Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

June 25, 2010

My Stupid Boss: Novel (Gratisan) Tergokil Yang Pernah Saya Lempar!

Entah ini namanya keberuntungan, rejeki nomplok atau mungkin salah sasaran, saya dianugerahi sebuah novel dari Mbak Fanny, lewat satu kontesnya di blog Sang Cerpenis Bercerita. Dalam kontes yang dihelat dalam rangka memperingati postingan ke-1000 tersebut, ada 10 novel yang diperebutkan secara gratis dan - lagi-lagi - entah kenapa saya request novel yang berjudul My Stupid Boss sebagai hadiah jika review saya terpilih. And fortunately, I made it! :D

June 23, 2010

Book Review: Breaking Your Mental Block (2)

Halo Indonesianers! Salam berjumpa kembali dengan saya, sang blogger yang hampir murtad diterjang kemalasan, distractions dan kawan-kawannya! :D

Ok, langsung saja…

Melanjutkan postingan kemarin – yang hampir lumutan - tentang review buku Breaking Your Mental Block, saya buka dengan satu cerita fiksi dari buku ini, yang menurut saya mantap tuk disimak :)

Alkisah, ada seorang kakek yang tinggal dengan cucu-cucunya yang nakal. Pada suatu hari di siang bolong, karena kecapaian yang menghampirinya, sang kakek terlelap tidur di sebuah dipan favoritnya di dapur. Oleh para cucunya yang melihat kakeknya yang tertidur pulas, timbul niat tuk mengerjai. Diambillah kotoran ayam di dekat mereka.

May 26, 2010

Book Review: Breaking Your Mental Block (1)

Di sela-sela kesibukan yang membuat saya mengeluh di postingan terdahulu, saya menyempatkan diri tuk menambah gizi isi otak ini dengan membaca. Dan sasaran saya kali ini adalah sebuah buku yang berjudul Breaking Your Mental Block.

Buku ini saya temukan dengan cara sambil lalu, accidental dan tanpa perencanaan sebelumnya. Karena kebetulan, saat saya hunting makan sore di warung bakso Solo, di sebelah warung tengah digelar semacam acara bazaar. Di situ, di lapangan luas depan sebuah SD, tumpah ruah para muda mudi Kupang. Ada yang menikmati tampilan musik band, melongok stand-stand penjualan atau hanya sekedar mengisi waktu luang. Nah, diantara stand-stand penjualan yang tersebar, ada stand salah satu toko buku ternama yang menyediakan gerai buku-buku discount. Dan tanpa fikir panjang, setelah puas menyantap bakso Solo ala Kupang, saya sempatkan tuk mengunjungi gerai tersebut dan jadilah buku ini menemani waktu senggang disaat stres melanda :)

May 10, 2010

Sudahkah Anda Gugling Hari Ini?

Kalau ngomongin masalah surfing, pasti ngga jauh dari google. Sampai-sampai kalau ada orang yang nanya sesuatu ke saya, langsung saya tanya balik: udah tanya google belum? googling dulu dong! :D Yup, pameo itu bukan tanpa alasan, siapa sih yang ngga kenal google?

Nah, berhubung surfing bukan melulu researching, yang mungkin bila diprosentase yah cuma 30 persen, sisanya bisa dibilang just having fun. Jadi, sementara google lewat, aktivitas online banyak digantikan oleh aktivitas update status facebook, nge-tweet, blogwalking, atau baca-baca berita yang sedang hot. Well, untuk urusan berita-berita yang terakhir ini, ada situs baru lho yang mendadak jadi favorit. Yup, gugling.com.

April 26, 2010

Book Review: 7 Langkah Mudah Mencari Uang Lewat Blog

Buku ini sebenarnya sudah menjadi incaran saya sejak sebulan terakhir. Tadinya ngarep banget dapet secara gratisan lewat jadi top komentator di blognya Bung Eko (bungeko.com). Tapi berhubung otak dah kadung gatel, akhirnya di malam minggu kemarin yang tumben cerah, jadilah kaki ini mengantar saya ke salah satu toko buku ternama yang hanya berjarak seseberangan jalan dari rumah.

Hupla, ternyata gampang sekali menemukan buku yang berjudul 7 Langkah Mudah Mencari Uang Lewat Blog ini. Ia sudah tergeletak pasrah bersama puluhan buku bertema sejenis di rak berkategori internet. Beruntung, karena cover-nya yang terkesan ala chicklit (meriah abis men!), buku itu seperti menari-nari memantulkan keceriaan tersendiri. Ah, apa perasaan saya saja ya, karena begitu mengidam-idamkan buku tersebut? *hehe*

April 24, 2010

Novel Gratis Dari Sang Cerpenis? Sadis Abis!

