Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

October 14, 2010

Book Review: Bangkitnya Rusia

Penyakit lama saya, yaitu asal embat saat hunting buku, kembali kambuh sodara-sodara. Dan yang jadi korbannya saat ini adalah salah satu buku keluaran Penerbit Buku Kompas berjudul Bangkitnya Rusia – Peran Putin dan Eks KGB.


Sebetulnya agak aneh juga saya memilih buku ini, mengingat topiknya yang aduhai dan mungkin bisa membuat kerutan kening bakal bertambah beberapa milimeter. Namun apa daya, mata ini langsung jatuh cinta saat memandangi sampulnya, Kremlin Palace, men! :D

The Author
Simon Saragih – sepertinya pernah denger? – adalah seorang wartawan senior Harian Kompas, dengan pengalaman jurnalistik yang luas di bidang ekonomi dan internasional. Penulis menyelesaikan MBA pada Nanyang Technological University Singapore dan Massachussets Institue of Technology, Boston, AS (2001-2002). Beliau menjabat sebagai Editor Desk Ekonomi 1998-2001, dan Wakil Editor Desk Internasional 2003-2008. Ooh..

Content
Sekilas bila menengok susunan daftar isi, buku ini menawarkan essai dengan topik tertentu di tiap bab yang berjumlah 11 bab, dan tersusun secara kronologis.

Menyimak deskripsi singkat di sampul belakang:
Lebih dari setengah abad Uni Soviet terpuruk. Dikenal sebagai rezim yang brutal, kejam dan tidak menghargai hak asasi manusia. Setelah Uni Soviet runtuh, Rusia berusaha membangun ekonomi yang berantakan karena perlombaan senjata dengan AS dan Blok Barat. Namun krisis ekonomi Rusia malah semakin parah, kemiskinan meningkat, korupsi merebak dan organisasi kriminal pun bermunculan.
Kalau saya, yang terbersit di fikiran ketika mendengar kata Rusia atau Uni Soviet cuma ada tiga hal: komunis, nuklir dan Gorbachev, presiden yang berciri khas tatto pulau di kepalanya. Nah, lalu kenapa di sub judulnya tertulis: Peran Putin dan Eks KGB?
Di bawah komando Vladimir Putin, mereka bergerak. Rusia bertindak langsung tanpa peran negara lain atau tanpa harus mengemis pada negara lain. Beberapa oligarki yang kaya mendadak di saat era reformasi atau transisi perekonomian, disikat oleh Putin. Kremlin juga kembali menasionalisasi aset negara yang sangat berharga yang sempat dikuasai swasta.
Putin yang mana sih?

Siapa Vladimir Putin?
Diceritakan dalam buku ini, terlahir dengan nama Vladimir Vladimirovich Putin di Leningrad tertanggal 7 Oktober 1952, ia mendapat gelar sarjana bidang ilmu hukum di Universitas Leningrad. Selepas itu Putin tak sempat memiliki profesi sebagai praktisi hukum karena langsung bergabung dengan KGB (Komitet Gosudarstvennoy Bezospasnoti/Komite Kemanan Negara), yaitu salah satu agen intelijen yang paling disegani di dunia.


Tak dinyana, pengalaman bekerja di KGB itu kemudian benar-benar membawa Putin ke puncak kekuasaan Rusia dalam usia yang relatif muda, yakni 47 tahun! Ia adalah presiden kedua Rusia setelah Boris Yeltsin, yang secara resmi dijabatnya sejak 7 Mei 2000.
Sejak Putin menjadi presiden, Rusia memperlihatkan ingin tampil sebagai negara yang kuat, ingin memiliki eksistensi bukan saja di dalam negeri, tetapi di luar negeri. Rusia tidak saja berhasil, setidaknya hingga sejauh ini, mengambil kembali kekayaan negara dari perusahaan swasta. Rusia juga ingin memperkuat hegemoni di kawasan, setidaknya di beberapa negara eks Uni Soviet.
Dan sepak terjang Putin dimulai dari kacaunya perekonomian dunia akibat krisis moneter yang menghantam perbankan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dimana saat itu Boris Yeltsin, presiden pertama Rusia, masih berkuasa…

IMF: Penyelamat Atau Penghancur?
Pada awal dekade 1990-an, dunia belum memahami betul keburukan dari apa yang dinamakan Konsensus Washington. Ini merujuk pada pemikiran Gedung Putih yang mempromosikan sistem perekonomian pasar. Sistem tersebut antara lain dipromosikan lewat Dana Moneter Internasional (IMF). Pada umumnya sistem perekonomian pasar, memang terbukti secara empiris memakmurkan berbagai negara.
Hmm.. ya, kita semua tahu, Indonesia juga berada di barisan terdepan kalo masalah ngemis bantuan semacam ini. Namun yang baru saya tahu, ternyata apa yang dilakukan IMF itu tak dapat dipukul rata dapat diterapkan di semua negara.


