December 4, 2010

Shorter is Better, But Harder

Matematikawan sekaligus filosofis Prancis, Blaisce Pascal, pernah mengatakan:
I have made this letter longer than usual, only because I have not had time to make it shorter..
Yup, kadang membuat satu tulisan singkat namun mengena itu lebih susah ketimbang kita menguraikan dengan belasan paragraf penuh bumbu-bumbu kata pemanis. Lebih mudah membabi buta dalam menyajikan satu topik dari sudut pandang yang beragam daripada menuangkannya di hanya satu baris kalimat.

Padahal, kabarnya, sebagian besar para netter itu mengidap attentionitis. Eh, apaan?

Attention-it-is, adalah frasa yang menjelaskan fenomena kemalasan user tuk memindai satu halaman situs web. Satu kasus, bila kita mengakses satu file youtube, jika di 10 detik pertama tampilan videonya kurang greget kita cenderung tuk pindah ke file berikutnya. Setali tiga uang, membaca paragraf awal satu postingan blog yang membuat ill feel pun jadi alasan kuat tuk buru-buru mengklik tombol close.

Attentionitis, bisa jadi biang kerok kenapa slogan shorter is better - alias makin pendek makin baik - itu marak digembar-gemborkan oleh pengusung tips-tips blogging. Iya juga sih, toh logikanya, buat apa menebar ratusan kalimat bila masalah itu clear dengan hanya satu kalimat utuh yang jelas.  

Hmm, kalau itu menyangkut kontes SEO, saya angkat tangan deh :)

Yang jelas, memang sulit untuk to the point, atau memang kita yang demen banget berbasa-basi? :D

Pendapat sobat?

December 2, 2010

Menulis Spontan

Tertarik dengan apa yang telah ditulis Pak Jonru di blognya. Beliau mengatakan..
Secara hukum alam, kita para manusia ini memang terbiasa mengerjakan apapun dengan otak kanan dulu baru otak kiri. Spontan dulu baru mikir-mikir. Ini adalah hukum alam, sangat sesuai dengan fitrah manusia.
Yang dilanjutkan:
Masalahnya: Dalam menulis kita justru melawan hukum alam. Kita melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia!
Meski saya bukan penulis, alias hanya blogger yang ngaku-ngaku bisa nulis *hehe*, pendapat di atas ada benarnya juga. Menulis bagi saya hampir mirip dengan membangun sebuah gedung. Saya bayangkan dulu gedungnya seperti apa, baru sibuk menghitung jumlah material, pekerja dan lanjut ke rincian biayanya. Dan cara ini lambat laun jadi kebiasaan. Nah, sayangnya, kebiasaan inilah yang menggiring saya tuk sering mentok dalam proses membayangkan tadi.

Jadinya tak heran, saya sering mengalami stuck, writer's block, atau apalah namanya, karena keseringan mematok harga tinggi pada bayangan kesempurnaan bangunan sebuah tulisan. Padahal itu sama saja dengan sengaja menelantarkan otak kanan yang sejatinya ruh dalam sebuah tulisan. Err, is that so? :D

Ya, gagasan tips menulis yang diutarakan Pak Jonru, yaitu mengedepankan spontanitas ketimbang analisis itu bisa jadi bahan pemikiran yang menarik. Sehingga apa yang dikatakan Natalie Goldberg itu benar adanya:
Jangan terlalu banyak berfikir
Dan petuah Bob Dylan...
Ide yang melintas pertama kali dalam fikiranmu adalah sesuatu yang paling kuat.
Atau, celetukan Allen Ginsberg:
Sudahlah, tendang saja bolanya
Ok deh, yuk mari spontan dalam menulis! :D 

November 30, 2010

Love What You Do

Wisdom in the air, itu nama dari suplemen majalah yang kerap saya baca dalam kabin pesawat. Mungkin ada yang bertanya-tanya setelah saya menulis postingan di sini dan di sini, dan dalam kesempatan perjalanan ke Kupang kemarin, saya sempatkan tuk melirik judul suplemennya, nah, ya..that’s it, wisdom in the air.

Setidaknya kalimat itu cocok tuk menenangkan saya yang masih sering terkena sindrom aerophobia :)

Hmm, artikelnya dimulai dengan perjalanan sejarah sebuah perusahaan teknologi komputer terkemuka, Apple. Inc. Sobat bisa menjelajah referensi tentang detail kisah yang merevolusi penggunaan Personal Computer (PC) di era 70-an itu, karena saya hanya tertarik tuk sharing benang merah dari lika-liku hidup salah satu pendirinya, yaitu Steve Jobs.

Tahun 1985, saat Apple Inc. tengah menikmati perkembangan pesat, Jobs diberhentikan oleh manajemennya sendiri dengan alasan sudah tak ada kecocokan visi. Sebuah peristiwa yang sangat ironis, mengingat Apple-lah tempat dimana mimpi-mimpinya menuai realita dan disanalah semuanya berawal.

Jobs down. Lalu ia berusaha mengurai kesedihan dengan bersepeda dan berpetualang keliling Eropa. Di tengah kegalauan itu, di benak Jobs sempat terbersit tuk mengubur dalam-dalam dunia teknologi yang membesarkannya dan memulai hal baru. Namun itu sia-sia. Jobs tak pernah bisa menghilangkan ambisi dan kecintaan pada teknologi. Dan untuk menebusnya, Jobs mendirikan NEXT, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perakitan komputer, yang kemudian memberi jalan baginya tuk mengakuisisi perusahaan film animasi terkenal, PIXAR.

