October 13, 2010

Blog: Sebuah Dialog Atau Monolog?

Asyiknya menikmati obrolan yang sahut-menyahut di blog Mas Is, syahdunya melumat bait-bait puisi ajib di blog Aulawi Ahmad, atau pun sekedar guling-guling ngakak saat melahap tulisan Itik Bali, adalah sebuah rutinitas yang mengasyikkan saat blogwalking. Fresh, genuine and inspirational!

Adakah persamaan topik tulisan dari ketiganya? No. Perbedaan? Itu pasti. Namun satu yang jelas, nuansa saat membaca blog-blog yang dicontohkan di atas tentu berbeda. Saya, dan mungkin juga dengan sobat memiliki pengalaman dan pandangan sendiri tentang hal ini, yaitu menyinggung soal perbedaan perspektif saat membaca blog. Oh ya?

Gini, seperti yang sudah diketahui bersama, blog adalah salah satu media yang bersifat interaktif. Meninggalkan basis web 1.0 yang bersifat statis, blog lahir bersamaan dengan brojolnya format web 2.0 yang mengizinkan pengunjungnya tuk memberikan feedback, komentar, bahkan chat secara live dengan empunya situs. 


Nah, apakah itu berarti dialog adalah sebuah keharusan dalam sebuah blog? Saya kira itu tergantung dari banyak hal. Niche blog, tipe, tema penulisan yang diusung, bahkan kesempatan online si narablog sendiri bisa jadi bahan perhitungan. Blog tutorial biasanya lebih mengkonsumsi banyak diskusi, karena memang sifatnya seperti sebuah kelas virtual, ada yang mengajar dan ada yang bersedia diajar. Setali tiga uang dengan blog diary, khususnya blogger dengan kesamaan minat dalam hal tertentu yang saling share pengalaman-pengalaman pribadinya.

Dan untuk blog ber-genre puisi, musik, cerpen dan resensi, dialog yang tercipta - yang saya lihat - hanya sebatas memberikan apresiasi, menanyakan referensi dan terkesan mendiamkan diri. Maklum saja, blog-blog jenis ini biasanya digawangi oleh narablog yang berjiwa seni, jadi seperti jika kita berpapasan dengan Goenawan Mohamad, apalah gunanya bertanya dan menyuarakan pendapat? Just sit and enjoy it, right?

Jadi?
Dialog ataupun monolog, dalam sebuah blog tentu memiliki daya tarik tersendiri. Ya, meski tak dapat dipungkiri, daya serap, latar belakang pendidikan dan bahkan kemampuan imajinasi pembaca menjadi tolok ukurnya. Dan saya rasa, pilihan antar kedua sifat tersebut sepertinya tak menjadi masalah berarti jika itu dikembalikan lagi pada sisi egoisitas si narablog. Suka-suka gue kan? :D

Mana yang menjadi rekomendasi sobat? Dialog atau Monolog?

image source: http://matadornetwork.com/notebook/photography-q-a/4-techniques-for-writing-bilingual-dialogue/

22 comments:

Mayyadah Or Maya said...

opsi pertama :P

Berpikir Positif said...

aku sembarang aja mas tapi sebenarnya lebih milih dialog cuma kalau masuk di blog yang begitu berbobot tulisannya ya menikmati aja membaca , nggak perlu komentar , takut nggak relevan dengan kontent

Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia said...

aku tuh maunya dialog supaya pengetahuan penulis bisa menurun dikitlah sama aku yang pengetahuannya nggak seberapa

inge / cyber dreamer said...

berdialog... karena dengan dialog mungkin juga akhirnya bisa membuat pembaca lebih mengerti akan isi posting, tapi selain itu juga pastinya berguna untuk narablog...

tapi kadang terlalu banyak komentar yang sekenanya sehingga dialog tidak terbangun dengan baik, sehingga lebih memilih untuk monolog *ngeles nie ceritanya mas he he...*

Darin said...

@bang munir: betul bang, tapi kadang kita bisa terpancing juga tuk memulai diskusi :)

@inge: yup, feedback yg bersifat menambah opini tuk tulisan lah yg memang ditunggu2 oleh tiap narablog. Makanya saya pengen banget ada yg sudi menuangkan opininya di kotak komentar, siapa tahu malah bisa menambah wawasan. ^_^

blogger admin said...