Opini ini terkuak dengan jelas di buku ini, lewat pemaparan seorang ekonom tersohor yang juga peraih Nobel Ekonomi tahun 2001, Joseph Stiglitz.

Stiglitz menguraikan, akar resesi Rusia yang mencapai klimaks pada tahun 1998 adalah bukti keterlibatan IMF yang secara serampangan memaksakan reformasi ekonomi Rusia tuk ditempatkan di jalur cepat. Padahal, perubahan sistem ekonomi dari sitem terencana menuju mekanisme pasar membutuhkan waktu lama dan bertahap.
Sebagaimana yang telah ia tulis di bukunya Globalisation and Its Discontent, Stiglitz, menyatakan bahwa IMF itu arogan dan tidak mau mendengar opini negara berkembang yang justru ingin ditolong. IMF adalah lembaga yang menjauhkan diri dari sistem yang demokratis. IMF memberi resep yang justru makin menghancurkan negara, dengan secara perlahan membuat negara itu menuju resesi dan resesi itu menuju depresi.
Wah, agak pusing juga saya mengikuti alur cerita yang berbau ekonomi banget. Inflasi, deregulasi, hingga skandal Fimaco yang melibatkan kroni Yeltsin dan IMF, menghiasi lanjutan skenario rentetan sejarah ekonomi Rusia di buku ini, yang berbuntut pada menguatnya opini tentang keterlibatan Amerika Serikat dalam kehancuran Rusia. What?

Semua Berakar Pada Satu Kata: Konspirasi
Adalah Anne Wiliamson, seorang wartawan kawakan yang membeberkan permainan peran Washington dalam penghancuran ekonomi Rusia lewat iming-iming kucuran dana IMF.
Rusia, saat Yeltsin berkuasa, telah menjalankan bisnis yang korup dengan bantuan George W. Bush dan terutama di bawah pemerintahan Bill Clinton dalam kolaborasinya dengan para bankir di Wall Street. Ini juga didukung oleh orang-orang rakus di Departemen Keuangan AS, Harvard Institue for International Development, dan manipulator dari lembaga bergengsi Nordex, IMF, Bank Dunia dan Bank Sentral AS (Federal Reserve).
Tak heran jika bukunya yang berjudul Contagion: The Betrayal of Liberty, Russia, and the United States in the 1990s sempat dilarang beredar, mengingat Williamson secara blak-blakan menyebutkan nama-nama yang terlibat di dalam lingkaran konspirasi ini.


Bagai efek bola salju, polemik ini makin membesar dan menjadi pemberitaan umum di media. Seperti yang ditulis oleh Harian paling berpengaruh di Rusia, Nezavisimaya Gazeta:
AS memang tidak berniat menolong, bahkan ingin menenggelamkan Rusia. Sadar bahwa Rusia tidak memiliki apa-apa kecuali minyak dan gas, AS ingin menekan Rusia di segala sektor, termasuk minyak dan gas, pertahanan ekonomi dan terakhir, Rusia itu sendiri.
Seperti kata pepatah: sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga, itu pun yang berlaku bagi Yeltsin. Ditengah keterpurukan ekonomi yang menjadi dan seruan revolusi yang makin merebak di tiap jiwa orang Rusia, pamor Yeltsin anjlok hingga ke titik nadir. Sebaliknya, dari titik inilah Putin mulai mencuat ke permukaan.