Meski NEXT tak memberi hasil yang memuaskan dalam hal komersil, PIXAR menunjukkan pada dunia bagaimana tangan dingin seorang Steve Jobs melahirkan trend baru dalam dunia perfilman animasi. Memang betul, siapa sih yang ngga suka Toy Story, Finding Nemo dan The Incredibles? :)

Sebaliknya, era kebangkitan Jobs ternyata tak sejalan dengan Apple Inc. yang tengah berjuang menghindari jurang kebangkrutan karena sepak terjangnya tergerus oleh dominasi Microsoft dan IBM. Nah, di sinilah rasa cinta itu kembali diuji. Jobs mengesampingkan sentimen pribadi dan kembali membuka pintu bagi perusahaan yang dulu pernah jadi tumpuan impiannya itu. Singkat kata, ce el be ka, alias cinta lama bersemi kembali kali ye :D

Selesaikah urusannya? Belum. Karena banyak pihak yang meramalkan Jobs takkan mampu tuk mengangkat kembali Apple Inc dari ranah degradasi. Dan Jobs pun berujar...
Saya yakin bahwa satu hal yang bisa membuat saya bertahan adalah bahwa saya mencintai apa yang saya lakukan. Kita harus mencari apa yang sebenarnya kita cintai. Dan adalah benar bahwa pekerjaan kita adalah kekasih kita. Pekerjaan kita akan mengisi sebagian besar hidup kita. Dan satu-satunya jalan untuk bisa mencapai kepuasan sejati adalah melakukan apa yang kita yakini.
Mantap. Saya sampai membaca berulang-ulang kali saking terpesonanya :D

Energi cinta yang dipancarkan Jobs meledak di tahun 2001, dimana Apple Inc meluncurkan salah satu produk pemutar media digital yang fenomenal, iPod. Bukan itu saja, perusahaan ini juga melahirkan Mac OS X, yaitu sebuah sistem operasi komputer yang membuat Windows dari Microsoft seperti ngga ada bagus-bagusnya. Tak pelak lagi, dua produk itu adalah sebuah lompatan besar yang pernah dialami Apple Inc. Great.

Epilog
Love what you do, mungkin itu pesan yang tersirat dari artikel singkat ini. Dan bila dikaitkan dengan aktivitas blogging yang saya alami akhir-akhir ini, bisa jadi ini sebuah pembelajaran yang sangat baik. Sedikit banyak memberi pemahaman yang lebih terang, bahwasanya - memang - saya harus mencintai apa yang saya lakukan, yaitu blogging itu sendiri :)

Dan Steve Jobs pun telah membuktikan mantra itu.

So, happy blogging everyone! ^_^

November 28, 2010

Asumsi Itu...

Saya masih ingat kala awal kali bergumul dengan media tulis online bernama blog dulu. Saya beranggapan bahwa setiap narablog pastilah seorang yang melek ilmu, beredukasi, atau setidaknya tahu apa yang ia tuliskan dan faham apa efek bagi yang membaca tulisannya. Asumsi itu mungkin tak lepas dari pengalaman, karena memang blog-blog yang saya temukan saat itu benar-benar membuka wawasan, menggairahkan dan membawa saya ke alam kesadaran baru, yakni kesadaran bahwasanya blog adalah wadah sharing yang hebat.

Coba tengok blog Fatih Syuhud, Paman Tyo dan - yang akhir-akhir ini jadi perhatian saya - Agus Siswoyo. Mereka adalah sedikit dari sekian blog yang bisa dibilang mature, layak baca dan tak percuma melewatkan waktu tuk dijelajahi. Sense of reading yang didapat pun tak main-main, sebab tak hanya sekedar pemahaman baru yang didapat. Kegembiraan atas terpenuhinya hasrat utama, yaitu membaca, sekaligus secara tak langsung mengajarkan pada saya akan arti pentingnya kerendah hatian saat menulis, itu cukup memberi alasan kuat mengapa saya mematok nilai plus untuk mereka.

Nah, beberapa hal menjadi terasa krusial saat saya harus dihadapkan pada kenyataan, bahwa kini asumsi saya mengalami pergeseran. Kini sering saya temukan blog-blog dengan tulisan yang membuat saya tak nyaman, yang memicu saya menulis postingan kemarin (baca: Kedewasaan Bersikap Dalam Blogging), dan itu menghasilkan opini ekstrim, yang jadi biang keladi kenapa saya menulis postingan nyeleneh berjudul Melangsingkan Perspektif Blogwalking.

Saya rasa aneh. Dan makin aneh lagi saat saya sadar bahwa tak ada gunanya membahas polemik, yang saya tahu, bakal tak menemukan ujung pangkalnya.

Hmm, sebentar. Apa ini salah satu alasan kita asyik ngeblog, yaitu menuliskan sesuatu yang tak ada ujung pangkalnya? :D

Saya harap ngga begitu. Dan semoga asumsi saya masih seperti yang dulu.

Regards.

November 23, 2010

Hello World Lagi?

Nothing to say..

Just hello ^_^

November 22, 2010

Cheshire Cat is Right!

Ada dialog unik di novel Alice’s Adventure in Wonderland. Saat itu Alice yang hanya ditemani oleh seekor kucing ajaib bernama Cheshire Cat, tengah tersesat di hutan yang gelap, dan Alice pun berkata, “Tolong beritahu aku kemana harus melangkah pergi dari sini!”
“Itu tergantung kamu mau pergi ke mana,” jawab si kucing.
“Aku tidak peduli kemana,” jawab Alice.
“Kalau begitu, tidak masalah jalan mana pun yang kamu ambil,” sahut si kucing.

Dialog singkat di atas terlihat sepele, tapi entah, saya jadi mendadak masygul. Jikalau saya menempatkan diri sebagai Alice dan tak tahu kemana akan pergi, tentu saran dari si kucing ada benarnya, alias kemana pun saya melangkah tak kan jadi masalah.

Betul juga. Kenapa harus pusing-pusing memikirkan langkah yang akan diambil bila jalan yang ditempuh tak tahu arahnya kemana? Mengapa juga mesti nguthek-nguthek progres jika hasil yang akan didapat tak ada dalam bayangan sama sekali?

