June 23, 2010

Book Review: Breaking Your Mental Block (2)

Halo Indonesianers! Salam berjumpa kembali dengan saya, sang blogger yang hampir murtad diterjang kemalasan, distractions dan kawan-kawannya! :D

Ok, langsung saja…

Melanjutkan postingan kemarin – yang hampir lumutan - tentang review buku Breaking Your Mental Block, saya buka dengan satu cerita fiksi dari buku ini, yang menurut saya mantap tuk disimak :)

Alkisah, ada seorang kakek yang tinggal dengan cucu-cucunya yang nakal. Pada suatu hari di siang bolong, karena kecapaian yang menghampirinya, sang kakek terlelap tidur di sebuah dipan favoritnya di dapur. Oleh para cucunya yang melihat kakeknya yang tertidur pulas, timbul niat tuk mengerjai. Diambillah kotoran ayam di dekat mereka.

Sambil berjalan pelan-pelan mendekati dipan dimana sang kakek tertidur, dengan menahan tawa geli yang menyelimuti mereka, dioleskanlah kotoran ayam tersebut di kumis si kakek.

Sampai pada akhirnya sang kakek terbangun dan mencium bau yang sangat tidak enak. "Ampuun, dapurnya bau sekali!", begitu keluh si kakek. Dengan setengah sadar, si kakek berjalan ke ruangan lain tuk melanjutkan tidurnya. Ternyata di ruangan tersebut ia juga mencium bau yang tidak enak. Akhirnya setelah berpindah ke beberapa ruangan di dalam rumah yang ternyata memiliki bau yang sama, si kakek ke luar rumah.

Setelah membuka pintu depan rumahnya, ia pun berteriak histeris, "Ya Tuhaaan..seluruh dunia ternyata bau!!"

The Way of Thinking
Apa yang bisa dipetik dari kisah yang membuat saya ngakak hingga mules itu? Ya, cara pikir dan sikap kita yang kurang tepat dalam merespon sesuatu. Bukan dunia atau orang lain yang salah, namun introspeksi pada diri sendiri lah yang kadang dilupakan.

Analogi dari kisah di atas bisa disimpulkan pada kutipan berikut…
Cara berpikir dan bersikap seseorang akan mempengaruhi sukses atau tidaknya dalam karir, profesi maupun pergaulan. Begitu pentingnya hingga suatu penelitian di Stanford University selama puluhan tahun menyimpulkan bahwa keberhasilan seseorang dalam karir, pekerjaan dan kehidupan ditentukan oleh 12,5 persen kepintaran dan latar belakang akademis, sementara 87,5 persen ditentukan oleh sikapnya.
Cool. Seakan me-rewind kembali kata-kata motivasi yang semenjak dulu menjejali fikiran kita. Emotional Intelligence lah, positive thinking lah, semua istilah-istilah aneh itu saya rasa berakar pada satu titik, yaitu sikap.

Untuk hal ini, saya intip sedikit tulisan dari buku The Magic of Thinking Big-nya David Schwartz, yang menempatkan lirik lagu You Don’t Need to Know the Language to Say You’re in Love-nya Bing Crosby, sebagai lirik psikologi terapan yang pantas tuk dijadikan rujukan.
With the moon in the sky
And a girl in your arms
And a look in her eyes
No you don’t have to know
You don’t have to know
The language isn’t necessary
‘Cause the meaning doesn’t very
The language isn’t necessary
Intinya, kita ngga perlu mengeluarkan sepatah kata untuk menyatakan bahwa kita jatuh cinta. Dari gelagat, sikap, cara memandang, bahkan dari gaya kita menulis status di facebook pun bisa keliatan bahwa kita memang tengah dilanda tsunami asmara :D. Sorry for the facebooker who have been offended, but yea... saya yakin siapa saja orang yang pernah jatuh cinta pasti tahu deh maksud saya *hehe* I hope so.