Dan Putin Pun Beraksi
Salah satu aksi Putin yang paling jitu, menurut saya adalah kembalinya sentral pemerintahan negara ke satu sumber, Kremlin. Seperti di Indonesia, reformasi di Rusia juga membuahkan desakan tiap daerah untuk menentukan nasibnya sendiri, atau yang lebih dikenal dengan nama otonomi daerah.
Setelah terpilih dengan mutlak pada pemilu Maret 2000 itu, Putin kemudian mengonsolidasikan kekuasaan secara vertikal. Ia mengeluarkan deskrit yang membuat 89 wilayah propinsi menjadi distrik yang diawasi langsung oleh orang kepercayaannya. Ini dimaksudkan untuk memperkuat posisi pemerintahan pusat.
Dan efek yang ditimbulkan pun cukup mencengangkan. Indeks kepercayaan rakyat pada pemerintah meningkat pesat. Putin makin disukai karena memang budaya patrenalistik, yaitu kebutuhan akan pengayom negara yang kuat, masih berakar di relung hati orang Rusia.


Begitupun dengan hal penguasaan aset-aset kekayaan negara, termasuk kekayaan alam. Putin beraksi dengan tak pandang bulu, memberangus swastanisasi hingga ke akar-akarnya hampir di semua sektor. Imbasnya sangat signifikan. Nasionalisasi aset negara ini menyumbang limpahan dana segar ke kas negara, yang membuat Rusia mampu meningkatkan pengeluaran untuk tujuan sosial, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan program pemberantasan kemiskinan.

Hello? Ada yang akrab dengan kata-kata di atas? Ya, kalimat-kalimat yang di Indonesia hanya jadi semacam slogan, di Rusia ternyata sudah diterapkan dan terbukti, nasionalisasi kekayaan alam yang dikuasai swasta adalah satu keharusan, kalo ngga ya tunggu aja sampai bermunculan freeport-freeport berikutnya.

Next, layaknya mengikuti plot teratur, buku ini menguraikan sepak terjang Putin dalam pembaharuan demokrasi ala Rusia yang disebut dengan Russokrasi, kesuksesan ekonomi yang diraih, dan pandangan-pandangan dunia internasional mengenai kebangkitan negara ini.

Lessons for Indonesia
Rusia adalah salah satu negara yang paling parah terkena dampak krisis ekonomi di tahun 1997. Setelah menimpa Thailand, efek domino krisis juga mengenai Indonesia dan negara lainnya di Asia. Termasuk Rusia pun tak luput dari efek tersebut.

Namun Rusia bisa bangkit dalam tempo yang relatif lebih cepat. Mengapa demikian? Ini tak lain karena elite Rusia cepat tanggap dan langsung melakukan tindakan penyelamatan. Tapi di Indonesia, yang sibuk dengan diri sendiri, luput memetik pelajaran berharga dari Rusia. Bangkitnya Rusia tak lain akibat kesadaran bahwasanya IMF bukanlah lembaga penolong, namun malah lebih menghancurkan.
Haduh, kalau anak gaul bilang sih: cape deeeh :D

Ya, memikirkan pemerintahan kita sekarang yang berjalan entah juntrungannya kemana ini, lama-lama membuat saya makin senewen. Apalagi ngomongin tingkah elite politik di negeri ini, itu sama aja dengan membuang-buang waktu percuma. Ngga akan ada habisnya. Stuck!

Jadi pesimis dengan kalimat di sampul belakang yang bertuliskan:
Pembelajaran di pustaka ini patut disimak oleh pengamat kenegaraan, pengamat ekonomi, praktisi politik, hingga mereka yang mendalami studi hubungan internasional.
Saya malah mendadak membayangkan para elite itu menggunakan buku ini sebagai kipas saat mereka terkantuk-kantuk di sidang kabinet. *beuh*


Apakah kita akan selamanya tak bisa memetik hikmah dari apa yang dialami oleh Rusia? Only God knows…

Bangkit Indonesia!

image credit:
self collections
http://matanews.com/2010/04/02/rusia-perkuat-pakta-militer-dan-energi/
http://www.blackagendareport.com/?q=content/let-imf-die
http://www.elder-helper.com/
http://news.bbc.co.uk/2/hi/7863286.stm
http://elqorni.wordpress.com/2010/03/04/panduan-gaji-20092010/

July 25, 2010

Surprise Dari Goodreads!

Kabar itu datang berupa e-mail tertanggal 9 Juli kemarin saat saya meng-klik salah satu thread di inbox yang memunculkan judul Congrats - you are a First Reads winner! dari goodreads, salah satu situs tempat berkumpulnya penulis dan pembaca dalam satu wadah. Sekilas tampak sebagai spam dan memang saya hampir saja memencet tombol report spam, sebelum akhirnya tertegun setelah membaca keseluruhan isi email...

