja materi. Mungkin ini salah satu filsafat Gayus Tambunan ya? :P

pendarbintang said...

Nyaman membuat kita terbuai, tertekan membuat kita tak bisa berbuat yang terbaik...

serba salah :roll:

Rizky2009 said...

yup aq setuju sob zona nyaman adalah zona dimana kita merasa nyaman untuk melakukan sesuatu tanpa ada tekanan., seperti halny dulu waktu aq masih kerja di warnet A gaji aq mang mang lebih tinggi dr warnet tempat aq kerja di warnet B, aq memutuskan u/ keluar dr warnet A pindah ke warnet B yang gajinya kurang lebih separonya dr warnet A, kenapa karena aq mersa g nyaman kerja di warnet A

Yuda said...

Salah satu blog saya awalnya hanya sebagai catatan online yang saya tulis sebagai pengingat kalau2 suatu saat saya membutuhkannya lagi. Saya pikir saat itu adalah zona aman dan sekaligus zona nyaman buat saya. Seiring berjalannya waktu, jumlah posting, dan sedikit penerepan SEO (waktu itu hanya uji coba) akhirnya pengunjung pun berdatangan.

Setelah saya renungkan semua posting yang saya publish, ternyata saya merasa berada pada posisi yang kurang tepat hingga saya pikir perlu menggeser topik agar menemukan zona nyaman baru.

Kira-2 benar gak ya pemikiran seperti ini?.

Skydrugz said...

wel...sepertinya saya harus menggeser zona kenyamanan itu :D higher...higher...higher... :D

Kakaakin said...

Mungkin kadang kita terlalu santai, mengira hidup hanya bisa sampai begini2 saja sehingga tak melakukan apapun yang lebih.
Padahal di luar sana banyak hal yang bisa dicapai ya, sedangkan jaman terus berputar.

munir ardi said...

saya juga selalu terjebak dengan hal ini pak dengan gaji saya sekarang sudah bisa hidup sebulan dan ada kelebihan pula untuk ditabung (karena hidup di kota kecil) padahal mungkin saya harus menggeser hal tersebut ke 3 sampai 6 diatas agar tingkat ekonomi juga lebih mapan, cuma nggak berani pak, jadi ya menikmati saja yang sekarang

Erdien said...

Zona nyaman sering kali bikin nggak nyaman :)

Dwi Wahyudi said...

Hehehe... Tulisan mas sangat tepat dengan apa yang saya alami sekarang. Setelah 3 tahun berada didalam zona nyaman, aman, dan sejuk dibalik meja kantor, beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk keluar dari zona tersebut dengan membawa beberapa konsep pemikiran yang akan diterapkan nantinya.

kumpulan resep obat herbal said...

nice gan

Post a Comment