Well, menginjak halaman-halaman selanjutnya, saya tertarik tuk sedikit mengulas bab yang diberi judul Bagian Terinfeksi, yang membahas hal-hal yang menjadi penghambat seseorang tuk meraih kesuksesan, dimana itu hanya merupakan mitos atau ilusi semata…

The X Factor
Honestly, bagian ini adalah yang paling mujarab bagi saya yang selalu terjangkit penyakit ngeles. Ada-ada saja alasan yang dibuat, meski mengada-ngada, tapi hal itu sukses menempatkan saya terus menerus berkutat di zona nyaman, dan tiba-tiba terhenyak ketika segala sesuatu terasa melenceng dari jalur yang semestinya.

Apalagi penulis membukanya dengan kalimat…
…karena jika Anda ingin sukses dan menikmati kesuksesan pada suatu bidang, maka tidak ada alasan dan halangan yang dapat merintangi Anda untuk meraihnya. Karena pada prinsipnya, selalu ada alasan untuk apa pun.
Well, there is a reason for everything. Untuk itu, beberapa faktor pengingat berikut mungkin bisa mencerahkan dan sebagai pengingat bagi saya dan sobat semua untuk tidak lagi dijadikan alasan guna mencapai apa yang kita cita-citakan:

Faktor umur. Bila kita beralasan terlalu tua, ingat Kolonel Sanders yang memulai bisnis waralaba Kentucky Fried Chicken pada usia 65 tahun. Dan bila kita fikir terlalu muda, ingat Mozart yang pada umur lima tahun sudah menciptakan komposisi musik.

Faktor modal. Jika masalah itu yang kita pusingkan, ingat Purdi Candra, pendiri dan pemilik Grup Primagama yang sukses berat berkat metode edan berikut :
BODOL (Berani Optimis Duit Orang Lain)
BOTOL (Berani Optimis Tenaga Orang Lain)
BOSOL (Berani Optimis Sertifikat Orang Lain)
BOOOL (Berani Optimis Otak Orang Lain)
BOBOL (Berani Optimis Barang/Benda Orang Lain)
BOFOL (Berani Optimis Fasilitas Orang Lain)
Faktor indra. Ingat Stephen Hawking yang meski terkena tetraplegia, sejenis penyakit kelumpuhan akut hingga ia hanya mampu menggerakan bola matanya saja, mampu menjelaskan teori kosmologi lewat teori Big Bang dan Black Holes, serta menjadi penulis dari buku best seller 10 juta copy, The Brief History of Time. Tokoh lainnya yang familiar adalah Helen Keller, seorang wanita buta tuli yang menghentak dunia karena menjadi sarjana buta tuli pertama yang lulus dari Harvard University di usia 24 tahun!

Faktor fisik. Kenal Tukul Arwana? Komedian yang wajahnya menurut kebanyakan orang ngga enak dipandang itu kini sukses memandu salah satu Talk Show favorit di negri ini. Hal yang sama juga terjadi pada Oprah Winfrey. Memiliki wajah dan postur tubuh yang jauh dari kata ideal bukan halangan, karena mereka tahu kekuatan mereka dan mengoptimalkannya. Sehingga dengan kekuatan itu mereka dapat menutupi kelemahan yang ada.


Faktor kesehatan. Ada yang ngeles masalah kesehatan? Halle Berry, artis peraih Oscar ini sejak tahun 1989 telah mengidap penyakit diabetes tipe 1, yaitu penyakit kronis yang ditandai dengan hyperglikemia (kadar glokusa yang tinggi dalam darah), yang membuat sisa hidupnya hingga kini sangat bergantung pada insulin. Atau Lance Amstrong, pemenang 7 kali lomba sepeda paling bergengsi Tour De France, yang mengidap penyakit testicular cancer.

Faktor pendidikan. Pasti ngga ada yang ngga kenal Bill Gates, yang drop out dari kampus dan menjelma menjadi orang terkaya di planet ini dengan kekayaan sebesar 50 miliar dolar AS dan pemilik perusahaan yang mempekerjakan 61 ribu lebih karyawan di 102 negara. Yang di depan mata, ada Kaka Slank. Vokalis favorit saya ini ternyata ngga lulus SD men, tapi tau sendiri kan gimana fanatiknya fans Slank kemana pun mereka konser? :)

Faktor fasilitas. Bagian ini hanya analogi. Imam Ghazali, Imam Syafi’i dan ilmuwan-ilmuwan jenius zaman dulu yang belum ada komputer dan fasilitas canggih saja mampu melahirkan ratusan karya ilmiah yang tebalnya hingga ribuan halaman, bagaimana dengan kita yang baru menemukan sedikit kendala saja sudah mengeluh?

