Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

October 28, 2010

Coretan Sumpah Pemuda Di Tengah Bencana

Mari kita kesampingkan sejenak dari suku mana kita berasal, bahasa apa yang kita pakai, merk handphone yang selalu kita bangga-banggakan, bahkan lupakanlah bahwa kita semua adalah seorang blogger. Lepaskan semua embel-embel, telanjangi diri sepolos-polosnya, dan please, fokuskan fikiran pada satu hal berikut:

Flashback ke 82 tahun silam...

Bayangkan kita satu diantara ribuan pemuda-pemudi yang rela berdesakan di jalan Kramat Raya 106 guna menghadiri satu momen bersejarah, suatu ritual pengucapan sumpah setia yang bahkan kita sendiri belum tahu apa maknanya. Kita berjejalan dengan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru daerah yang bahkan kita belum tau letaknya dimana. Dan kita mendengarkan sebuah lagu asing yang hanya dimainkan oleh biola, yang kita sedikitpun tak menyadari lagu itu bakal jadi salah satu lagu kebangsaan terbaik di dunia, yang membuat Star Spangled Banner-nya Amerika Serikat, La Marsellaise-nya Perancis dan God Save The Queen-nya Inggris sama sekali tak ada artinya.

Apa kira-kira yang kita fikirkan saat itu?

October 18, 2010

Apapun Alasannya, Berbeda Itu Lebih Asyik!

There never were in the world two opinions alike, no more than two hairs or two grains; the most universal quality is diversity (Michel de Montaigne)
Di blogosphere, tercatat kurang lebih satu blog lahir tiap detik. Bayangkan berapa jumlahnya sekarang jika pada tahun 2005 silam saja blog yang dibuat sudah ada 14,7 juta buah? Di Indonesia sendiri pun setali tiga uang, konon diprediksi di tahun 2010 ini angkanya akan menembus satu juta blog. Buset!


Dengan jumlah blog yang mencengangkan itu, berarti hampir setiap hari blogosphere Indonesia dibanjiri oleh tumpahan ratusan ribu posting dengan topik penulisan, gaya dan perspektif yang beragam, karena tiap narablog seolah tak mau ketinggalan hadir mengusung visi dan misi masing-masing tuk menebarkan gagasan, menularkan ilmu, atau pun sekedar cuap-cuap sharing pengalaman pribadi.

March 2, 2010

Budaya Kritik Blogger Indonesia Yang (Hampir) Punah

Ada satu pertanyaan yang masih menggelayut di benak saya, setelah begitu banyak menghabiskan waktu untuk blogwalking dan saling sapa dengan blog sahabat. Pertanyaan itu adalah: mengapa begitu sedikit blogger Indonesia yang menyuarakan kritik pada komentar-komentarnya? Apa benar karena kita terlalu memikirkan kesan baik bagi pemilik blog daripada menuliskan sesuatu yang sebenarnya ’ada’ tuk diungkapkan? Atau khawatir berlawanan arus dengan komentar-komentar lainnya yang bernada ’artikel yang mantap!’, ’sip bro, lanjutkan!’, ’sangat menginspirasi saya, thanks sobat’? Jujur saja, saya juga ngga ketinggalan tuk memberi komentar-komentar demikian. Lha, apa lagi yang mau ditulis? Ya nggak?

Namun menurut saya, ada baiknya juga jika kritik diberikan tempat yang sepadan dan bahkan dijadikan prioritas dalam berkomentar. Bukan saya ingin melontarkan sebuah kontroversi, saya hanya memberi opini yang syukur-syukur bisa jadi pertimbangan bagi sobat semua.

Saya berargumen, bahwa seyogyanya kita lebih kritis dalam berkomentar karena :

Melatih kejujuran pada diri sendiri

Jika kita merasa tidak sejalan dengan isi artikel ya katakan saja alasannya. Atau jika ada yang belum atau ingin diketahui lebih lanjut, mengapa tidak dituliskan saja. Kemungkinan, dugaan saya, budaya Timur yang ewuh pakewuh masih terbawa hingga jauh ke kotak komentar :) Padahal saya yakin, sobat semua menginginkan komentar yang konstruktif kan? Bukan sekedar kata-kata yang saya tulis di paragraf awal tadi?