Dan bila gagasan itu dikaitkan dengan blogging, hasilnya akan sangat-sangat absurd. Saya pribadi, yang sampai sekarang belum jua ngeh kenapa saya bisa nyasar nulis-nulis di media blog, mungkin bakal senasib dengan Alice. Tak memperdulikan apapun konsekuensi dalam aktivitasnya karena memang, I have no idea where I’m gonna up to. Kecuali satu hal, narsis tentunya ^_^

Indonesianer pun cenderung tuk menganut faham seperti yang dilukiskan di atas. Blog personal ini non-profit, and always be kalau kata facebook :D Thus, sepadan dengan itu, wajar kiranya jika saya tak menorehkan sebiji pun iklan di sini. Namun - yeah - tak menutup kemungkinan, blog ini adalah sebuah jembatan bagi saya tuk mengenyam pengalaman blogging ke level selanjutnya *opo kui? :D*

Yup, Cheshire Cat is right. Selama tujuan ngeblog belum ada bayangan, ya sudah, enjoy saja corat-coret di media paling asyik ini!

image credit: http://sillyhumans.blogspot.com/2008/09/cat-blogging-by-proxy.html

November 19, 2010

Menggeser Zona Nyaman Dengan Visi

Apa yang dialami Chelsea akhir-akhir ini, mungkin adalah efek dari ganasnya virus yang bernama zona nyaman. Gile aje, di saat ada kesempatan tuk melebarkan jarak dengan pesaing-pesaingnya, minggu malam kemarin The Blues malah melempem dihajar oleh tim medioker - Sunderland - dengan 3 gol tanpa balas. Sangat kontras dengan apa yang terjadi di fase terakhir Liga Primer musim lalu, dimana Chelsea tengah diburu musuh bebuyutannya, MU, dengan selisih hanya satu poin, The Blues dengan beringas menggasak Wigan Athletic 8-0 sekaligus menasbihkan Chelsea sebagai kampiun Liga Inggris!

Benang merah dari paragraf singkat di atas adalah: sungguh hebat efek dari perasaan tertekan, dan sebaliknya, sangat mengenaskan bila kita terlalu terbuai dengan kenyamanan.

Apa Itu Zona Nyaman?
Sulit menerangkannya, sesulit bagaimana saya sendiri mengenali zona tersebut. Pun di dunia online dan offline sudah banyak motivator dan inspirator yang kerap menyinggung kalimat ini. Jadi saya ngga akan mendefinisikan secara detail, kecuali mungkin mencoba memberikan opini yang mungkin bisa jadi bahan introspeksi saya pribadi maupun sobat Indonesianer.

First, sebelumnya kita menyimak dulu analogi berikut:

Bila kita punya uang 5000 rupiah untuk ongkos pulang, mana yang dipilih: ojek dengan ongkos Rp. 2000,-, angkot Rp. 3500,-, atau bus kota AC dengan tarif Rp. 4800,-?

Mungkin banyak dari kita akan menjawab: tergantung situasi dan kondisi. Yap, sikon sangat mempengaruhi bagaimana kita memilih moda transportasi sekaligus secara tidak langsung membentuk zona nyaman. Di saat tanggal muda, keadaan keuangan membaik, tentu kita tak ragu tuk menaiki bus kota AC. Kita nyaman-nyaman saja meski harus membayar lebih mahal, toh tak ada yang perlu dikuatirkan.

Beda halnya jika situasi keuangan tengah dirundung duka (dramatis banget ya? *hehe*), keluar uang seperak pun kita sangat perhitungan, so, ber-semriwing ria dengan ojek pun jadi pilihan yang rasional. Meski itu tak nyaman, namun kita dengan otomatis memaksa tubuh tuk menyamankan diri.

Berarti zona nyaman tiap orang itu relatif dong? Betul. Dan semua yang bersifat relatif itu tak ubahnya posisi pion-pion catur, bisa digeser kesana-kemari sesuai kebutuhan. Boleh-boleh saja kita mandeg, stagnan dalam satu kondisi, namun jangan lupa, bahwa semua yang kita lakukan pasti menghadirkan konsekuensi.

Ok, ojek dan bus kota lewat, mari kita berpindah pada analogi berikut:

Kita sudah graduate dan segar bugar mencari kerja ke setiap perusahaan. Dari pengalaman orang lain, teman, bisik-bisik tetangga dan semacamnya, kita lalu mematok gaji yang cukup nyaman tuk didapat dan sesuai dengan kapasitas kemampuan kita adalah berkisar antara 2 juta hingga 4 juta rupiah perbulan. Pabila ada tawaran job dengan gaji 1,75 juta perbulan, kita ragu dan cenderung mengabaikan. Pun bila ada yang menawarkan pekerjaan dengan gaji 5 juta perbulan, kita langsung berfikir: wow kegedean! Pasti dibutuhkan seseorang yang kapasitasnya melebihi saya! dan akhirnya kita pun merelakan job itu diembat orang.

Zona nyaman ternyata berada diantara nilai minimal dan maksimal yang kita tentukan sendiri harganya, dan tendensi kita membawa kenyamanan bila apa yang kita dapat berada pada range tersebut. Bila kurang, kita terancam, dan kalau terlalu lebih, kita jadi tak nyaman. Dan jika dikembangkan, nilai minimal dan maksimal ini tak melulu dalam hal nominal gaji. Bisa berlaku pula pada pemilihan pasangan hidup, kriteria rumah idaman, bahkan hal remeh seperti pemilihan topik postingan di blog. See?

Jadi...
Dari dua analogi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa - kira-kira - zona nyaman itu adalah zona dimana kita merasa nyaman untuk melakukan sesuatu tanpa ada tekanan. Zona dimana semua urusan terlihat terang benderang, dan kita sangat-sangat terganggu jika suatu saat zona itu terancam oleh hal yang kita anggap 'tidak seharusnya' ada.

