November 9, 2010

Blog Personal Sebagai Portofolio Pribadi, Mungkinkah?

Saya pernah menerbitkan, atau lebih tepatnya sharing, tentang beberapa project yang sempat saya ikuti, seperti yang tertuang pada kisah-kisah berikut:
Hal itu saya lakukan tiada lain yaitu untuk lebih memperkenalkan diri saya di blogosphere dan mencoba menyisipkan sedikit portofolio di antara sebagian besar postingan-postingan dengan topik yang saya minati. Atau yeah lumayan lah buat ajang narsis :D

Ada yang menarik, mengingat antara profesi dan apa yang saya sering tuangkan dalam media blog kadang menemui kontradiksi, entah itu kentara maupun tidak. Saya sendiri mengakui, kontradiksi itu bisa sangat mengganggu, baik bagi saya sebagai penulisnya maupun - mungkin - bagi pengunjung yang membacanya. Well, bisa jadi inilah resiko blog yang tak mempunyai niche spesifik.

Lain halnya bila dibandingkan dengan narablog yang juga desainer web. Sebagai contoh, Pak Zam, Satrya, juga Oom Agus. Mereka malah terbalik, biasanya rikuh menerbitkan postingan yang berbau keseharian. Hmm, atau ini yang dibilang orang blog yang memiliki niche spesifik?

Saya kira bukan itu saja, mereka telah mampu menjadikan media blog sebagai portofolio pribadi!

Ya, portofolio pribadi, atau satu wadah untuk menampung hasil-hasil karya seseorang sesuai dengan spesifikasi pekerjaannya. Bila di dunia offline portofolio bisa menjadi penunjang curriculum vitae yang sangat bagus, di dunia maya efek yang dihasilkan akan sangat dramatis, mengingat begitu luasnya cakupan jaringan internet.


Nah, lalu bagaimana nasib blog tak bertema khusus seperti Indonesianer ini? Apakah bisa disulap menjadi sebuah portofolio pribadi? Saya jawab, mungkin saja. Tapi konsekuensinya, saya akan kehilangan kesempatan tuk mengembangkan diri sendiri di luar dari profesi yang saya tekuni. Dan itu bertolak belakang dengan feel blogging yang selama ini saya nikmati.

Jadi yah, tak ada cara lain selain apa yang telah saya tuliskan di awal-awal paragraf tadi, hanya sesekali menyisipkannya. Namun ya tetap saja gagasan mengenai portofolio itu sepertinya oke juga.

By the way, selain Deddy Andaka yang seorang dokter, Munir Ardi seorang guru dan Big Sugeng yang berprofesi sebagai auditor perpajakan, saya belum menemui lagi - atau lupa - blogger-blogger yang sempat menyisipkan hal-ihwal seputar pekerjaannya di media blog.

Sobat setuju bila blog personal dicampuri dengan portofolio pribadi? Atau sebaiknya ada blog lain yang khusus mewadahi itu?

41 comments:

Vicky Laurentina said...

Saya rasa lebih baik dipisahkan sajalah. Tidak baik mencampuradukkan urusan keseharian dengan urusan pekerjaan.

hany said...

ga paham euy

Cahya said...

Berbeda dengan Mbak Vicky di atas, saya rasa kalau sekadar portfolio tentu saja bisa dimasukkan ke dalam blog personal, saya rasa juga itu memberikan setuhan karakteristik yang unik pada sebuah portofolio yang biasanya mendapatkan proporsi formal pada halaman tertentu.

Tapi tentu saja jika pekerjaan menyangkut rahasia jabatan, seperti militer dan medis, beberapa hal memang tidak boleh sama sekali dimuat untuk konsumsi publik. Lain daripada itu, boleh saja sih.

Pun kalau mau dibuat halaman portofolio khusus, saya rasa itu juga bagus, bukan karena lebih baik dari pada yang disisipkan ke dalam tulisan pribadi, namun lebih pada kemudahan navigasi aksesnya.

Joko Sutarto said...

Saya jadi teringat dengan tulisan KickAndy di websitenya. Kalau kita terlalu banyak menceritakan tentang kehidupan pribadi kita maka resikonya kita akan benar-benar telanjang di mata orang lain. Dan tanpa sadar saya pun terseret juga ke arah sana, seperti yang dirisaukan oleh KickAndy tersebut.

