November 12, 2010

Kebenaran Atau Pembenaran?

Sekali lagi, saya mendapat suplemen yang bagus dari free magazine di atas kabin saat perjalanan Kupang-Surabaya kemarin. Kali ini artikel itu dimulai oleh suatu kisah yang kira-kira berbunyi seperti berikut...

Pada suatu hari - kenapa mesti semua cerita dimulai dengan kalimat ini? - ada seorang pemuda dari desa yang terkagum-kagum dengan ramainya suasana kota. Ia tercengang menatapi megahnya gedung-gedung pencakar langit dan geleng-geleng kepala menyaksikan riuhnya kendaraan yang berseliweran. Sampai suatu saat ia mendapati sebuah kerumunan orang yang kelihatannya sedang menonton sesuatu yang menarik. Apaan tuh?

Dengan susah payah ia menyeruak di antara kerumunan dan akhirnya berdiri tepat di jajaran paling depan. Yang didapatinya adalah seseorang berjubah hitam yang tengah berteriak-teriak berjalan berkeliling, melingkari sebuah meja dengan sesuatu yang ganjil di atasnya.

"Saudara-saudara! Ini adalah alat paling mutakhir sedunia! Tak ada yang mampu menandingi kehebatannya!" Lalu ia memandangi penonton di sekelilingnya dengan tajam, dan tatapannya berhenti di mata pemuda desa tadi.

"Hey kamu!" teriaknya seraya mengacungkan jarinya ke arah si pemuda. Merasa bingung, pemuda desa itu celingukan, mencari tahu siapa yang ditunjuk. "Hey, iya kamu! Yang pakai baju belang-belang!" Dengan polos si pemuda melihat kaosnya sendiri, lalu dengan kikuk ia maju ke depan.

Orang berjubah hitam itu menggandeng pemuda ke sisi meja, sehingga tepat menghadap ke benda ganjil tersebut. Pemuda desa memandangi benda aneh yang baru kali ini dilihat seumur hidupnya. Berbentuk seperti tabung yang berdiri miring, ditopang oleh besi-besi dan dibawahnya ada mangkok kecil berisi sekelopak bunga.

"Coba kamu lihat seperti ini!" sahut orang berjubah hitam sambil memperagakan sesuatu. Pemuda desa itu menurut dan meletakkan pandangan di atas tabung. Sedetik pertama ia belum mengerti apa yang dilihatnya, hingga akhirnya ia berteriak kaget. "Luar biasa! Sangat indah sekali!" Ya, ia melihat detail serat-serat bunga yang menakjubkan.

Penonton saling pandang keheranan. Lalu orang berjubah hitam mengganti kelopak bunga dengan sepotong berlian, dan kembali pemuda desa itu berteriak-teriak girang. Begitu pun saat menaruh segelas air, teriakan si pemuda makin menjadi-jadi. "Gila! Hebat! Ini memang alat yang sangat luar biasa!" semburnya.

Dan tanpa waktu lama, si pemuda desa langsung membeli alat itu yang di kemudian hari dinamakan dengan mikroskop.

Sesampainya di rumah, di desanya yang sepi dan permai, ia pun mulai melakukan banyak eksperimen. Banyak benda-benda di sekelilingnya yang ia teliti di bawah alat ajaib itu, dan dari waktu ke waktu ia makin takjub, karena ia dapat melihat kebenaran dari apa-apa yang selama ini ia lihat dengan kasat mata. Sebongkah batu ternyata adalah kumpulan kerikil yang menempel, sejumput rumput ternyata rimbun oleh jutaan helai dedaunan, dan sehelai rambut ternyata diselimuti oleh wol yang amat tebal!

Ia masih tersenyum gembira saat menyantap makanan dengan sambal kesukaannya, yang tiba-tiba menyadarkannya akan suatu hal. Ooh, kalau begitu apa ya kira-kira isi yang sebenarnya dari sambal kesukaan saya ini? Fikirnya. Lalu dengan antusias ia tempatkan sesendok sambal di bawah alat ajaib itu.

Apa yang dilihatnya sungguh di luar dugaan, ada ribuan cacing-cacing kecil menari-nari di dalam sambal itu dan membuatnya kaget terjengkang. Shock!