Oke, kita telan dulu saja definisi itu, yang kemudian muncul adalah pertanyaan: baik atau buruk kah kita dengan zona nyaman yang kita miliki sekarang? Versi jawabannya mungkin akan seperti kasus hukum yang belum terselesaikan di Republik ini, alias banyak sekali! Dan semua akan setuju kalau faktor yang teramat penting dalam penentuan jawaban itu adalah faktor psikologis.

Ya, karena baik tidaknya zona nyaman yang kita miliki adalah murni produk alam bawah sadar kita. Gini, kita kadang tak mampu memberikan gambaran secara visual apa dan bagaimana zona nyaman yang kita miliki, lha terus gimana mau menilai itu baik atau buruk? Betul? 

Visi Adalah Kunci
Sedikit melebar, kalau saja Thomas Alva Edison sudah cukup nyaman dengan gelap-gelapan saat tenggelam di laboratoriumnya, apakah kita akan dapat menikmati indahnya kerlap-kerlip lampu di kota? Jika saja Wright bersaudara masih nyaman dengan hanya memandangi burung-burung yang berterbangan sambil menghayal tanpa aksi, adakah kita bisa melakukan penerbangan Solo-Kupang yang berjarak sekitar 900 km dengan waktu kurang dari dua jam?

Dan kenapa mereka mau-maunya susah-susah keluar dari zona nyaman hanya tuk menciptakan sesuatu yang belum tentu direalisasikan dengan mudah? Sekedar catatan, Edison melakukan kesalahan sebanyak 9998 kali sebelum akhirnya menemukan konsep lampu pijar, dan Wright bersaudara pun rela diteriakin orang gila! Apa yang menggerakkan mereka? 

Satu kata: visi.

Nah, sekarang, setelah tau zona nyaman itu apa dan visi itu bagaimana, iseng-iseng saja kita cocokkan, apakah keduanya sudah klop dan sejalan, atau berseberangan yang lalu kemudian kita buat itu seolah-olah sejalan? Apakah benar yang kita rasakan nyaman itu adalah juga sesuai dengan kenyamanan dalam visi hidup kita? Dan satu pertanyaan yang menggelitik: bagaimana jika zona nyaman tak selaras dengan visi yang kita punya?

Katanya Mudah, Tinggal Geser Saja!
Satu artikel menarik yang saya dapat saat searching referensi, yaitu dari Supardi Lee, yang katanya...
Satu-satunya cara meraih kemajuan hidup adalah dengan menggeser zona nyaman. Geser batas atas zona nyaman anda ke tingkat yang lebih tinggi, begitu juga dengan batas bawahnya. Misalnya anda pebisnis dengan omset minimal Rp. 1 Milyar dan omset maksimal Rp. 10 Milyar. Bila anda ingin tambah maju, maka langkah pertamanya secara mental anda geser dulu batas-batas zona nyaman tersebut. Misalnya batas atasnya jadi Rp. 20 Milyar (naik 100%) dan batas bawahnya jadi Rp. 10 Milyar (naik 1000%)...
Busyet! Hmm, sebetulnya saya agak silau dengan pemisalan bermilyar-milyar itu :D Tapi kalau direnungkan, perihal geser-menggeser itu ada benarnya juga, yang mana itu secara tidak langsung akan memberi efek psikologis tak nyaman bila kita tidak berada di range yang telah kita tentukan sendiri. Contoh konkritnya ya kembali ke analogi gaji tadi, geser saja standar gaji yang membuat kita nyaman di kisaran 3 juta - 6 juta...

Waw, semudah itu kah? :D
Move out of your comfort zone. You can only grow if you are willing to
feel awkward and uncomfortable when you try something new. (Brian Tracy)
Ada yang berani?

November 12, 2010

Kebenaran Atau Pembenaran?

Sekali lagi, saya mendapat suplemen yang bagus dari free magazine di atas kabin saat perjalanan Kupang-Surabaya kemarin. Kali ini artikel itu dimulai oleh suatu kisah yang kira-kira berbunyi seperti berikut...

Pada suatu hari - kenapa mesti semua cerita dimulai dengan kalimat ini? - ada seorang pemuda dari desa yang terkagum-kagum dengan ramainya suasana kota. Ia tercengang menatapi megahnya gedung-gedung pencakar langit dan geleng-geleng kepala menyaksikan riuhnya kendaraan yang berseliweran. Sampai suatu saat ia mendapati sebuah kerumunan orang yang kelihatannya sedang menonton sesuatu yang menarik. Apaan tuh?

Dengan susah payah ia menyeruak di antara kerumunan dan akhirnya berdiri tepat di jajaran paling depan. Yang didapatinya adalah seseorang berjubah hitam yang tengah berteriak-teriak berjalan berkeliling, melingkari sebuah meja dengan sesuatu yang ganjil di atasnya.

"Saudara-saudara! Ini adalah alat paling mutakhir sedunia! Tak ada yang mampu menandingi kehebatannya!" Lalu ia memandangi penonton di sekelilingnya dengan tajam, dan tatapannya berhenti di mata pemuda desa tadi.

"Hey kamu!" teriaknya seraya mengacungkan jarinya ke arah si pemuda. Merasa bingung, pemuda desa itu celingukan, mencari tahu siapa yang ditunjuk. "Hey, iya kamu! Yang pakai baju belang-belang!" Dengan polos si pemuda melihat kaosnya sendiri, lalu dengan kikuk ia maju ke depan.

Orang berjubah hitam itu menggandeng pemuda ke sisi meja, sehingga tepat menghadap ke benda ganjil tersebut. Pemuda desa memandangi benda aneh yang baru kali ini dilihat seumur hidupnya. Berbentuk seperti tabung yang berdiri miring, ditopang oleh besi-besi dan dibawahnya ada mangkok kecil berisi sekelopak bunga.