Hari ini, saat saya mendarat di blognya Pak Amriawan, ada postingan yang asyik tuk disimak, judulnya Hibah Novel Menyambut Postingan ke 1000. Mungkin saya seperti sobat lainnya, akan langsung tertarik dan menganggap dengan fikiran: wah, ini ajang bagi-bagi novel gratisan nih :D Betul, saya juga tadinya begitu, tapi ngga lama. Pas baca alinea pertama, semua berangsur-angsur pudar… Lha koq membahas blog lain?

Yup. Ternyata Pak Amri tengah me-review salah satu blog, dan itu dijadikan ajang sebuah kontes, yang hadiahnya apa lagi kalau bukan bagi-bagi novel. Waw. Review blog dapet novel gratis? Hidung saya langsung kembang kempis, mencium adanya jutaan ide yang datang berseliweran. Dan saat itu saya langsung berikrar: ok, saya ikutan! :D

Bentar, review blog siapa? Blognya Mbak Fanny, sodara-sodara. Jujur, berhubung saya baru eksis ngeblog kembali di awal tahun ini, jadi mungkin analisis saya nanti ngga setajam sobat yang sudah mengenalnya sejak lama. Tapi ngga apa-apa deh. Saya yakin, persahabatan itu ngga melulu diukur oleh kuantitas, tapi juga kualitas kan? :) Lagian, kayaknya mbak Fanny satu selera dengan saya yang demen baca buku plus doyan strawberry *hehe*.

March 23, 2010

Lessons From Balinese Fun Factories: Keboo and Itik

Humor adalah humor. Apakah itu bersifat slapstick, deadpan ataupun tongue in cheek..- waduh, sory ajaib-ajaib istilahnya - tetap disebut humor, sesuatu yang bisa memancing hormon endorphine keluar dari sarangnya. Hormon ini lah yang bertanggungjawab kenapa kita bisa ketawa terkencing-kencing, ngakak garing, ataupun cuma senyum-senyum seperti orang salting.

Dan menulis humor bukanlah perkara mudah. Saya sendiri bisa dibilang not a right profile untuk melakukan hal tersebut. Sumpah, sepertinya lebih mudah membuat orang marah, terhasut, terharu dan termehek-mehek ketimbang mencipta suasana yang klop untuk bisa bebas tertawa. Lebih gampang tentunya menggiring pembaca ke dalam situasi melankolis dan mengerutkan dahi daripada njelimet memikirkan: gimana ya caranya biar yang mbaca ini ngakak dan terus-terusan diingat hingga tujuh turunan? Right?

March 21, 2010

Book Review: Seni Berbicara (Think on Your Feet)

Kedengarannya aneh. Saya sama sekali ngga berlatar belakang bisnis, dan mungkin saya termasuk dalam barisan kebanyakan tipikal manusia Indonesia sejak zaman dulu kala: alergi bisnis. Bukan tanpa alasan. Karena dari sekian banyak faktor yang menentukan kesuksesan suatu bisnis, ada satu faktor yang masih bikin bulu kuduk saya merinding: berbicara di depan umum!

Ekstrimnya, bila saya dihadapkan pada situasi dimana saya diharuskan berbicara sepatah dua patah kata di depan umum, ada 2 pilihan yang langsung terlintas:

Satu, lari terbirit-birit.
Dua, lari terkencing-kencing.

Ok, mungkin agak terlalu klise. Tapi juga ngga 100 persen salah.

March 10, 2010

Book Review: Menulis Itu Genius

Buku ini sebenarnya satu paket dengan apa yang saya beli waktu itu. Berhubung waktu luang yang kian sedikit, baru beberapa hari ke belakang ini saya menyicil membacanya. Kembali flashback ke malam itu, apa yang mendasari saya memilih buku ini? Pertama lewat sampulnya yang merah menyala, seakan menantang saya dan terlihat cool di antara buku-buku lainnya. Kedua, setelah saya timang, di sampul depannya ada sebuah pesan berbentuk matahari yang isinya: Anda mengalami jalan buntu dalam menulis? Baca buku ini! Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat saya menyerah, sekaligus membawanya ikut serta di tas jinjingan :)

February 28, 2010

Book Review: I Am A Writer

Langit di atas kota Solo mendung-mendung tipis saat saya diajak paman saya ke salah satu toko buku ternama di suatu mall yang jaraknya hanya seseberangan jalan dari rumah. Tadinya saya sedikit malas, toh masih bisa besok kan? Namun karena ada ga enak, ya saya ikut juga. Dan benar, ajaibnya, rasa itu perlahan pudar seiring makin jernihnya mata ini melihat puluhan salesgirl berlalu lalang (dasar lu! :D).