Kritik sangat membantu pemilik blog
Setiap saya posting tulisan di blog ini, saya setidaknya mengharapkan komentar yang jujur dari pembacanya. Karena bagaimanapun saya ngga tau pasti seberapa pengaruhnya tulisan itu, dan hanya dari feedback pembacalah saya bisa mengambil kesimpulan yang lebih akurat. Dari pengalaman pribadi, saya lebih memikirkan komentar yang bernada mengkritik daripada yang lainnya. Sebab saya akan berfikir bahwa komentator ini pastinya memperhatikan secara detail isi dari tulisan saya, ataupun tampilan blog saya secara keseluruhan.

Dengan kritik, dialog akan terus berkembang
Jika muncul kritik, tentu ada pembelaan, persetujuan ataupun pembelajaran bagi pemilik blog untuk belajar lebih jauh. Bukan mustahil pemilik blog akan mencoba mengontak via email ataupun media sosial untuk mencoba lebih mengenal si komentator dan mengajaknya berdiskusi lebih lanjut. Saya kira ini yang disebut the true spirit dari aktivitas blogging, dimana kita bisa berkomunikasi tanpa pernah bertatap muka namun memiliki ketertarikan yang sama, yaitu blogging. Benar?

Dapat menjaga kualitas blog masing-masing
Pernahkah sobat berfikir bahwa penulis blog-blog senior itu pasti benar dan tak pernah salah? Saya - sudah pasti - begitu :) Karena mungkin faktor kekaguman, ketauladanan atau (yang lebih parah) kefanatikan yang terpatri kuat di benak kita saat mengunjungi blog-blog tersebut. Sehingga menganggap setiap postingan dari mereka layaknya mutiara-mutiara kebijaksanaan dan kita serasa diberkahi dengan membacanya. Well, kalau sudah begitu, saya katakan disini bahwa itu bukan salah mereka. Itu salah kita. Karena mengucilkan kritik, yang mungkin segan diucapkan karena khawatir dikira cemburu, iri dan kesal oleh kepopuleran mereka. Padahal jika kita bisa jujur dan berfikir lebih lanjut, pasti ada sesuatu yang ingin diungkapkan selain - lagi-lagi - yang saya tuliskan di paragraf awal tadi. Dan itu akan dapat menjaga kualitas blog teladan kita tadi, juga sekaligus blog kita sendiri, yang mengalami pembelajaran dari situ.


Blog akan mengalami improvisasi
Saya yakin sobat semua pastinya memiliki visi dan misi sendiri dalam blogging. Begitu pula dengan saya. Kita semua menginginkan yang terbaik agar aktivitas ngeblog ini lebih asyik, mendidik dan bergidik-gidik (apaan tuh? maksa banget :D). Dan satu kata yang sejatinya jadi acuan, yaitu improvisasi. Ya, tanpa improvisasi mungkin perkembangan suatu blog akan berjalan stagnan, dan mandeg.

Saya sering juga berkeliling mengunjungi blog-blog antah berantah sono. Dan saya kagum dengan gaya-gaya komentar mereka yang sangat berisi, dan mustahil bagi kita untuk tidak tertarik. Ada saja kritik, usulan atau bahkan ejekan (yang bersifat candaan tentunya) disamping komentar yang lain. Nah, ini yang menjadi pertanyaan di awal tulisan ini,
mengapa begitu sedikit blogger Indonesia yang menyuarakan kritik pada komentar-komentarnya?

Sebab itu, saya ingin mendengar langsung dari sobat semua, apa saja yang mestinya jadi perbaikan pada blog ini, sehingga bisa dijadikan bahan untuk saya berimprovisasi.

Jadi gini, selain berkomentar (lebih disukai kritik ya), sobat juga bila berkenan memberi skor pada poin-poin berikut:
waktu loading (lambat - cepat)
konten (basi - bermutu)
navigasi blog (susah - gampang)
mengontak saya (susah - gampang)

Poin-poin itu diskor menurut besaran dari 1 sampai 10, contohnya waktu loading. 1 berarti lemot banget dan 10 berarti buset cepetnya :D Sobat juga bisa mengisi angka di antara itu.

Dan formatnya begini, sebagai contoh :

.....(ini komentar sobat tentang artikel ini).....