Belum pernah si pemuda mengalami kebingungan seperti saat ini. Sambal kesukaannya adalah yang terenak, terbaik dan menjadi santapan wajib baginya. Namun semua menjadi sebuah pertanyaan besar karena ternyata oleh alat sialan itu terlihat sebagai kumpulan cacing!

Mana yang benar? Mana yang lebih benar? Setelah terdiam beberapa lama, ia lalu mengambil alat itu, membantingnya ke tanah lalu dan rasa benci yang menyala-nyala, ia hantam dengan sebilah kayu hingga hancur berkeping-keping.

Intisari
Kadang saat kita inginkan sebuah kebenaran, dan ketika kebenaran itu tak sejalan dengan apa yang selama ini kita yakini, maka kita akan melakukan pembenaran dengan mengacuhkan kebenaran, dan bahkan menghancurkannya!

Berapa banyak dari kita terjebak dalam pola yang sama, dengan begitu mudah melakukan pembenaran atas apa-apa yang telah menimpa hidup kita? Dengan menyalahkan situasi, mengurai banyak alasan, dan bahkan menghakimi diri sendiri. Padahal kebenaran sejatinya adalah sebuah kenyataan, tak masalah bila ia dibenarkan atau disalahkan, karena ia akan tetap menjadi sebuah kebenaran. No matter what!

Meski saya sudah mendarat dan berjalan-jalan di gedung terminal, efek psikologis artikel itu masih menggelayut, meminta kejelasan lebih lanjut yang mungkin tak akan saya dapati jawabannya dalam waktu dekat. Sempat juga berfikir: apa pemuda desa itu adalah gambaran dari diri saya seutuhnya?

Bagaimana dengan Anda-anda sekalian?

45 comments:

Ami said...

Mas Darin pernah nonton film Eat, Pray, Love gak? Kata-kata yang terngiang-ngiang di kepala saya, untuk memasuki istana mesti melewati parit dulu. Tapi saya keluar sambil tersenyum karena melihat Bali jadi begitu indahnya, sedangkan Italia tempat kuno yang hampir ambruk, dan India adalah tempat padat penduduk banyak yang miskin.

Kalo membicarakan kebenaran, pembenaran, semua orang punya versi masing-masing. Saya berusaha (sering mengalami kegagalan sebelumnya) untuk menghargai semua usaha menjadi lebih baik. Masalahnya baik itu bisa sangat relatif, apa dalam hal mencari uang, atau mencari jabatan, atau mencari pendidikan, atau juga pengetahuan?

Untuk saya pribadi, kebenaran adalah alasan dari awal kenapa manusia diciptakan. Itu sudah menggelayuti saya dari kecil dan saya menjalani hidup tanpa tahu jawabannya. Nabrak sana, nabrak sini.

Manusia diciptakan adalah salah satunya untuk berpikir. Untuk saling menyayangi sesama manusia itu di antaranya. Bila ada kelompok yang menghalalkan segala cara untuk korupsi, memanfaatkan jabatan, ada kelompok lain yang tidak bisa makan, kita berpikir adilkah dunia ini? Keadilan sejati akan ditunjukkan seseorang setelah hari akhir.

Dan kebenaran akhirnya akan berpulang pada kemampuan manusia untuk memperbaiki diri akan hal kebaikan, bukan melakukan perfect crime.

Saya sendiri juga masih punya banyak pertanyaan yang belum terjawab, tapi saya biarkan saja, saya memilih untuk mensyukuri apa yang saya punyai saat ini.

Semoga efeknya memberi dampak baik untuk menemukan kebenaran yang hakiki untuk mas Darin ya....

Cahya said...

Tidak selalu pada suatu hari, bisa jadi pada suatu malam, tapi karena mayoritas kegiatan manusia di siang hari, maka secara statistik "pada suatu hari" lebih banyak dijumpai (he he...).

Manusia selayaknya dibekali dengan kearifan untuk menerima, dan kecerdasan untuk menyelidiki. Karena banyak hal yang bisa membuat kita cukup syok, bahkan walau itu belum tentu sesuatu yang benar (baca: kabar burung aka twitter :lol:).