Ok, beberapa faktor di atas hanya sebagian dari keseluruhan isi di bab ini, yang bila saya uraikan mungkin bakal jadi postingan terpanjang di blogosphere :) Ya, saya tahu, ini terdengar klise, menjemukan dan seperti anti-klimaks dari postingan sebelumnya. Namun beberapa waktu hiatus dari kegiatan ngeblog, sepertinya membuat saya sedikit butuh adaptasi..ups, ngeles lagi kan? *hehe*

So, happy blogging sobat!

image source: http://ugimm.wordpress.com/2008/11/18/tukul-arwana-siap-beraksi-kembali/

41 comments:

Bahauddin Amyasi said...

Pertamanya? amankan dulu, Mas Darin...

Bahauddin Amyasi said...

Ah, review yang benar2 memotivasi. Sangat sepakat dengan posting di atas..
hidup adalah persoalan pola pikir dan pola sikap...

Sukses, mas.. Akhirnya kembali juga..hehe

Edwin's Personal Blog said...

trims mas darin. ini adalah sumber inspirasi besar namun belum banyak kita sadari. dari sini sesungguhnya kita bisa keluar dari kotak untuk berbuat sesuatu yang dahulu tampaknya tidak mungkin. tapi ternyata bisa. ternyata, semua karena adanya mental constraints selama ini..

Blog Ekspor Impor said...

faktor2 x yang mas darin suguhkan sungguh saya jadikan dorongan nih. thanks ya :)

Gallery indah said...

terimakasih kakdarin atas infirasinya

Land of Oase said...

Mantep... sarapan pagi yang menarik nih... Saya makin optimis dengan hidup ini mengetahui petikan berikut:

"12,5 persen kepintaran dan latar belakang akademis, sementara 87,5 persen ditentukan oleh sikapnya".

ajib bung!

Ferdinand said...

Pagi Sob...ap kbr nie??? udah lama ga maen kesini....smoga tetep sehat Sob...

wah review bukunya keren SOb...apalagi ada segala faktor2 tambahannya hhe..mantabz......aku koment yg faktor pertama ja deh.....

kayanya paling sering emank gtu Sob....nyalahin orang padahal belum tentu kita lebih baik hhe,...

Semangat N met aktivitas Sob..!!

Sudino Dinoe said...

benar-benar mantap reviewnya mas...

Gus Ikhwan @ ulasan SEO said...

akhirnya ketemu dan update postingan baru lagi ni, huf udah kangen dengan gaya tulisan bang darin, lamat tak jumpa dan lama tak nongol di jagat blogosphere

dan yang terakhir saya tambahin dikit Faktor berani Ambil Resiko, dan kebanyakan orang selalu bisa menghayal dan jalan di tempat, semua orang juga sering berfikir positif dan tanpa berfikir negatif, karena kalau kita berfikir akan dapat hasil positif kenapa difikir toh hasilnya juga positif dan pasti di raih atau di dapat, dan semua orang masih jarang untuk berfikir berani mengambil resiko

PRofijo said...

Untuk menjadikan dunia menjadi biru, tidak perlu mengecat seluruh dunia, cukup pakai kaca mata berlensa biru...:D

Nice post bro...

darahbiroe said...

wahhh picna
om tukul
lucu nya
:D

rizal said...

gambarnya keren,,,,,heeee

penghuni60 said...

lho, kok ada mas tukul ikutan nimbrung ya...
hehe... :D

ditunggu lg mas review2 slanjutnya!
BTW, wong cerbon jg y mas?

Science Box said...

numpang lewaaaaat.... slm knl sob!

NURA said...

salam sobat
reviewnya keren mas,
kalau dipikir Tukul tuh sama dengan Oprah Winfrey.
walau fisiknya jauh dari ideal tetapi dapat menutupi kelemahannya.
sudah terbukti ngetop kan?