"Coba kamu lihat seperti ini!" sahut orang berjubah hitam sambil memperagakan sesuatu. Pemuda desa itu menurut dan meletakkan pandangan di atas tabung. Sedetik pertama ia belum mengerti apa yang dilihatnya, hingga akhirnya ia berteriak kaget. "Luar biasa! Sangat indah sekali!" Ya, ia melihat detail serat-serat bunga yang menakjubkan.

Penonton saling pandang keheranan. Lalu orang berjubah hitam mengganti kelopak bunga dengan sepotong berlian, dan kembali pemuda desa itu berteriak-teriak girang. Begitu pun saat menaruh segelas air, teriakan si pemuda makin menjadi-jadi. "Gila! Hebat! Ini memang alat yang sangat luar biasa!" semburnya.

Dan tanpa waktu lama, si pemuda desa langsung membeli alat itu yang di kemudian hari dinamakan dengan mikroskop.

Sesampainya di rumah, di desanya yang sepi dan permai, ia pun mulai melakukan banyak eksperimen. Banyak benda-benda di sekelilingnya yang ia teliti di bawah alat ajaib itu, dan dari waktu ke waktu ia makin takjub, karena ia dapat melihat kebenaran dari apa-apa yang selama ini ia lihat dengan kasat mata. Sebongkah batu ternyata adalah kumpulan kerikil yang menempel, sejumput rumput ternyata rimbun oleh jutaan helai dedaunan, dan sehelai rambut ternyata diselimuti oleh wol yang amat tebal!

Ia masih tersenyum gembira saat menyantap makanan dengan sambal kesukaannya, yang tiba-tiba menyadarkannya akan suatu hal. Ooh, kalau begitu apa ya kira-kira isi yang sebenarnya dari sambal kesukaan saya ini? Fikirnya. Lalu dengan antusias ia tempatkan sesendok sambal di bawah alat ajaib itu.

Apa yang dilihatnya sungguh di luar dugaan, ada ribuan cacing-cacing kecil menari-nari di dalam sambal itu dan membuatnya kaget terjengkang. Shock!

Belum pernah si pemuda mengalami kebingungan seperti saat ini. Sambal kesukaannya adalah yang terenak, terbaik dan menjadi santapan wajib baginya. Namun semua menjadi sebuah pertanyaan besar karena ternyata oleh alat sialan itu terlihat sebagai kumpulan cacing!

Mana yang benar? Mana yang lebih benar? Setelah terdiam beberapa lama, ia lalu mengambil alat itu, membantingnya ke tanah lalu dan rasa benci yang menyala-nyala, ia hantam dengan sebilah kayu hingga hancur berkeping-keping.

Intisari
Kadang saat kita inginkan sebuah kebenaran, dan ketika kebenaran itu tak sejalan dengan apa yang selama ini kita yakini, maka kita akan melakukan pembenaran dengan mengacuhkan kebenaran, dan bahkan menghancurkannya!

Berapa banyak dari kita terjebak dalam pola yang sama, dengan begitu mudah melakukan pembenaran atas apa-apa yang telah menimpa hidup kita? Dengan menyalahkan situasi, mengurai banyak alasan, dan bahkan menghakimi diri sendiri. Padahal kebenaran sejatinya adalah sebuah kenyataan, tak masalah bila ia dibenarkan atau disalahkan, karena ia akan tetap menjadi sebuah kebenaran. No matter what!

Meski saya sudah mendarat dan berjalan-jalan di gedung terminal, efek psikologis artikel itu masih menggelayut, meminta kejelasan lebih lanjut yang mungkin tak akan saya dapati jawabannya dalam waktu dekat. Sempat juga berfikir: apa pemuda desa itu adalah gambaran dari diri saya seutuhnya?

Bagaimana dengan Anda-anda sekalian?

November 9, 2010

Blog Personal Sebagai Portofolio Pribadi, Mungkinkah?

Saya pernah menerbitkan, atau lebih tepatnya sharing, tentang beberapa project yang sempat saya ikuti, seperti yang tertuang pada kisah-kisah berikut:
Hal itu saya lakukan tiada lain yaitu untuk lebih memperkenalkan diri saya di blogosphere dan mencoba menyisipkan sedikit portofolio di antara sebagian besar postingan-postingan dengan topik yang saya minati. Atau yeah lumayan lah buat ajang narsis :D

Ada yang menarik, mengingat antara profesi dan apa yang saya sering tuangkan dalam media blog kadang menemui kontradiksi, entah itu kentara maupun tidak. Saya sendiri mengakui, kontradiksi itu bisa sangat mengganggu, baik bagi saya sebagai penulisnya maupun - mungkin - bagi pengunjung yang membacanya. Well, bisa jadi inilah resiko blog yang tak mempunyai niche spesifik.

Lain halnya bila dibandingkan dengan narablog yang juga desainer web. Sebagai contoh, Pak Zam, Satrya, juga Oom Agus. Mereka malah terbalik, biasanya rikuh menerbitkan postingan yang berbau keseharian. Hmm, atau ini yang dibilang orang blog yang memiliki niche spesifik?

Saya kira bukan itu saja, mereka telah mampu menjadikan media blog sebagai portofolio pribadi!

Ya, portofolio pribadi, atau satu wadah untuk menampung hasil-hasil karya seseorang sesuai dengan spesifikasi pekerjaannya. Bila di dunia offline portofolio bisa menjadi penunjang curriculum vitae yang sangat bagus, di dunia maya efek yang dihasilkan akan sangat dramatis, mengingat begitu luasnya cakupan jaringan internet.