June 25, 2010

My Stupid Boss: Novel (Gratisan) Tergokil Yang Pernah Saya Lempar!

Entah ini namanya keberuntungan, rejeki nomplok atau mungkin salah sasaran, saya dianugerahi sebuah novel dari Mbak Fanny, lewat satu kontesnya di blog Sang Cerpenis Bercerita. Dalam kontes yang dihelat dalam rangka memperingati postingan ke-1000 tersebut, ada 10 novel yang diperebutkan secara gratis dan - lagi-lagi - entah kenapa saya request novel yang berjudul My Stupid Boss sebagai hadiah jika review saya terpilih. And fortunately, I made it! :D

June 23, 2010

Book Review: Breaking Your Mental Block (2)

Halo Indonesianers! Salam berjumpa kembali dengan saya, sang blogger yang hampir murtad diterjang kemalasan, distractions dan kawan-kawannya! :D

Ok, langsung saja…

Melanjutkan postingan kemarin – yang hampir lumutan - tentang review buku Breaking Your Mental Block, saya buka dengan satu cerita fiksi dari buku ini, yang menurut saya mantap tuk disimak :)

Alkisah, ada seorang kakek yang tinggal dengan cucu-cucunya yang nakal. Pada suatu hari di siang bolong, karena kecapaian yang menghampirinya, sang kakek terlelap tidur di sebuah dipan favoritnya di dapur. Oleh para cucunya yang melihat kakeknya yang tertidur pulas, timbul niat tuk mengerjai. Diambillah kotoran ayam di dekat mereka.

May 26, 2010

Book Review: Breaking Your Mental Block (1)

Di sela-sela kesibukan yang membuat saya mengeluh di postingan terdahulu, saya menyempatkan diri tuk menambah gizi isi otak ini dengan membaca. Dan sasaran saya kali ini adalah sebuah buku yang berjudul Breaking Your Mental Block.

Buku ini saya temukan dengan cara sambil lalu, accidental dan tanpa perencanaan sebelumnya. Karena kebetulan, saat saya hunting makan sore di warung bakso Solo, di sebelah warung tengah digelar semacam acara bazaar. Di situ, di lapangan luas depan sebuah SD, tumpah ruah para muda mudi Kupang. Ada yang menikmati tampilan musik band, melongok stand-stand penjualan atau hanya sekedar mengisi waktu luang. Nah, diantara stand-stand penjualan yang tersebar, ada stand salah satu toko buku ternama yang menyediakan gerai buku-buku discount. Dan tanpa fikir panjang, setelah puas menyantap bakso Solo ala Kupang, saya sempatkan tuk mengunjungi gerai tersebut dan jadilah buku ini menemani waktu senggang disaat stres melanda :)

April 26, 2010

Book Review: 7 Langkah Mudah Mencari Uang Lewat Blog

Buku ini sebenarnya sudah menjadi incaran saya sejak sebulan terakhir. Tadinya ngarep banget dapet secara gratisan lewat jadi top komentator di blognya Bung Eko (bungeko.com). Tapi berhubung otak dah kadung gatel, akhirnya di malam minggu kemarin yang tumben cerah, jadilah kaki ini mengantar saya ke salah satu toko buku ternama yang hanya berjarak seseberangan jalan dari rumah.

Hupla, ternyata gampang sekali menemukan buku yang berjudul 7 Langkah Mudah Mencari Uang Lewat Blog ini. Ia sudah tergeletak pasrah bersama puluhan buku bertema sejenis di rak berkategori internet. Beruntung, karena cover-nya yang terkesan ala chicklit (meriah abis men!), buku itu seperti menari-nari memantulkan keceriaan tersendiri. Ah, apa perasaan saya saja ya, karena begitu mengidam-idamkan buku tersebut? *hehe*

April 5, 2010

Book Review: You Inc.

