February 17, 2010

Dilema Nuklir

Berita mengejutkan datang dari negeri Paman Sam. Presiden Obama mengusulkan rencana pembuatan instalasi energi nuklir baru di Amerika. Dalam lawatannya ke Maryland saat ceramah di depan forum pelatihan kerja, ia menegaskan keadaan yang makin mendesak bagi Amerika untuk segera mewujudkan 'energi dari rumah sendiri' sekaligus menurunkan ketergantungan akan impor minyak dari luar.

Apa yang terbersit di fikiran kita bila mendengar tentang instalasi energi nuklir? Apakah menara pendingin dari beton yang menjulang ke angkasa? Dengan uapnya yang membumbung bagai jamur raksasa ke angkasa? Atau seperti saya, terbayang Homer Simpson yang tengah mengantuk di ruang kerjanya? :)


Beberapa pihak mengklaim bahwa energi nuklir adalah pilihan tepat untuk saat ini karena alasan berbiaya rendah dan bisa menjadi energi alternatif bagi bahan bakar fosil. Dan pihak yang lain menyuarakan efek negatif yang ditimbulkan, yaitu limbah nuklir, serta kekhawatiran terulang kembalinya tragedi nuklir seperti yang terjadi di Three Miles Island dan Chernobyl.

Perdebatan itu hingga kini masih hangat dibicarakan, dan saya tergelitik untuk mengulasnya pada postingan kali ini.

Hingga Juli tahun 2008, tercatat ada lebih dari 430 unit instalasi nuklir di dunia yang tersebar di 31 negara. Bila digabung, kesemuanya menyumbang 15% dari kebutuhan listrik dunia pada tahun 2007 silam. Dari 31 negara pengguna, masing-masing memiliki program dan prioritas tersendiri dalam pemanfaatan energi yang dihasilkan nuklir. Sebagai contoh, Perancis memanfaatkan nuklir untuk 77% kebutuhan listrik dalam negrinya. Urutan kedua, Lithuania dengan 65%. Dan Amerika Serikat dengan 104 instalasi nulkirnya yang menyuplai 20% kebutuhan listrik secara keseluruhan, dimana tiap negara bagian menikmati keuntungan yang bervariasi.

Entah pabila kita berfikir bahwa energi nuklir sangat menjanjikan untuk masa depan, atau justru sebagai pabrik mutan, setidaknya ada banyak alasan untuk kita berpindah pendirian dari pro atau kontra mengenai masalah ini.

Dari segi positif, energi nuklir memiliki keuntungan terbesar hanya dengan satu fakta sederhana: tidak bergantung sama sekali dengan energi fosil. Bahkan, emisi yang dihasilkan jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan emisi energi batubara maupun gas alam. Menurut hasil penelitian NEI (Nuclear Energy Institute), bumi ini akan kebanjiran 20 milyar metrik ton CO2 pertahun jika tetap masih menggunakan bahan bakar fosil. Dan yang kini hangat dibicarakan, sebenarnya emisi energi nuklir menghasilkan radioaktif yang lebih rendah dari emisi batubara. Tentunya dengan tidak tergantung pada bahan bakar fosil, biaya operasional instalasi nuklir tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak dan gas dunia.

Kini mari kita lihat segi negatifnya. Energi nuklir memang tidak memproduksi CO2, tapi proses penambangan dan pemurnian uraniumnya masih belum merupakan proses yang betul-betul bersih. Pemindahan energi nuklir dari satu instalasi yang lain merupakan hal yang sangat riskan, mengingat tingkat kontaminasi yang bisa ditimbulkan pada lingkungan.

Sebagai perhitungan, rata-rata tiap instalasi nuklir menghasilkan 20 metrik ton energi siap pakai yang diklasifikasikan sebagai penghasil limbah radioaktif tingkat tinggi. Jika dilihat dari tiap instalasi yang ada di bumi, kombinasi totalnya mencapai 2000 metrik ton pertahun. Semua limbah ini memancarkan radiasi dan panas, yang artinya sewaktu-waktu dapat merusak dan mematikan kehidupan sekitarnya.

Sebenarnya limbah energi nuklir dapat hancur dengan sendirinya dan kembali menjadi radioaktif yang bersahabat bagi manusia, tapi itu membutuhkan puluhan ribu tahun. Meski itu berupa radioaktif tingkat rendah, tetap membutuhan berabad-abad untuk mencapai kadar yang aman. Saat ini, industri nuklir mendinginkan limbah bertahun-tahun sebelum dicampur dengan bahan kaca dan ditempatkan di suatu gudang pendingin yang berupa struktur beton masif. Di kemudian hari, sebagian besar limbah ini akan dipendam jauh ke dalam tanah. Dan limbah buangan ini harus terus diawasi dan dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang tidak bertanggungjawab. Maka dari itu, kegiatan inilah yang memakan biaya terbesar dalam rencana pembangunan instalasi nuklir.

Limbah nuklir bisa menimbulkan banyak masalah dan kebanyakan dikarenakan instalasi yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ketika sesuatu yang tidak beres terjadi, situasi bisa berubah menjadi malapetaka. Tragedi Chernobyl adalah contoh yang nyata. Pada tahun 1986, reaktor nuklir Ukraina meledak, melontarkan 50 ton material radioaktif ke area sekitarnya dan mengkontaminasi berhektar-hektar hutan. Bencana itu mengevakuasi sedikitnya 30 ribu orang dan mematikan ribuan lainnya akibat kanker dan penyakit yang diakibatkan bahan radioaktif.

Hingga kini, Chernobyl masih merupakan black eye untuk industri energi nuklir, meski banyak pihak terus bersikeras pentingnya energi nuklir untuk masa depan bumi yang mengalami penggerusan energi fosil.

Pendapat blogger? Pro atau kontra? Atau punya pemikiran sendiri?

(Dari berbagai sumber)

5 comments:

fai_cong said...

selamat malam kang,...
:D

Bunglon Blog said...

wah menaruk sekali sobat artikelnya,kalo dilihat dari segi (+) EN memang luar biasa tapi dari segi (-) lumayan juga y? yach mungkin bisa dilakukan minimalisir untuk dampak negatifnya. sukses sobat

miwwa said...

dampak negatifnya parah!! terlalu beresiko..

Darin said...

@faicong: malam juga, begadang cong?
@bunglonlog: trims. begitulah, pro dan kontra msh ada mpe sekarang.
@miwwa: betul, tapi sampai kapan kita pake energi fosil? Suatu saat pasti akan habis kan?

BIG SUGENG said...

Mestinya Indonesia sudah bisa ya... lha ahlinya juga sudah banyak kok...
cuma kadang baru rencana saja LSM pada protes ya... atau LSM disponsori oleh pihak2 yang 'pingin status qua" dalam masalah energi

Post a Comment