Nah, lalu bagaimana nasib blog tak bertema khusus seperti Indonesianer ini? Apakah bisa disulap menjadi sebuah portofolio pribadi? Saya jawab, mungkin saja. Tapi konsekuensinya, saya akan kehilangan kesempatan tuk mengembangkan diri sendiri di luar dari profesi yang saya tekuni. Dan itu bertolak belakang dengan feel blogging yang selama ini saya nikmati.

Jadi yah, tak ada cara lain selain apa yang telah saya tuliskan di awal-awal paragraf tadi, hanya sesekali menyisipkannya. Namun ya tetap saja gagasan mengenai portofolio itu sepertinya oke juga.

By the way, selain Deddy Andaka yang seorang dokter, Munir Ardi seorang guru dan Big Sugeng yang berprofesi sebagai auditor perpajakan, saya belum menemui lagi - atau lupa - blogger-blogger yang sempat menyisipkan hal-ihwal seputar pekerjaannya di media blog.

Sobat setuju bila blog personal dicampuri dengan portofolio pribadi? Atau sebaiknya ada blog lain yang khusus mewadahi itu?

November 8, 2010

Kedewasaan Bersikap Dalam Blogging

Dinamika di kampung maya yang bernama blogosphere ini sungguh mencengangkan, karena kini tak lagi dimiliki oleh hegemonitas penyampaian inspirasi, motivasi maupun pesan-pesan positif. Saya yang tadinya enjoy, sekarang mulai mempertanyakan lagi, apakah saya cukup dewasa tuk menghadapi keragaman ini?

Saling serang karakter, centang perenang dalam sindir-menyindir, tak ketinggalan menafikkan dialog dan mengutamakan ego pribadi, seakan bukan lagi barang haram yang sepatutnya dijauhkan dari seorang narablog - yang notabene adalah seorang public figure untuk blognya sendiri.

Sekali lagi, apakah saya cukup dewasa untuk menghadapi ini?
A mature person is one who is does not think only in absolutes, who is able to be objective even when deeply stirred emotionally, who has learned that there is both good and bad in all people and all things, and who walks humbly and deals charitably (Eleanor Roosevelt)
Objektif, rendah hati, dan selalu berfikir positif pada setiap orang. Apakah sifat-sifat itu sudah melekat pada diri saya sehingga saya bisa lolos fit and proper test dan layak tuk bergaul di blogosphere? Apakah bisa, karena semua tau ngeblog itu bukan masalah layak atau tidak, melainkan: punya koneksi internet atau tidak?

Kadang saya berfikir, apakah ngeblog ini hanya untuk jangka pendek, sehingga kita tak malu lagi menuliskan sesuatu yang tak pantas, yang tanpa kita sadari itu tertancap lama di benak pembaca, dan otomatis membentuk persepsi jangka panjang?

Hey, ini blog gue, suka suka gue dong! Ok, whatever. Tapi ingat, somebody out there is watching us...


Nah, pembaca yang budiman, apa sih arti dari kedewasaan bersikap dalam blogging itu?

image credit: http://yudidie.deviantart.com/art/watching-you-151088978

November 7, 2010

Memaksimalkan Personal Branding Dengan Mendongkrak Keunikan

Sepertinya kalimat ajaib personal branding makin hangat saja diobrolin di blogosphere. Sehingga saya yang tadinya cuek, jadi ikutan latah, merasa gatel tuk sekedar sharing opini.
Even individuals need to develop a brand for themselves. Whatever your area of expertise, you can take steps to make people think of YOU when they think of your field. (Accelepoint Webzine)
Brand, cap, sematan, atau apalah, pasti berbenturan antara dua hal, yaitu: apa yang kita tawarkan, versus apa penilaian orang lain atas penawaran kita tadi. Dua kutub itu bisa jadi saling bertolak punggung, bisa pula saling merekat kuat, tergantung bagaimana persepsi kita dalam memaknai personal branding tersebut, sekaligus menerapkannya pada dunia blogging.

Let's see these...


Jika kita butuh seorang web designer, kira-kira dari frontpage di atas, mana yang jadi pilihan pertama?

Itu baru dari template. Sekarang mari lihat yang ini...


Kalau ingin menghadirkan badut di sebuah pesta anak-anak, mana sosok-sosok di atas yang cocok disertakan?

Terakhir, mari menyimak beberapa style menulis berikut:
  • Saya mencoba memberikan pandangan tentang Personal Branding...
  • Kucoba menguraikan makna Personal Branding yang konon...
  • Gue rasa, Personal Branding tu semacam kode etik marketing...
  • Ane pernah baca gan, Personal Branding penting banget untuk...
  • Personal Branding? What the hell is that? Saya hanya tau tentang...
Sebenarnya Apa Itu Personal Branding?
Jujur, saya malah cenderung mengartikannya dalam sisi psikologis, karena sangat-sangat bersifat personal.
Personal means "of or pertaining to a person, or belonging to a person in some way"

A brand is the identity of a specific product, service, or business. A brand can take many forms, including a name, sign, symbol, color combination or slogan.
Disatukan jadi:
Personal Branding is the process whereby people and their careers are marked as brands. (sumber)
Ok, jadi makna dari personal branding itu - kalau boleh saya artikan - adalah bagaimana kita mendandani diri sendiri sedemikian rupa sehingga kita menjadi sosok yang dikenali, sehingga saat orang lain melihat kita, mereka langsung mengetahui kapasitas kita yang sebenarnya.

Adapun sisi kapasitas mana yang perlu dieksploitasi, di aktivitas blogging, personal branding bisa dimaksimalkan dalam bentuk penampilan template, avatar narablog dan gaya menulis yang digunakan tuk mengomunikasikan ide dalam tulisan-tulisannya.

Nah, di sesaknya lautan blogsosphere ini, tentu ada something yang harus jadi patokan-patokan agar personal branding kita lebih menonjol dari yang lain. Dan something itu salah satunya adalah keunikan.