Hem, tapi saya pikir begitulah kenyataannya. Kalau saya boleh berpendapat tidak masalah menyisipkan sebuah portofolio di blog pribadi kita sesekali dalam postingan sekedar untuk memperkenalkan siapa diri kita, apa keahliannya dan apa bidang profesinya. Kecuali, kalau blognya memang punya tema atau Niche khusus, bukan personal blog, yang berbeda dengan profesi atau keahlian kita, maka sebaiknya tak dicampur.

Kimi said...

Kalau menurut saya sih tidak masalah sekali-kali menulis tentang pekerjaan di blog pribadi. Hitung-hitung menambah warna baru dalam tulisan di blog. Jadi, orang yang berlangganan blog kita tidak merasa bosan membaca blog kita. Dan, orang-orang pun bisa lebih mengenali kita melalui tulisan tentang pekerjaan kita tersebut. Mereka jadi mengenali kita tidak hanya melalui kisah-kisah keseharian kita, melainkan juga dapat melihat kita dari sisi pekerjaan kita. Jujur saja, justru saya terkadang bosan membaca blog yang isinya terlalu sering menuliskan tentang kehidupan pribadinya, hampir di setiap tulisannya. Saya pikir jadinya tidak masalah lah kalau blog pribadi juga ditulisi tentang pekerjaan.

Saya sepakat dengan Pak Joko Sutarto. Kecuali, blognya memang dari awal sudah ditentukan temanya dan tema tersebut berbeda dengan profesi kita, ya sebaiknya tidak dicampur.

Darin said...

Mbak Vicky, saya juga berfikiran seperti itu, tapi bukankah lebih enak di blog personal yg notabene sudah lumayan dikenal daripada membuat blog baru? :D

hany, stay tune :)

Cahya, wow wow, kalau pekerjaan agen rahasia ya bakal repot mas :D
Yup, betul, jadi semacam static page itu ya? Saya dulu pernah membuat itu, tapi entah kenapa setelah membuat blog dgn sistem frontpage seperti ini, halaman statis itu belum bisa muncul :( Ada yg bisa membantu?

Pak Joko, Hmm ada benarnya juga ya pak, terlalu mengekspos keseharian dalam pekerjaan bisa berdampak buruk, apalagi jika kita keceplosan menceritaka sesuatu yg tak seharusnya ditulis.
Dan sepertinya saya tak keluar jalur, mengingat blog ini jg tak bertema khusus :) Trims Pak Joko.

Darin said...

Kimi, sebenarnya saya juga ngga kefikiran bakal menuliskan pengalaman2 di pekerjaan, tapi mungkin dulu saya terinspirasi berat setelah baca blognya Raditya Dika :D Disitu ia luwes sekali menceritakan pengalaman pribadi sebagai penulis, makanya saya jadi kebakaran jenggot, ikut2an juga :D

Yah sebagai selingan saja sih, tapi ternyata saya belum menerima feedback miring tentang hal itu. Syukurlah..

Yup, saya juga setuju dgn Pak Joko :)

sangpenjelajahmalam said...

saya rasa sah-sah aja...

inge / cyber dreamer said...

aku nggak kebayang mas kalo blogku sesuai dengan bidang yang aku geluti, mengajar matematika... wah isi ne musti rumus tok... lah didunia nyata udah mumet dengan rumus, masa' di dunia luna mau mumet juga huhuhu......

Darin said...

sangpenjelajah, saya rasa juga begitu :)

inge, wehehehe, apa saya juga nulis rumus2 perhitungan banjir? nggak to? maksud saya ya pengalamannya saja, bukan inti dari pekerjaannya :D

andi sakab said...

saya setuju kalo memang blog ini mau ada tambahan sisi portofolio kang darin.

hanya... tambahan saya.

buat unik navigator dan tempatkan pada kategori khusus. jadi kita bis mengenal kang darin dari 2 sisi. pribadinya dan pekerjaannya :)

choice is yours

Darin said...

andi sakab, halo gimana kabarnya #bloggermalam? :D ya itu tadi, saya masih kesulitan menampilkan di blog dgn sistem frontpage seperti ini. Nanti coba saya utak-atik dulu :D

Mencari ridho Allah semata said...