3
4
3
5

Nah itu saja, semoga ini bisa menjadi feedback yang bagus untuk saya, juga blog sobat tentunya.
Wish you all the best!

February 10, 2010

Indonesian Dream vs Pisang Goreng

Pagi ini, tak seperti pagi-pagi sibuk lainnya, saya menyempatkan tuk bersih-bersih rak di bawah meja yang dihuni setumpukan koran bekas. Di tumpukan paling atas langsung mengikat mata saya foto Putri Patricia di rubrik Nama dan Peristiwa, dengan ukuran yang lebih mencolok ketimbang foto Larasati Gading, Madonna dan Armand Maulana. Beritanya sambil lalu saya baca, ga mengena. Ini sekali lagi membuktikan kedigdayaan media visual ketimbang media kata :)

Saya hafal, untuk edisi hari minggu pastinya ada rubrik-rubrik yang lebih menarik ketimbang semata penyedap mata tadi. Saya bolak-balik dan..eureka!. Trend Buku. Judul artikelnya langsung menohok: Bermimpi adalah Hak Segala Bangsa. Artikel yang sebenarnya berupa resensi buku Indonesian Dream - The Pursuit of a Winning Nation, karya Elwin Tobing, saya lahap diselingi suguhan teh hangat dan pisang goreng..

Intinya bahwa, kita sebagai satu bangsa, harus mendefinisikan lagi impian-impian kita. Apa sih yang kita harapkan dari bangsa ini? Apa yang mendorong kita untuk lebih maju seiring perkembangan zaman? Maag saya hampir kumat setelah membaca paragraf ini:
Kini, Indonesia tidak lagi kompak bersatu persis karena mimpi agung itu telah berpendar semakin pudar. Entah kapan mulainya, virus sektarianisme meruyak dalam tubuh bangsa ini. Kita kerap bertikai, bertengkar, dan menghabiskan energi sehingga cita-cita Indonesia merdeka yang adil dan makmur semakin terasa bagai utopia kosong belaka.
Ih, betapa betulnya! Saya hanya bisa mendesah dan berharap agar jantung saya tetap sehat, akibat teralu sering menahan emosi kala menonton berita-berita TV. Kasus ini, kasus itu, demo ini, demo itu, gosip ini, gosip itu.. lalu sebentar reda seiring lawakan sule dan aziz yang makin garing di OVJ.

Jidat saya mungkin sudah bertambah lagi kerutannya saat memindai:
Situasi ini bukan mustahil semakin buruk. Contoh Yugoslavia yang telah bubar bisa terjadi di sini jika sesama elemen bangsa semakin tak bisa saling percaya; kecurigaan dan ketakutan berbasis suku-agama-ras-antargolongan (SARA) dibiarkan berkobar memecah belah, pengingkaran hakikat keindonesiaan yang Bhinneka Tunggal Ika berlangsung banal. Apalagi, jika kebiasaan buruk dalam praktik bernegara dipertontonkan terus: korupsi, kolusi, dan kompromi membiarkan diskriminasi, kebodohan, dan kezaliman semakin merajalela.
Sesaat rasa pisang goreng yang tadi nikmat seakan mendadak tawar. Saya merenungi diri, menatap putri kecil saya yang baru berumur satu setengah tahun mandi berendam di ember kesayangannya. Tanpa sadar saya bergumam, maafkan papa nak, karena melahirkan kamu di negeri yang tengah carut marut ini..

Namun menjelang ending tulisan, setitik rasa optimisme merebak. Ada selipan motivasi di sana. Susunan kalimat yang menurut saya paling bergizi di pagi yang cerah ini:
Jadi, Indonesia memang perlu bermimpi lagi. Tepatnya, impian lama yang harus diaktualisasikan ulang, diperbarui dan diperkaya, dibikin hidup dan berdaya. Kita memerlukan mimpi segar yang sanggup mempersatukan putra-putri Indonesia dengan berkeinginan kuat akan suatu kehidupan nasional yang secara kualitatif berbeda dengan yang sekarang.
Bermimpi lagi? Saya melahap pisang goreng terakhir, yang terasa lebih enak, sembari mengacungkan jawaban pasti: siapa takut?

Bagaimana dengan pembaca?