Apanya Yang Unik?
Bicara tentang unik, tentu kita membayangkan hal yang tak biasa, unordinary, ngga lazim dan...pokoknya berbeda. Makin unik yang dipresentasikan, makin kuat personal branding yang tersemat.

Sebagai contoh, saya demen tampilan unik blog ardianzzz:

sayang, sekarang tampilannya berubah lagi.. *hahaha*

Avatar yang unik, saya pilih tweet gajah pesing


Dan gaya tulisan, tentu tak ada yang tak kenal dengan Tika dengan ituh-nya


Yup, tentu saja bila dieksplorasi lebih lanjut, keunikan-keunikan itu bisa diaplikasikan dalam bentuk niche pembahasan. Makin fokus pembahasan, makin lengket ingatan kita tentang blog tersebut.

Contoh, blog yang membahas melulu motivasi:


Yang muter-muter di fashion:


Atau ngutak-ngatik komputer:


Conclusion
After all, you're not exactly a nation like all the other nations. You are unique, if only because you are such an ancient people, and because of the way you are spread all over the world and your obvious success in many fields. (Jean-Marie Le Pen)
Keunikan dan personal branding adalah sebuah tali simpul yang ditenun bersamaan. Keduanya memiliki keterkaitan erat dan menjadi penting tatkala kita ingin lebih dikenali di blogosphere yang makin chaotic ini.

Namun lebih penting lagi, be yourself :)

So, bagaimana tanggapan sobat tentang hubungan antara personal branding dan keunikan ini? Punya pendapat sendiri?

*masih ndengerin Norah Jones*

November 6, 2010

Melangsingkan Perspektif Blogwalking

Akhir-akhir ini saya seperti kejatuhan tuah. Bukan wangsit nomer buntut, prediksi skor liga Inggris, apalagi meramal gunung mana lagi yang bakal ikut-ikutan erupsi sedahsyat Merapi.

Ini tentang blogging.

Sekilas selayang pandang, saya dulu pernah menulis tentang perlunya blogwalking lintas genre. Selain cukup efektif tuk promosi blog dan menambah pundi-pundi blogroll, cara itu pun secara tidak langsung memang menyadarkan saya, bahwasanya blogosphere ini memang berwarna..ehm, atau lebih tepatnya, terlalu berwarna.

Namun kini – apa karena pengaruh usia yang makin uzur – saya cenderung tuk memilah-milah dalam blogwalking. Saya tak lagi segegap-gempita dulu. Tak lagi bisa menahan sabar tuk mengunyah postingan-postingan yang saya sama sekali tak mengerti juntrungannya.

Jelasnya, saya jenuh.

Ya, saya sudah kenyang, atau lebih tepatnya, terlalu kenyang tuk berpura-pura mengerti isi artikel yang mbulet, dan memaksakan diri tuk menyelipkan sepatah dua patah komentar, yang saya sendiri ragu relevansinya. Jangankan memindai perkalimat, untuk fast reading aja kadang saya sudah tak mampu. Dan makin hancurlah hati ini ketika saat berkomentar diharuskan mengisi captcha dan menunggu moderasi. Oh God, help me.

Dan pluff! tuah pun itu datang.

Bro and sis, saya harus menghemat energi. Dan salah satu jalannya adalah melangsingkan perspektif blogwalking alias hanya membaca blog-blog yang cukup bergizi tuk dicerna. Why? Don’t ask me why, the reasons are...

Too Much Information Will Kill You
Entah dari mana saya denger, tapi kali ini kata-kata itu terdengar merdu dan syahdu di telinga. Pun katanya, terlalu banyak informasi bakal memberi dua opsi yang tak bisa dielakkan: membuat kita makin pintar, atau malah membuat kita makin kacau. Well, kadang pilihan pertama memang sangat sulit ditemui, dan opsi kedua begitu riangnya menari-nari.

Di sinilah radar ekstra dibutuhkan tuk memilah mana informasi yang memperkaya kita dan mana yang hanya memboroskan bandwith waktu blogging. Ya, singkat kata, fokus pada blog-blog dengan gizi informasi yang cukup, dan biarkan sisanya mengendap...
True genius resides in the capacity for evaluation of uncertain, hazardous, and conflicting information. (Winston Churchill)

Sentimen Pribadi?
Saat melaut di dunia maya pun kita butuh sentuhan personal, dan itu bisa terjadi bila ada sesuatu yang namanya kecocokan. Bukan bermaksud menghakimi, tapi dari cara berkomentar dan klop serta intens-nya frekuensi saling berkunjung balik, lambat laun memberi gambaran akan keberlangsungan friendship dalam blogging. Ya kalau kata Slank sih, itu namanya reaksi kimia :)

Dan sentimen itu kadang mengalahkan segalanya. Hingga hadir pemikiran, cukuplah memiliki sahabat sedikit namun sreg di hati, ketimbang menabung pertemanan di brankas bocor yang akhirnya berujung pada ketiadaan.
Persahabatan adalah seperti uang, lebih mudah dihasilkan daripada disimpan (Samuel Butler)

Last...
Cukup dua alasan, dan saya kira itu lebih dari cukup.

Jika sobat ada tanggapan, monggo ada kotak komentar. Bila pun tak ada dan urung berkomentar, please, abaikan saja :)

Just my thought.

November 5, 2010

Distraksi Itu Adalah...

(klik gambar kalo kurang gede)

October 29, 2010

Pesta Oh Pesta

Pesta Blogger 2010 sebentar lagi akan meledak.

Ratusan posting, ribuan tweet dan coretan-coretan status facebook ditebar, menandai makin panasnya suhu dari perhelatan akbar yang sudah dimulai sejak tahun 2007 ini. Saya? Cuma bengong.

Ya, jangankan menghadiri pesta, kopdar face to face saja saya nihil. Belum sekalipun saya bertatap muka dengan sesama blogger, atau mungkin saya yang sudah cukup puas bergelimang teman di facebook dan cuit-cuit ria di twitter? Bisa jadi.