"Speak what you think today in hard words and tomorrow speak what tomorrow thinks in hard words again, though it contradict every thing you said today." - Ralph Waldo Emerson.

inge / cyber dreamer said...

menerima apa yang benar ketika itu tak sejalan dengan apa yang kita yakini memang sulit... tapi dengan mengetahui sebuah kebenaran kita tak akan terperosok kedalam sebuah kesalahan, kesalahan yang dibenar-benarkan >.<

Bahauddin Amyasi said...

Salam kangen, Mas Darin. Lama tidak berkunjung.

Persoalan kebenaran ternyata menjadi entitas paling pelik sepanjang sejarah perjalanan manusia. Para filsuf hanya melayang-layang ketika memaparkakan teorinya masing-masing. Satu kebenaran selalu dibatah dengan kebenaran yang lain. Maka muncullah term falsifikasi ilmiah, dimana tesa selalu memunculkan antitesa, dan lahirlah sintesa.

Di zaman Yunani Kuno muncul sekelompok mausia yang menamakan dirinya sebagai kaum Shopis. Mereka menolak kebenaran mampu dikomunikasikan. Lahirlah aliran relativisme (al-'indiyyah) yang menyatakan bahwa kebenaran itu relativ. Klop dengan komen Mbak Ami di atas. Benar bagi anda belum tentu benar bagi saya. Bahkan aliran yang paling ekstrem, yakni nihilisme (al-'inaadiyyah) beranggapan bahwa tak ada kebenaran. Kebenaran hanyalah fantasi kita semata.

Tetapi tulisan Mas Darin di atas, saya pikir tidak sedang membicarakan postulasi kebenaran, melainkan hanya ingin menyuguhkan satu gambaran; bahwa kebenaran ternyata dikonstruk untuk sebeuah kepentingan. Kebenaran hampir tak pernah bebas nilai! Barangkali benar apa yg dikatakan Francois Lyotard, bahwa kebenaran hanyalah permainan bahasa. Dan karena para penguasa adalah pemegang kuasa, maka kebenaran yang hasilkan selalu bersifat memaksa. Itulah yang ingin dibongkar Michael Foucault dengan teori Arkhelogi Pemikiran-nya.

Saya jadi teringat ungkapan Freedrich Nietzsche, sang proklamator kematian Tuhan di Barat itu, bahwa "kebenaran adalah kumpulan hubungan antar manusia yang telah didandani, diatur, dan dicat secara puitis dan retoris. Setelah lama digunakan, kumpulan ini menjadi kokoh, mutlak dan orang-orang diharuskan untuk menaati dan mengikutinya. Kebenaran adalah ilusi karena orang sering lupa asal-usulnya."

Sorry Mas Darin, agak panjang dikit. Hehe..

julie said...

kebenaran pada satu masa belum tentu menjadi kebenaran masa lainnya
kebenaran tergantung ruang dan waktu

hendra thiemailattu said...

saya setuju dengan mbak ami, masalah kebenaran setiap orang selalu mempunyai pandangan yang berbeda. Aku bilang ini benar, tapi kamu bilang itu yang benar. Lalu sebenernya kebenaran itu di ukur pakai apa?
Habiz baca posting maz Darin, aq jadi sadar akan nilai suatu kebenaran. Memang kebenaran itu gag bisa di tukar dengan apapun, karena kenyataan itu sungguh-sungguh nyata.

Yuda said...

Pengetahuan dan ego, ya mungkin itu yang menjadikan pluralisme pandangan. Karena ke-egoannya, beberapa orang tidak bisa menerima kebenaran yang dibuktikan dengan ilmu pengetahuan.

Darin said...

Ami, sangat mencerahkan apa yang telah kamu ungkapkan. Ami menulis tentang kebenaran hakiki dari apa yang dicari manusia dalam hidupnya di dunia ini. Ya, banyak versi dan banyak sekai motif yang dijadikan kebenaran, diantaranya yang Ami sebutkan di atas. Nah, pada satu titik apa2 yang menjadi kebenaran dan kita usahakan selama ini akan menjadi sebuah pertanyaan besar dikala kita dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwasanya itu tidaklah abadi, fana dan ada sesuatu yang lebih kekal, yaitu akhirat.