Singkat kata, karena saya sedang intens meminati bidang tulis menulis, saya ambil buku yang judulnya I am a Writer karangan Andrea Tejokusumo. Kalau ditanya alasan memilih buku itu, ya selain sampulnya yang menarik, tebalnya juga layak lah untuk dicemil dalam waktu semalam. Maklum, lagi malas ngapa-ngapain weekend ini :)

The Author
Andrea Tejokusumo tercatat sebagai alumnus London College of Communication (LCC) jurusan ilmu jurnalistik. Selama tiga tahun masa kuliah di sana, ia sempat menjadi editor koran kampus, dilanjutkan dengan beberapa kesempatan magang di stasiun radio dan website amal untuk anak muda. Ia mulai menulis fiksi sejak usia 11 tahun, dan mengaku walau tak ada satupun ceritanya yang pernah selesai, pengalaman itu memperkenalkannya akan kenikmatan menulis hingga memutuskan untuk menimba ilmu di Inggris. Saya tergelitik dengan alasannya untuk mulai menulis. Ia dengan polos mengatakan: pertama-tama mulai menulis sebenarnya karena ingin menyalurkan imajinasi masa kecil yang cenderung berlebihan :D

Content
Dari sampul bukunya (yang terkesan chick lit), sebenarnya saya mengharapkan isi yang lebih renyah dibaca. Namun dugaan saya meleset, ternyata selain renyah, isinya juga lebih berbobot dan membuka wawasan saya jauh dari yang saya kira. Mungkin karena selain ilmu menulis, di buku ini juga seolah Andrea membeberkan biografi singkatnya, yang berupa pengalaman pribadi semasa kuliah, karir, juga opininya mengenai dunia tulis menulis. Ini yang menurut saya memiliki nilai lebih dan membuat saya betah nyemil hingga tak bisa berhenti sampai mentok halaman terakhir.

Di awal-awal halaman, buku ini langsung memikat saya dengan kalimat:
Amat sulit rasanya untuk membayangkan dunia ini tanpa kata-kata. Perkembangan peradaban manusia selama beribu-ribu tahun telah memberikan makna pada bahasa dan kata-kata yang dulunya hanya memiliki makna simbolis..
Selanjutnya dengan urutan yang sistematis - cenderung berpola mengerucut - tiap bab dalam buku mengulas pengertian, alasan, tools dan ekspektasi untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup (way of life). Menarik. Apalagi saat ia menanyakan mengapa kita menulis?
Apakah karena kamu banyak memiliki ide-ide brilian yang ingin dituangkan?
Apakah karena kamu suka bermain dan memanipulasi kata-kata?
Apakah kamu melihat bahwa menulis sebagai mata pencaharian yang menjanjikan?
Atau sebagai sarana untuk menjadi beken? :D
Kalau saya - sambil tertawa - mungkin memilih yang terakhir! :D

Yang membuat saya terkejut, sekaligus tercenung, ternyata kepribadian juga berpengaruh lho dalam menentukan jalan karir menulis seseorang.
Mereka yang stylish dan supel dalam bergaul akan merasa lebih cocok dengan pekerjaan menulis berlatar belakang kreatif seperti copywriter atau di media yang berbau lifestyle. Mereka yang peka secara emosi lebih bisa menyalurkan perasaan saat menulis sesuatu yang bertema sosial atau human interest, sementara mereka yang analitik berkemampuan menjadi analis atau kritikus yang obyektif.
Ada benarnya. Tapi kemudian di akhir bahasan, Andrea menengahi pergulatan antara kepribadian dan proses menulis ini dengan:
Atau mungkin, bisa jadi kepribadian kita yang malah berubah mengikuti kebiasaan menulis yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, dan membuat pilihan kita menjadi lebih luas dari sebelumnya!
Saya cenderung setuju dengan yang terakhir, karena sudah setua ini pun saya masih belum tahu pasti jenis kepribadian saya gimana :)

Thus, pengalaman-pengalaman menariknya selama kuliah dijadikan selipan di tiap bab buku. Saya rasa ini sebagai penyegar suasana, namun tetap memberi inspirasi. Yang paling mengena adalah saat pengalamannya mengalami pencerahan. Dimana di salah satu punggung buku Seandainya Saya Wartawan, semacam buku how to yang beredar di kalangan internal redaksi Tempo, Goenawan Mohamad menuliskan sebuah kisah:
Pelukis S. Soedjojono suatu hari ditanya tentang teori yang dipakainya dalam melukis. Ia menjawab dengan suaranya yang agak parau, "Apa saudara tahu ada teorinya orang naik sepeda?"
Well. Jujur, saya langsung menandai halaman itu dan menebalkan tulisannya dengan stabilo!