Buku-buku berlatar belakang self-help, how to dan teknik memanipulasi fikiran mungkin telah banyak menghiasi rak buku sektor kepribadian. Jujur saja, kesan awal bila orang memilih buku-buku tersebut, tentunya ia sedang sakit. Yah, bukan tanpa alasan. Paradigma itu muncul setelah cukup lama bergumul dengan buku-buku ber-genre pemicu motivasi, pengendali emosi dan yang sejenisnya, dan apa yang saya dapat? Nothing, kecuali beberapa poin kecil, dan serasa berulang-ulang dibahas. Dan efek dalam kehidupan nyata? Saya serasa dipaksa menjadi seorang aktor, memoles kepribadian demi tujuan yang masih samar, hingga wajar jika kemudian saya berfikir: kepribadian saya telah mengalami cloning, alias kepribadian ganda. Parah memang.

Tapi anggapan tetap anggapan. Sifatnya temporer dan mudah berubah seiring tuntutan alur kehidupan. Dulu sarkastik, men-judge semua hal yang serupa adalah sama adanya, kini mulai berfikir linearitik, mencari kemungkinan-kemungkinan baru di sela-sela keputusasaan, dari harapan demi mencari sebuah jawaban.

Jawaban dari apa? Di zaman serba open source ini tiada lain selain dari sebuah pertanyaan: Bagaimana caranya untuk sukses?

Untuk itulah, untuk kesekian kalinya saya tergoda untuk mengoleksi satu buku yang sudah menghiasi rak buku saya sejak empat tahun lalu ini: You Inc.

March 21, 2010

Book Review: Seni Berbicara (Think on Your Feet)

Kedengarannya aneh. Saya sama sekali ngga berlatar belakang bisnis, dan mungkin saya termasuk dalam barisan kebanyakan tipikal manusia Indonesia sejak zaman dulu kala: alergi bisnis. Bukan tanpa alasan. Karena dari sekian banyak faktor yang menentukan kesuksesan suatu bisnis, ada satu faktor yang masih bikin bulu kuduk saya merinding: berbicara di depan umum!

Ekstrimnya, bila saya dihadapkan pada situasi dimana saya diharuskan berbicara sepatah dua patah kata di depan umum, ada 2 pilihan yang langsung terlintas:

Satu, lari terbirit-birit.
Dua, lari terkencing-kencing.

Ok, mungkin agak terlalu klise. Tapi juga ngga 100 persen salah.

March 10, 2010

Book Review: Menulis Itu Genius

Buku ini sebenarnya satu paket dengan apa yang saya beli waktu itu. Berhubung waktu luang yang kian sedikit, baru beberapa hari ke belakang ini saya menyicil membacanya. Kembali flashback ke malam itu, apa yang mendasari saya memilih buku ini? Pertama lewat sampulnya yang merah menyala, seakan menantang saya dan terlihat cool di antara buku-buku lainnya. Kedua, setelah saya timang, di sampul depannya ada sebuah pesan berbentuk matahari yang isinya: Anda mengalami jalan buntu dalam menulis? Baca buku ini! Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat saya menyerah, sekaligus membawanya ikut serta di tas jinjingan :)

February 28, 2010

Book Review: I Am A Writer

Langit di atas kota Solo mendung-mendung tipis saat saya diajak paman saya ke salah satu toko buku ternama di suatu mall yang jaraknya hanya seseberangan jalan dari rumah. Tadinya saya sedikit malas, toh masih bisa besok kan? Namun karena ada ga enak, ya saya ikut juga. Dan benar, ajaibnya, rasa itu perlahan pudar seiring makin jernihnya mata ini melihat puluhan salesgirl berlalu lalang (dasar lu! :D).

Singkat kata, karena saya sedang intens meminati bidang tulis menulis, saya ambil buku yang judulnya I am a Writer karangan Andrea Tejokusumo. Kalau ditanya alasan memilih buku itu, ya selain sampulnya yang menarik, tebalnya juga layak lah untuk dicemil dalam waktu semalam. Maklum, lagi malas ngapa-ngapain weekend ini :)

The Author
Andrea Tejokusumo tercatat sebagai alumnus London College of Communication (LCC) jurusan ilmu jurnalistik. Selama tiga tahun masa kuliah di sana, ia sempat menjadi editor koran kampus, dilanjutkan dengan beberapa kesempatan magang di stasiun radio dan website amal untuk anak muda. Ia mulai menulis fiksi sejak usia 11 tahun, dan mengaku walau tak ada satupun ceritanya yang pernah selesai, pengalaman itu memperkenalkannya akan kenikmatan menulis hingga memutuskan untuk menimba ilmu di Inggris. Saya tergelitik dengan alasannya untuk mulai menulis. Ia dengan polos mengatakan: pertama-tama mulai menulis sebenarnya karena ingin menyalurkan imajinasi masa kecil yang cenderung berlebihan :D