Disinilah fitrah seorang manusia diuji, apakah tetap menuruti kebenaran yang selama ini dianut, dan bersedia melepas semuanya, atau bisa melakukan sebuah pembenaran. Entah itu dengan kamuflase perbuatan mulia, ibadah2 lahiriah ditonjolkan, atau yang lebih ekstrem, melahirkan aliran baru yang mendukung pembenarannya.

Yup, sampai sekarang saya masih merenungkannya Mi :)

Cahya, kearifan untuk menerima. Opini yang bagus. Secara, ketika kita menghadapi dilema itu, sejatinya kita 'dipanggil' tuk mengeluarkan kebijaksanaan. Dan hanya orang2 yang arif saja yg mungkin bisa menangkap maksudnya, selain itu, ya kembali melakukan pembenaran2.

Good quote from R. W. Emerson :)

Inge, betul sekali. Setidaknya dengan hal itu kita diberi petunjuk, inilah sebuah kebenaran. Dan tetap saja, we all have choices, mau ngga menerimanya? :)

Bahauddin Amyasi, sebuah analisis yang mempesona, bung :) Saya yakin Bung Amyasi akan memoles dengan sejarah, dan kali itu tertuang dengan sangat apik. Jujur, saya dan pengunjung lainnya akan menikmati komentar bung. Great! :D

Dan apa yang diungkapkan Nietzsche mungkin mendekati kenyataan. Ini terlihat dari makin melencengnya alur hidup manusia dari kebenaran yang telah disuguhkan oleh Yang Kuasa. Kebenaran hanyalah bersifat fisik, didandani, dan diatur sedemikian rupa, sehingga hal itu mengendap selama beberapa waktu dan menjadi yang dianggap sebuah kebenaran hakiki.

Tak apa bung Amyasi. Makin panjang makin baik :)

Julie, benarkah? Bila itu menyangkut ilmu pasti, saya setuju. Namun bila dikaitkan dengan sisi religi, saya akan mempertanyakannya. Namun pandangan itu bisa menjadi benar, mengingat sifat manusia yang tak mudah melepas status quo, dan akhirnya melakukan pembenaran dengan alasan ruang dan waktu tadi. Bagaimana? :)

Hendra, ya, saya juga masih memikirkan kalimat yang ditulis Ami di atas. Tak ada yang menjadi alat ukur dari sebuah kebenaran, karena sesungguhnya itu relatif dari setiap individu.

Kang Yuda, ya Kang. Ilmu pengetahuan yang memiliki missing link atas suatu kasus biasanya tak mudah tuk merelakan bahwa itu adalah kekuasaan Yang Kuasa. Sebaliknya, mereka akan sekuat tenaga melahirkan teori-teori baru, eksperimen2 lanjutan sembari berharap ada pembenaran atas teori2 yang dianggap mereka sebagai sebuah kebenaran.

Joko Sutarto said...

Saya tak bisa berkomentar banyak membaca artikel ini. Selain hanya bisa berkata: Benar, jika kita menghadapi sebuah kenyataan yang ternyata berbeda jauh dengan kebenaran yang kita yakini selama ini, prakteknya memang sungguh sulit untuk bisa menerimanya bahwa itu sebagai sebuah kebenaran. Jadi tak salah kalau akhirnya pemuda itu membanting mikroskopnya sampai hancur. Kenyataan tentang adanya cacing dalam sambel yang lezat itu terlalu menyakitkan.

Sebuah penganalogian tentang kebenaran dengan cerita yang sangat menarik, Mas Darin.

Darin said...

Pak Joko, iya Pak, kadang kebenaran itu terasa menyakitkan ya?

andi sakab said...

saya hanya mangap membacanya. engga bisa berkata2 apapun takut salah apalagi komentar2 yang penuh gizi. jadi linglung sendiri ternyata tingkatan saya masih di bawah.

hal serupa kadang di alami oleh setiap orang. banyak yang menyangkal akan kebenaran padahal sudah jelas dan memungkirnya dengan pembenaran. susah memang ckckckck

Darin said...

andi sakab, ngopi dulu aja kang, jangan kebanyakan mangap hehehe

genksukasuka said...

kunjungan malam

Ami said...