Jadi apa yang bisa saya lakukan, selain sekedar memajang banner di sidebar dan nglier menatapi twit-twit sahabat di timeline?


Yup, manyun!

So, selamat bagi yang besok ikut bersorak-sorai di PB2010, dan tunggu balas dendam saya taun depan! *hohoho*

Sobat ada yang ikut? Atau jangan-jangan cuma manyun juga kayak saya? :D

image credit: self collections

October 28, 2010

Coretan Sumpah Pemuda Di Tengah Bencana

Mari kita kesampingkan sejenak dari suku mana kita berasal, bahasa apa yang kita pakai, merk handphone yang selalu kita bangga-banggakan, bahkan lupakanlah bahwa kita semua adalah seorang blogger. Lepaskan semua embel-embel, telanjangi diri sepolos-polosnya, dan please, fokuskan fikiran pada satu hal berikut:

Flashback ke 82 tahun silam...

Bayangkan kita satu diantara ribuan pemuda-pemudi yang rela berdesakan di jalan Kramat Raya 106 guna menghadiri satu momen bersejarah, suatu ritual pengucapan sumpah setia yang bahkan kita sendiri belum tahu apa maknanya. Kita berjejalan dengan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru daerah yang bahkan kita belum tau letaknya dimana. Dan kita mendengarkan sebuah lagu asing yang hanya dimainkan oleh biola, yang kita sedikitpun tak menyadari lagu itu bakal jadi salah satu lagu kebangsaan terbaik di dunia, yang membuat Star Spangled Banner-nya Amerika Serikat, La Marsellaise-nya Perancis dan God Save The Queen-nya Inggris sama sekali tak ada artinya.

Apa kira-kira yang kita fikirkan saat itu?

October 27, 2010

You Are What You Blog

Pernah denger?

Ya, kita adalah apa yang kita tulis di blog. Slogan itu muncul lagi saat saya oprek-oprek materi blogshop tuk pesta blogger 2010 yang saya download di sini. Well, maknanya kalau ditela'ah lebih lanjut memang dalem juga. You are what you blog, saya adalah apa yang saya tulis di blog. Hmm, saya yang bagaimana ya?


Sedikit bongkar rahasia, sebenarnya apa yang selama ini saya tulis di blog indonesianer ini hanyalah re-write atau daur ulang dari topik-topik yang sudah pernah dibahas di blogosphere. Bagi yang sudah faham tentu maklum, ini adalah jenis teknik postingan yang umum, yaitu mengungkap topik serupa namun disajikan dengan perspektif berbeda. That's all. Adapun ke-orisinalitas-nya, don't worry, saya masih cukup bermoral tuk melakukan aksi serendah para copas addict.

October 26, 2010

Saya Taubat, Twitter Memang Mantap!

Nyesel juga, sejak saya mengumpat-umpat Twitter di postingan terdahulu (baca: Twitter-ku Yang Sok Pinter), saya betul-betul belum ngerti segimana dahsyatnya social netwok yang disebut microblog ini. Belum mengena feel-nya, dan saya kira cuma media blog lah lahan yang tepat tuk saling sharing something. Facebook? Beda-beda tipis, mengingat pernah juga nulis tentang itu (baca: Goodbye Facebook, Welcome Blogger). Shortly, saya bakal ngeblog forever!

Kenyataan sekarang, jauh panggang dari api...

October 25, 2010

Imagination Prompt, Solusi Praktis Mengembangkan Ide Tulisan

Sekedar menyambung postingan sebelumnya, ide-ide cerita untuk penulisan artikel dapat juga didapat dari sebuah generator. Bukan generator listrik, apalagi nuklir, so here we go...


Imagination Prompt bekerja tuk menggenjot otak kanan kita, memindai ide yang tertera dan menuangkannya dalam sebuah tulisan pendek. Ngga usah panjang-panjang, cukup 10 menit di setiap prompt-nya. Tertarik? Coba deh.

October 24, 2010

Bercerita, Yuk!

Kalau sobat seorang blogger, niscaya faham betul dengan propaganda-propaganda seperti ini:
Menulis adalah bla bla bla, jadi harus ba bi bu
Perhatikan tanda baca yang dang ding dung, kalau tidak jas jis jus
Tak perlu ini, tak perlu itu
Ngapain begini, ngapain juga begitu
Wah, banyak deh advice-advice, saran-saran yang terkesan maksa dan motivasi yang malah membuat kita stuck untuk mulai menulis di blog. Habis gimana? Yang memberi advice rata-rata expert di bidangnya. Iya sih, sesuai hukum tarik menarik, makin sering kita menimba ilmu dari yang ahlinya, maka makin cepat terakumulasi ilmu yang kita raih. Tapi please, di sini saya berbicara atas nama orang yang sama sekali blank tentang masalah dunia kepenulisan, namun ngebet tuk memeriahkan blogosphere yang makin colorful ini.

So, what should we do?

October 23, 2010

Reblog: Darinwrites!

Setelah membaca tulisan salah satu dedengkot blogger Indonesia, Fatih Syuhud, saya seperti diseret ke keadaan dimana saya pernah sangat antusias tuk membuat blog khusus berbahasa Inggris.

Dan salah satu alasannya memang terlalu ajib tuk dilewatkan:
My English writing skill is not good. I’d like to improve it by writing regularly in a medium where editorial barrier does not exist.
Ya, barrier itu kenyataannya ngga ada dan ngga pernah ada di media yang namanya blog.


So, just an announcement, monggo dicek.

Bagaimana dengan sobat tentang opini Fatih tersebut? Cukup rasionalkah tuk diterapkan? Atau jangan-jangan sobat juga punya blog berbahasa Inggris? Share it!

image: self collections