Last Thought
Setelah membaca buku ini, wawasan saya tentang dunia tulis menulis sedikit demi sedikit terungkap. Yang tadinya brutal dan terkesan sekenanya, saya jadi memiliki kekuatan ekstra untuk berusaha lebih baik dalam merangkai tulisan. Ya setidaknya sih bagus untuk dibaca sendiri :) Karena saya sadar, tulisan bisa membuat kita dikenang, walau kita telah tiada nantinya...weh, koq jadi dalem gini sih hehe..

So, happy weekend, happy writing and happy blogging sobat!


February 16, 2010

Saatnya Review!

Tak terasa seminggu lebih sudah saya nyemplung kembali ke blogosphere Indonesia. Sebelumnya saya mohon maaf pada sobat-sobat blogger yang dulu pernah terjalin kontak, karena berbagai hal (yang ga penting banget saya uraikan) saya tinggalkan sejenak. Sempat saya telusuri lagi keberadaan mereka, dan diantaranya ada yang masih konsisten seperti sobat Didiet, Blogger-Holic, dan Jmw, yang tetap keukeuh dengan sharing ilmu mereka tentang tips dan teknologi. Salut untuk kalian, guys. Ada juga yang tengah mengalami hiatus, belum update-update juga, ya mungkin senasib dengan saya, mencari sesuap nasi di dunia offline :) Pesan saya, segeralah kembali ke jalan yang benar sob..hehe just kidding.

Dan seminggu ini saya terasa reborn, terlahir kembali. Dengan semangat baru, template baru, kenalan dengan sobat-sobat baru yang wow, luar biasa. Juga ada hal yang ikut-ikutan jadi terasa baru, yaitu gaya menulis saya. Memang betul apa kata seorang penulis, bahwa menulis itu seperti talent yang harus terus menerus diasah. Sekali berhenti, kita akan kesulitan untuk menemukan kembali form yang pernah melekat. Yah, saya terima itu dengan dada selapang lapangan bola, sekaligus menerima tantangan tuk kembali menemukan form saya. Mudah-mudahan ketemu, kalo ga ya menemukan style baru kali :)

Ok, apaan yang di atas tadi? Aih, saya sudah kebanyakan omong ya :D Saatnya review!

Blog pertama yang akan saya review adalah blog sobat faicong. Ia menulis dengan topik general berbau religius. Dengan gaya bahasa yang enak dicerna namun penuh makna, seperti: sebentar sob, sudahkah sampeyan istighfar hari ini?, atau: hayo, masih pada hafal doa sebelum makan? Terdengar biasa, tapi bagi saya memberi efek pencerahan yang luar biasa. Kalau saya boleh bandingkan, ia seperti almarhum Gus Dur versi blogger muda :) Gaya santai, tapi menohok. Mantap.


Yang kedua adalah blog sobat Gus Ikhwan. Entah, saya seperti sudah kenal lama dengan sohib yang satu ini. Membaca blognya yang teduh, saya serasa dicekoki ilmu tanpa sadar. Gaya tulisannya lancar dan sopan, membuat saya betah berlama-lama nangkring disana. Dan seperti pepatah (versi wong cerbon): bari nangkring nyulut udud, saya banyak nimba ilmu dari Gus asal Temanggung ini. Semoga cita-citamu menjadi webmaster tercapai, Gus! Top.


Yang ketiga giliran blog dari sobat Henny Mulyono, seorang ibu yang menulis blog ber-slogan-kan: Berbagi untuk belajar, persahabatan dan keindahan. Ibu asal Balikpapan ini kerap menulis tentang tips-tips keluarga, seperti kuliner, pengalaman keseharian, juga artikel-artikel yang informatif. Dari beliau saya belajar banyak tentang gaya menulisnya yang santun, ter-plot, dan inspiratif. Salut, Bu :)


Cukup tiga blog dulu yang saya review untuk minggu. Saya ingatkan diri saya sendiri untuk me-review setidaknya tiga blog dalam seminggu, mudah-mudahan bisa lebih. Bukan hanya sebagai sarana mempererat persahabatan, namun ini juga sebagai salah satu challenger tool saya untuk terus konsisten ngeblog.

Blog sobat ingin di-review? Gampang. Sering-sering aja berkunjung kesini, otomatis saya akan sering berkunjung ke blog sobat, dan dengan itu saya akan lebih mengenal sobat :)

Have a nice blogwalking! :)