Mas Darin, Mas Andi, kapan2 gelar tiker beneran ya, kalo kebenaran semua bisa. Kalo ada yang kebenaran gak bisa, jangan bikin alasan pembenaran. Soalnya nyari waktu yang kebenaran semua bisa itu gak gampang... :)

eserzone said...

pembahasan yang menarik bro. Saya setuju dengan anda, terkadang kita melakukan pembenaran untuk berbagai hal yang belum pasti kebenarannya.

ArdianZzZ said...

Wah, saya benci cacing... :(

iskandaria said...

Intinya, jadilah realistis dan berusaha untuk menerima suatu keadaan seperti apa adanya. Jangan berusaha memberi label atau menilai secara parsial. Halah, jadi rada filosofis akhirnya :)

Imtikhan said...

salam sahabat
berkunjung mo ikutan baca-baca artikelnya n sekalian izin follow jika berkenan follow balik ya
terima kasih

Tip Trik Blogger said...

postingan yang bagus kawan

Nadia said...

kalau pembenaran mungkin agak agak maksa kali ya?

pendarbintang said...

Saya membacanya tercengang dan merasa berpijak lagi ke bumi...

Jujur, terkadang saya mencari sebuh pembenaran namun di saat saya menemukan kebenaran itu saya menolaknya hanya karena saya melihat kebenaran itu bertolak belakang dengan pemikiran saya dan saya terlampau berpihak padanya, hingga akhirnya melakukan pembenaran, seperti "kalau begini gpp, lah, kan begini"tercipta alasan2 untuk membenarkan penolakan terhadap kebenaran yang sesungguhnya saya cari.

Terkadang kebenaran itu memang bukan yang kita ingin dan menyakiti, tapi mengikuti kebenaran tetap dibenarkan....

salam..

Padly Rahman said...

Kalau menurutku, kebenaran adalah sesuatu yang mutlak datang dari langit untuk menuntun manusia menuju kesempurnaan diri melalui para mandatoris (Nabi)-Nya.

Tapi kalau untuk pembenaran, huh... Sangat2 diliputi dengan berbagai kepentingan. Seperti cerita di atas, kalau sesuai dengan keinginannya... dibenarkan (Pembenaran), tapi kalau tidak sesuai keinginan...

Intinya... Di zaman sekarang, jangan jadi sekuleris kalau ingin hidup dalam kebenaran <3

aldy said...

Sebuah kebenaran karena sebelumnya sudah dilakukan pembenaran atau ada sebuah kesepakatan bahwa yang kita lakukan adalah benar. IMO.

sangpenjelajahmalam said...

Memang benar kadang kita mencari pembenaran sendiri atas semua yang kita lakukan

lyna riyanto said...

jika kebenaran dipertanyakan.
bagi saya hanya satu
kembali kepada Allah saja

tentang sikap manusia yang seringkali mencari pembenaran
saya pikir sah saja Mas
itu adalah kodrat manusia, yang diberikan akal budi oleh Allah
digunakan untuk berpikir
asal saja pembenaran itu tidak untuk hal2 yang secara umum dipahami sebagai kesalahan.

ph-internet said...

Kebenaran yang tidak sejalan kadang membawa manfaat, aku terkesima dengan artikel di atas, tah...kita sekarang belajar menyikapi saja tentang kebenaran.
Btw, link udah ga loncat lagi halaman depan..mantap..

iskandaria said...

OOT dulu ya mas Darin.

Saran saja untuk desain latar yang pake gambar kayak sekarang. Sebaiknya menggunakan efek watermark, agar ketika halaman discroll, gambar latar tidak ikut tergulung (tetap pada posisinya). Jika ikut tergulung agak mengganggu saja.

Caranya, tambahkan saja kode CSS berupa background attachment:fixed pada kode latar. Lebih jelasnya bisa dibaca pada posting blog saya yang membahas tentang efek watermark pada latar blog.

Padly said...

@Iskandaria
Jadikan position pixed kan bisa :P

Common Cyber said...

Kunjungan perdana di sini.
Semoga saya dan penulis tidak termasuk dalam golongan orang yang dengan suka hati melakukan pembenaran, padahal kebenarn jelas sudah muncul di hadap mata.

Oh ya, perkenalkan saya blog baru.
Jikaada waktu singgahlah sejenak.