Fajar said...

matur nuwun om....inspirasinya....tak copy ya...

nurrahman said...

bekrunjung balik om :D

the others... said...

Aduh... tega banget ngerjain kakek sih..?
Kasihan kakek, sampai stress gara2 'dimana-mana bau'... :D

ARUS RASYID said...

Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga, apalagi bagian kedua ini bagi saya benar-benar sebuah pencerahan.
Trims sobat. Semoga penyakit malesnya terbang jauh-jauh he he he...

Rizky2009 said...

kalau aq malah jarang baca buku sob , tp aq suka koleksi b uku

Joko said...

Memang jalan termudah untuk menyalahkan sebuah kegagalan, menyalahkan mengapa kita tidak bisa sukses adalah dengan ngeles menyalahkan apa yang menjadi kekurangan pada diri kita.

Laksamana Embun said...

Nice Post..

secangkir teh dan sekerat roti said...

so ada usaha ada jalan..
gak ada lu gak rame..
pria punya selera..

merokok dapat menyebabkan kanker, bla bla bla...

*lho?

bonk AVA said...

ayo semanga semangat, isi postingannya aja spiritual, masa' yang punya blog malas malasan hehe. ada aja alasannya....

inge / cyber dreamer said...

akhiiiiiiirnyaaaaaaaaaaaa.....
posting jugaaaaaaaaaaaaaa.....
kemana ajah mas?????

semangat semangat ^^

tomo said...

istil;ahnya lucu gan.
Murtad hehehe

uswah said...

faktor mudoal yang bikin ngeri

Aby Umy said...

lah kok ada pak tukul?
hehe

richoyul said...

harus selalu semangat buat nyari alternatif dari hal2 yang menghambat...... jangan ngeluh terus kaya aku ni heheh

Agung Prasetyo said...

Mungkin artikel saya berikut ini bisa menjadi tambahan mas.

Masih Pantaskah Kita Mengeluh?

senja said...

inspiratif dan sangat memotivasi untuk bersikap lebih baik,terima kasih membaginya disini ^^

selamat alam darin...semoga sellau baik :)

Inuel Nyun's said...

wow.. bener bener suntikan semangat, semua karena sikap dan kecxerdikan , serta tak gampang nyerah

senengnya punya Om tukul :P

TuSuda said...

Suatu wacana pencerahan spesial, tentang makna meraih kesuksesan dari dalam diri sendiri. Makasi atas motivasinya...

Puskel said...

Setuju banget, semua nilai sukses sudah ada dalam diri kita, tidak perlu dihambat lagi oleh berbagai alsan yang tidak penting. Makasi...

saka said...

Lama tak joempa mas :D
Lagi-lagi motivasinya bikin semangat di malam hari

vany said...

untuk sukses memang kita hrs keluar dari zona nyaman ya, mas darin...
i agree if everything happens for a reason....
tapi, faktor2 yg disebutkan di atas kalo dikaitkan dg tujuan kita ngeblog apa ya, mas?
bknkah kalo kita ngeblog biasanya alasannya siyh pgn kaya, pgn terkenal, pgn dpt teman, dsb?
hehehhe
kyknya memang bnrn tulisan ini anti klimaks ya, mas... :D
anw, tetap semangat ya, mas!!!!

Regi_Adi said...

review buku ya? keren nih tapi saya jarang baca buku hehehe

TUKANG CoLoNG said...

Buku motivasi ya? ada linknya buat donlod ebooknya gag? biar bisa baca-baca dirumah. hehe
keren buku ini.
thx ya udah mau sharing

dJumTKS Weblog said...

mantap, ikut juga faktor modal cara gila jadi pengusaha :-)

ridu said...

bagus banget ya bukunyaa...

saya pernah dengar cerita tentang bau tai ayam yang sebenernya adalah ditempelkan di bawah hidung si kakek itu, ternyata ada di buku ini :D

Corat - Coret [Ria Nugroho] said...

aku ga berkata-kata t p koq malsh dibilang nahan sakit perut yah hihihihi ;p

Post a Comment