Content
Dari sampul bukunya (yang terkesan chick lit), sebenarnya saya mengharapkan isi yang lebih renyah dibaca. Namun dugaan saya meleset, ternyata selain renyah, isinya juga lebih berbobot dan membuka wawasan saya jauh dari yang saya kira. Mungkin karena selain ilmu menulis, di buku ini juga seolah Andrea membeberkan biografi singkatnya, yang berupa pengalaman pribadi semasa kuliah, karir, juga opininya mengenai dunia tulis menulis. Ini yang menurut saya memiliki nilai lebih dan membuat saya betah nyemil hingga tak bisa berhenti sampai mentok halaman terakhir.

Di awal-awal halaman, buku ini langsung memikat saya dengan kalimat:
Amat sulit rasanya untuk membayangkan dunia ini tanpa kata-kata. Perkembangan peradaban manusia selama beribu-ribu tahun telah memberikan makna pada bahasa dan kata-kata yang dulunya hanya memiliki makna simbolis..
Selanjutnya dengan urutan yang sistematis - cenderung berpola mengerucut - tiap bab dalam buku mengulas pengertian, alasan, tools dan ekspektasi untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup (way of life). Menarik. Apalagi saat ia menanyakan mengapa kita menulis?
Apakah karena kamu banyak memiliki ide-ide brilian yang ingin dituangkan?
Apakah karena kamu suka bermain dan memanipulasi kata-kata?
Apakah kamu melihat bahwa menulis sebagai mata pencaharian yang menjanjikan?
Atau sebagai sarana untuk menjadi beken? :D
Kalau saya - sambil tertawa - mungkin memilih yang terakhir! :D

Yang membuat saya terkejut, sekaligus tercenung, ternyata kepribadian juga berpengaruh lho dalam menentukan jalan karir menulis seseorang.
Mereka yang stylish dan supel dalam bergaul akan merasa lebih cocok dengan pekerjaan menulis berlatar belakang kreatif seperti copywriter atau di media yang berbau lifestyle. Mereka yang peka secara emosi lebih bisa menyalurkan perasaan saat menulis sesuatu yang bertema sosial atau human interest, sementara mereka yang analitik berkemampuan menjadi analis atau kritikus yang obyektif.
Ada benarnya. Tapi kemudian di akhir bahasan, Andrea menengahi pergulatan antara kepribadian dan proses menulis ini dengan:
Atau mungkin, bisa jadi kepribadian kita yang malah berubah mengikuti kebiasaan menulis yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, dan membuat pilihan kita menjadi lebih luas dari sebelumnya!
Saya cenderung setuju dengan yang terakhir, karena sudah setua ini pun saya masih belum tahu pasti jenis kepribadian saya gimana :)

Thus, pengalaman-pengalaman menariknya selama kuliah dijadikan selipan di tiap bab buku. Saya rasa ini sebagai penyegar suasana, namun tetap memberi inspirasi. Yang paling mengena adalah saat pengalamannya mengalami pencerahan. Dimana di salah satu punggung buku Seandainya Saya Wartawan, semacam buku how to yang beredar di kalangan internal redaksi Tempo, Goenawan Mohamad menuliskan sebuah kisah:
Pelukis S. Soedjojono suatu hari ditanya tentang teori yang dipakainya dalam melukis. Ia menjawab dengan suaranya yang agak parau, "Apa saudara tahu ada teorinya orang naik sepeda?"
Well. Jujur, saya langsung menandai halaman itu dan menebalkan tulisannya dengan stabilo!

Last Thought
Setelah membaca buku ini, wawasan saya tentang dunia tulis menulis sedikit demi sedikit terungkap. Yang tadinya brutal dan terkesan sekenanya, saya jadi memiliki kekuatan ekstra untuk berusaha lebih baik dalam merangkai tulisan. Ya setidaknya sih bagus untuk dibaca sendiri :) Karena saya sadar, tulisan bisa membuat kita dikenang, walau kita telah tiada nantinya...weh, koq jadi dalem gini sih hehe..

So, happy weekend, happy writing and happy blogging sobat!