Commoncyber.net – Computer, Monetize, and Cyber Wolrd
Situs Online Dua Bahasa.

asya said...

kebenaran adalah sesuatu yang harus diterima walaupun itu menyakitkan... kebenaran adalah keadaan yang tak mampu kita ubah dan itulah yang terbaik untuk kita. namun kadang ego kita menentangnya... maka pada saat itulah kita menciptakan pembenaran yang pada akhirnya bisa lebih menyakitkan lagi

Rismanto said...

itulah...kadang manusia terbelenggu dengan kebenarannya sendiri. padahal kebenaran menurut penilaian manusia itu tidak ada yang hakiki. terlalu banyak bias dari akal dan nafsu yang membuat penilaian kebenaran itu jadi terdistorsi...

Darin said...

iskandaria, trims atas advice-nya :D

Djangan Pakies said...

Assalamu'alaikum Kang Darin,
sebenarnya kemarin saya mampir ke sini namun karena jaringan lemot jadi ndak bisa komentar. Mungkin perlu dipikirkan untuk menambahkan komentar klasik, biar yang pake hape mudah masuk ke komentar (oot)
...
Kebenaran layaknya selalu dalam lingkaran thawaf, sebagaimana bumi dan tatasurya beredar pada garis yang telah ada. Ketika kebenaran telah berjalan di luar garis yang seharusnya, maka akan ada banyak efek berantai.
Ada banyak dari insan yang selalu berusaha membuat garis edar baru atas kebenaran yang ada. yang dilakukan adalah dengan membuat pembenaran yang tentunya tidak sesuai dengan yang shrusnya.
Maka kebenaran akan tetap seperti edarnya walaupun pembenaran bertubi-tubi dilakukan. dan pada akhirnya semua akan berakhir kembali pada yang menciptakan kebenaran hakiki. di situlah setiap jiwa mempertanggungjawabkan atas kebenaran ataupun pembenaran yang telah dilakukan.

Maaf kang kalo komentarnya muter-muter kayak kereta api odong-odong

Agus Siswoyo said...

Nggak selamanya wong ndeso itu katrok dan ketinggalan jaman. Justru kearifan lokal menjadi demikian langka ditemukan di tengah kemajuan jaman.

dedekusn said...

Setuju Kang Darin, Kebenaran hakiki pada dasarnya hanya milik Allah, walau tak selamanya manusia kadang tidak bisa membedakan kebenaran & pembenaran. Manusia seringkali terjebak pada pembenaran bukan kebenaran.
Salam hangat & Piss

mengeluh said...

kadang manusia utk mencari pembenaran sampe rela menjatuhkan harga dirinya.

hehehe.... *bingung ngemeng apa

Fadly Muin said...

harus di akui, terkadang, kita, tentu tanpa terkecuali saya. melakukan pengecualian terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. walau hal itu adalah kebenaran.

mas-tony said...

bisa jadi rasa egoisme yang tinggi pada diri kita masing-masing menutupi sebuah fakta kebenaran yang akhirnya hanya lahir pembenaran (semu) dan dipaksakan

Laston M Lumbanraja said...

pembenaran?? i hate this hehe.. mencari pembenaran, berarti bersalah

Hendriawanz said...

Saya yakin diskusi tentang kebenaran akan terus, berlanjut. Andaipun manusia merasa belum mendapat jawaban memuaskan, saya juga yakin manusia telah mendapat kemajuan dalam memahami sesuatu.

Edwin's Personal Blog said...

sebuah kisah di sebuah majalah untuk membunuh waktu ternyata bisa mengalirkan diskusi2 yang luar biasa ini..

ica puspita said...

saya jadi mual saat membaca paragraf sambal. kebenaran yang hakiki hanya Tuhan yang tahu..

salam,
ica

John Terro said...

dalem banget mas ... gila, aku ga pernah nyadar kalo endingnya adalah sebuah pertanyaan yang menusuk otakku ...

memang itulah yang sering terjadi pada diriku ... aku tahu itu salah, tapi aku masih melakukannya :-)

inilah manusia

Gak Kuliah Gak Kiamat said...

kebenaran kadang menyakitkan....

nice posting
salam kenal...

Jual Pulsa Online said...

terima kasih gan infonya menarik sekali :)

Post a Comment