Kalu saya lebih ke dialog, tetapi saya tidak bisa ke semuannya karena blog saya berisi tutorial, mungkin hanya yang bertanya saja. Dan juga harap maklum karena pakai blogspot bukan wordpress yang bisa saling bersambut.

Aulawi Ahmad said...

Blog menurutku pada dasarnya bersifat monolog, bilapun terjadi dialog itu hanya berupa apresiasi berwujud tulisan yang bersifat membalas perhatian orang-orang yang komen di blognya :) btw tq namaku disebut diatas hehehe

Bang rachmat said...

mungkin lebih baik dialog tetapi hal ini masih ada kendala seperti tidak onlinenya si narablog sehingga tidak dimungkinkan percakapan dua arah.

debhoy said...

saya suka dua-duanya
karena kadang saya butuh teman bertukar pikiran
tp ada kalanya karya saya hanya bsa jadi wadah curhatan yg hanya bs dinikmati tak hrs d komentari :D

secangkir teh dan sekerat roti said...

harusnya bisa menjadi sebuah dialog...
meskipun pasif sekalipun :)

AISHALIFE-LINE said...

saya setuju denga ide Anda,bro.Maaf baru bisa bw ya..

albertus goentoer tjahjadi said...

aku pilih kedua-duanya mas...

vany said...

saia pilih 22-nya, mas..
kalo lg pgn baca karya sastra indah seperti puisi, cerpen, dsb saia pilih blog monolog..
walaupun kdg2 gak ngerti artinya dan bingung hrs berkomentar apa..
tp stidaknya saia menikmati gaya tulisan mereka...hehehe

kalo blog dialog enak juga krn bisa tercipta interaksi 2 arah, antara penulis dan pembaca
penulis hrs mnrima bila ada yg mengkritik tulisannya, dsb.
utk blog saia, saia cenderung mnrapkan dialog itu krn asyik jg diskusi dg pmbaca blog kita..
tp yg jd mslh kdg2 saia suka malas jawab komen krn alasan sibuk (memang sih) atau lainnya...hahaha

Tamba Budiarsana said...

Menurut saya, dengan dialog akan tercipta keakraban diantara blogger, saling menilai dan memberi masukan. Intinya semangat akan tetap pada kondisi maksimal seperti yang saya rasakan, jadi nge-Blog akan tetap lancar. hehe..

Kakaakin said...

Alangkah baiknya bila bisa jadi dialog ya...
Tapi ada seorang temanku yang sengaja menulis tanpa mempromosikan blognya kemana-mana. Katanya tujuannya nulis hanya sebagai diary yang kelak bisa dibaca anaknya jika sudah besar nanti :)
Suka-sukanya lah... :D

iskandaria said...

Seringkali saya merasa kemampuan mengemukakan gagasan bisa lebih berkembang ketika saya merespon/menanggapi komentar-komentar yang masuk. Tak jarang pemahaman saya akan suatu hal jadi ikut berkembang dengannya.

Jadi, membangun budaya dialogis di area komentar blog sangat positif untuk melatih nalar. Tidak semata untuk ajang keakraban. Kalau mau sekadar akrab-akraban, kenapa gak sekalian ketemuan aja di dunia maya...hehehe. Jadi sebisa mungkin kita manfaatkan dulu area komentar sebagai latihan bernalar.

Masbro said...

Kadang saya menulis dengan gaya2 monolog. Seringkali juga mencoba ruang2 dialog di artikel saya. Pada dasarnya, mengalir sesuai dengan apa yg kita rasa saat proses menulis. Ini pandangan subyektif dari saya mas, maaf kalau kurang benar;

Jasa Seo said...

kalau menurut saya lebih tepatnya di dialog

Kumpulan Puisi Persahabatan said...

sepertinya lebih ditekankan pada dialog kalau blog

Pasang Iklan Baris said...

Blog biasanya kebanyakan menjadi dialog

mobil keluarga ideal terbaik indonesia said...

bisa dialog maupun monolog tergantung bloggernya

andi sakab said...

berhubung saya berpredikat bloger curhat dan narablog yang engga berkompeten dengan topik serius. so i choice dialog!

Post a Comment