Mas Darin,aku gak komen soal portofolio, mau ngeliat fotoku muncul gak setelah coba buka gravatar.

Tapi kok jadi pengen ngomentarin dikit ya... kalo kayak aku yang lulusan ilmu komputer FMIPA UGM sah2 aja kalo blog aku temanya pemrogaman terus jadi portofolio. Lha tema blog aku religi, jadi biar keliatan bagus, dan sesuai mestinya dipisah aja (terus terang, kuliahnya gak nempel di otak soalnya lebih sering ke gelanggang UGM, jadi panitia kegiatan atau latihan paduan suara, lebih sering lagi latihan sofbol).

Soal masalah pribadi,semua pasti punya sisi yang tidak ingin diungkapkan, hanya teman dekat yang tahu. Bisa jadi orang itu introvert, atau lebih suka diketahui orang-orang dekat saja, atau memang menurut dia pribadinya gak penting diungkapkan.

Tapi, nabi Muhammad SAW, adalah orang yang selalu diikuti ucapannya, tingkah lakunya, karena beliau adalah menjadi tuntunan (tak tahan deh tulisanku, kalo diikutin bisa 10 halaman aku nulisnya ntar). Tidak ada yang menjadi rahasia dari setiap perbuatan beliau.

Jadi yah... sekali lagi cuman mau ngecek doang tuh, fotoku muncul gak ya...

Abdul Hakim said...

boleh-boleh aja kang, kayak kang erdien seorang editor buku, dia akhirnya mengubah blognya menjadi tempat curhatan dan berbagi ilmu tentang penulisan buku dan editor

attayayay mobil keluarga said...

ya mungkin saja bisa dijadiin portfolia
lha prinsipnya khan blog adalah lapak pribadi
ya terserah si pemilik blog mo isi apa aja
mo spesifik boleh
mo umum boleh
mo ngocol2 boleh

Bahauddin Amyasi said...

saya pikir blog adalah terapi pembebasan, Kang Darin. apapun yang kita lakukan, yang kita tulis, yang kita ekspresikan --- selama tidak melangar etiket, maka sah-sah saja.

Darin said...

Ami, ceknya berhasil tuh :) Trims atas penambahannya.

Abdul Hakim, naah itu maksud saya :D jadi ga perlu teknis masalah pekerjaan, tapi curhat dan opini ttg pekerjaan itu sendiri. Eh, apa itu bisa jg disebut portofolio?

Bang Atta, lapak pribadi, saya baru denger istilah itu :D yup, betul bang terserah narablognya, saya cuma ingin mengajak diskusi saja :)

Bahauddin Amyasi, betul mas, dengan blog saya bisa bergerak leluasa mencari celah2 yg bisa dikembangkan dari kepribadian. Selama tak melanggar etiket, ya setuju sekali :)

John Terro said...

bagaimana dengan blog saya yang juga amburadul tak mempunyai tema khusus?
justru itulah yang bisa membuat saya bertahan di dunia blog karena tiada kekangan tema yang menggoda :P

Darin said...

John, kekangan yang menggoda? justru blog situ yang menggoda iman, hahaha :D

secangkir teh dan sekerat roti said...

portofolio itu apa ya kang.. ? hehehe

*goblok mode on. :)

John Terro said...

hahah ... begitukah om?
emang sih aku akui blog saya menggoda iman banget :D

Suparyanto said...

Memang blog cocok untuk apa saja. Tapi kalau untuk portofolio, takutnya jika blog ini gak bisa diakses, kita gak bisa nuntut siapaun,bahkan ke Blogger.

Belajar CorelDRAW said...

Belum kepikiran ke arah sana Sob..masih belajar ngeBlog....

iskandaria said...

Saya sebenarnya tidak begitu paham dengan makna istilah portofolio pribadi itu. Jujur lho mas. Tapi menyimak tulisan di atas, sepertinya antara portofolio dan personal itu bertentangan. Itu yang saya tangkap. Bahwa blog yang ditujukan untuk personal branding itu agak haram jika dimasukkan tulisan/posting yang bersifat personal (misalnya curhat atau cerita tentang pekerjaan/kehidupan sehari-hari).

