Ini tentang blogging.
Sekilas selayang pandang, saya dulu pernah menulis tentang perlunya blogwalking lintas genre. Selain cukup efektif tuk promosi blog dan menambah pundi-pundi blogroll, cara itu pun secara tidak langsung memang menyadarkan saya, bahwasanya blogosphere ini memang berwarna..ehm, atau lebih tepatnya, terlalu berwarna.
Namun kini – apa karena pengaruh usia yang makin uzur – saya cenderung tuk memilah-milah dalam blogwalking. Saya tak lagi segegap-gempita dulu. Tak lagi bisa menahan sabar tuk mengunyah postingan-postingan yang saya sama sekali tak mengerti juntrungannya.
Jelasnya, saya jenuh.
Ya, saya sudah kenyang, atau lebih tepatnya, terlalu kenyang tuk berpura-pura mengerti isi artikel yang mbulet, dan memaksakan diri tuk menyelipkan sepatah dua patah komentar, yang saya sendiri ragu relevansinya. Jangankan memindai perkalimat, untuk fast reading aja kadang saya sudah tak mampu. Dan makin hancurlah hati ini ketika saat berkomentar diharuskan mengisi captcha dan menunggu moderasi. Oh God, help me.
Dan pluff! tuah pun itu datang.
Bro and sis, saya harus menghemat energi. Dan salah satu jalannya adalah melangsingkan perspektif blogwalking alias hanya membaca blog-blog yang cukup bergizi tuk dicerna. Why? Don’t ask me why, the reasons are...
Too Much Information Will Kill You
Entah dari mana saya denger, tapi kali ini kata-kata itu terdengar merdu dan syahdu di telinga. Pun katanya, terlalu banyak informasi bakal memberi dua opsi yang tak bisa dielakkan: membuat kita makin pintar, atau malah membuat kita makin kacau. Well, kadang pilihan pertama memang sangat sulit ditemui, dan opsi kedua begitu riangnya menari-nari.
Di sinilah radar ekstra dibutuhkan tuk memilah mana informasi yang memperkaya kita dan mana yang hanya memboroskan bandwith waktu blogging. Ya, singkat kata, fokus pada blog-blog dengan gizi informasi yang cukup, dan biarkan sisanya mengendap...
True genius resides in the capacity for evaluation of uncertain, hazardous, and conflicting information. (Winston Churchill)
Sentimen Pribadi?
Saat melaut di dunia maya pun kita butuh sentuhan personal, dan itu bisa terjadi bila ada sesuatu yang namanya kecocokan. Bukan bermaksud menghakimi, tapi dari cara berkomentar dan klop serta intens-nya frekuensi saling berkunjung balik, lambat laun memberi gambaran akan keberlangsungan friendship dalam blogging. Ya kalau kata Slank sih, itu namanya reaksi kimia :)
Dan sentimen itu kadang mengalahkan segalanya. Hingga hadir pemikiran, cukuplah memiliki sahabat sedikit namun sreg di hati, ketimbang menabung pertemanan di brankas bocor yang akhirnya berujung pada ketiadaan.
Persahabatan adalah seperti uang, lebih mudah dihasilkan daripada disimpan (Samuel Butler)
Last...
Cukup dua alasan, dan saya kira itu lebih dari cukup.
Jika sobat ada tanggapan, monggo ada kotak komentar. Bila pun tak ada dan urung berkomentar, please, abaikan saja :)
Just my thought.
Tweet