Masalah sebenarnya sih balik lagi pada tujuan blog tersebut dibuat. Jika sekadar untuk melepas kepenatan lewat menulis, ya tidak ada masalah. Masalah fokus pada satu topik atau campur aduk, kayaknya saya sudah mulai jenuh mendiskusikannya..hehehe.

Yang jelas sih, setiap pilihan akan punya konsekuensi tersendiri. Itu saja.

Djangan Pakies said...

Assalamu'alaikum Kang,
terkategori blog apa milik saya, saya juga kurang paham, karena isinya campur aduk dengan bahasa yang mungkin masih sederhana untuk sebuah penulisan.
Kalau saya, terkadang menyelipkan beberapa postingan pribadi dengan tujuan untuk mengenalkan siapa sebenarnya saya. ini semua dengan harapaan akan terjalin komunikasi positip antar sahabat sehingga terjalin silaturrahim yang indah. Kalaupun itu pribadi dengan batas-batas tertentu, karena saya mencoba tidak curhar di blog, itu saja. maaf kalo koment pakies kurang nyambung. maklum masih nyubie

Ohya Kang, saya ijin pasang link blog ini, insya allah dengan tujuan menjalin silaturrahim dan banyak menimba ilmu di sini. Monggo ceck di link exchange kalo mboten sibuk.

ArdianZzZ said...

Yang penting batasannya.

Misalnya kita seorang desainer, portofolio dalam bentuk blog personal tidak hanya memperlihatkan apa yang telah kita desain, tetapi menjelaskan juga desainer seperti apakah kita sebenarnya.

eserzone said...

kalo menurut saya jangan dicampur bro antara personal blog dengan portfolio pribadi....
Dibuat blog yang baru saja, namun dengan konsekuensi akan menguras waktu yang lebih karena lebih dari satu blog yang kita urus

ph-internet said...

Kalau romancortes inspiratorku kira-kira blog seperti apa ya?

mas-tony said...

kadang perlu juga menampilkan siapa kita, tetapi sebatas kewajaran karena ada privasi juga
Lebih setuju kalo ekspoitasi personal itu bukan untuk publik

gajah_pesing said...

saia suka dengan tulisan ini :)

munir ardi said...

memang mungkin seharusnya buat blog khusus untuk portofolio pribadi pak dan kalau blog personal untuk mengembangkan potensi yang lainnya cuma saya agak latah dulu pilih judul berpikir positif padahal urlnya nama sekolah saya, jadi ikutan deh kegiatan profesi masuk ke blog tersebut

Skydrugz said...

blog ndak bakal saya jadikan portofolio pribadi... :D


privasi2.... :D


justru blog jadi semacam pembentukan pribadiku yg lain...


saatnya memecah kepribadian saat di dunia maya :D

Kakaakin said...

Wah, blog saya kayaknya nyampur banget. Masalah pekerjaan kadang diposting, meskipun tetap ada batasannya.

Junaedi said...

Salam kenal maukah menjadi follower di blog saya

Abdul Malyk said...

masih belum bisa menjadikan blog sebagai porto folio pribadi,,

tomi said...

hihi.. sebenar nya gpp mas mencampurkan portofolio di dalam blog pribadi. Toh kan sama² berasal dari diri kita. Cuma mgkn kalau masalah design dan pekerjaan yg spesifik lebih baik dipisah. Jadi biar orang jg lebih merasa nyaman.

BlogNews said...

kalau menurut aku sih itu wajar mas menyisipkan portofolio ke dalam blog personal. Kan sekalian promosi. cm kalau dipisah kan orang jadi gak bingung dan bs melihat hasil karya pekerjaan kita dengan seksama di sebuah blog terpisah :D

ImamS said...

Menjadi lebih memahami siapa pemilik blog tersebut, dengan mengetahui profesinya.
Walau tidak melulu harus menggunakan tema yang sama dengan profesi tersebut.

mahabbahtedja said...

saya mah suka yang campur aduk, geje, urakan, dan tidak jelas. :lol:

Ahmad Budairi said...

Suka deh...

Laindo said...

blog personal isinya bisa apa aja, ditulis kapan saja dan dimana saja ... suka2 yg punya

Post a Comment