May 20, 2008

From Kupang With... (1)

Long time no see..
Rekan blogger semua, saya harap Anda semua baik-baik saja. Sepeninggal saya, mungkin telah banyak fluktuasi yang terjadi di blogosphere indonesia ini. Dan yang masih hangat-hangat kuku tentu saja momentum 100 tahun kebangkitan nasional bangsa, panasnya demo anti kenaikan BBM and many more...

Syahdan, bukannya saya melupakan blog ini, namun sesuatu hal memaksa saya untuk sebentar saja menghilang. Nah, untuk edisi kali ini izinkan saya bercerita sekelumit kisah yang merujuk atas statemen yang saya tulis di atas tadi: menghilang sejenak...

Adalah Timor, suatu pulau yang saya tuju. Pemda NTT lewat Balai Besar Pengawasan Sungai di NTT mengadakan riset tentang sungai-sungai kritis di Pulau Timor. Via satu rekanan kontraktor, proyek studi itu terlaksana dan saya bersama tim berangkat pada tanggal 8 Mei 2008 dalam rangka survey pendahuluan dan mempresentasikan hasilnya di depan Direksi, dalam hal ini Dep. PU Pengairan NTT.

Lokasi survey yang direncanakan (1. Haekto, 2. Ponu)


Ada dua lokasi alur sungai kritis yang jadi obyek studi, yaitu di alur sungai Haekto, dan sungai Ponu. Sungai Haekto berjarak sekitar 150 km dari Kupang, sedang Ponu kira-kira dua kali lipat dari itu (lihat gambar). Well, sejak kaki-kaki besi Boeing Lion Air menapak di Bandara Eltari Kupang, sejak itulah perjalanan ini dimulai...


Alur sungai Haekto..dari lereng gunung Mutis


Lokasi survey pertama terletak di lereng Gunung Mutis, satu-satunya gunung tinggi di Pulau Timor, dari sini mengalir salah satu sungai besar, yaitu Benanain. Nah, Haekto adalah salah satu anak sungainya yang ditengarai termasuk dalam kategori kritis. Setelah 5 jam perjalanan, sebanding dengan perjalanan darat antara Solo-Surabaya, kami berkesempatan menengok salah satu bendung, yakni bendung Haekto.

Parah...


Satu kesan yang langsung terlintas di benak kami adalah: bangunan ini sedang sekarat. Mengingat fungsinya yang sebagai sumber irigasi untuk mengaliri sawah seluas hingga 1000 hektar, saya hanya terpaku melihat betapa kondisinya kini tak sebanding dengan apa yang dicita-citakan. Pak Domi, selaku penjaga bendung mengatakan, kini hanya sekitar 30 hektar saja yang bisa dialiri, selebihnya sawah itu berubah fungsi menjadi ladang tadah hujan dan lahan peternakan.

Dengan kegiatan visual ini, saya jadi lebih memahami prilaku sungai-sungai di Pulau Timor. Sekilas hanya berupa kali kecil sedalam lutut dengan limpahan sedimen-sedimen ukuran menengah seperti kerikil dan batu. Namun setelah saya tiba di badan bendung, saya langsung tercengang dengan begitu dahsyatnya angkutan sedimen di sini. Sampai-sampai di hulu bendung terbentuk delta, seperti pulau kecil yang isinya thok batu-batu!

Delta di hulu bendung..mengerikan!


Bendung Haekto itu menjadi titik acuan survey, dan kami berjalan ke hilir hingga 8 km, mencatat, menginventariasi dan mewawancarai penduduk sekitar untuk bahan studi nantinya. Setelah jam menunjukkan pukul 3 sore, kami putuskan survey di sungai Haekto telah cukup dan kami berencana langsung meninjau lokasi ke dua, Sungai Ponu, yang katanya hanya 20 menit perjalanan dari Atambua, kota perbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste.

The A Team..saya si kurus yang kehausan :)


Sampai disini dulu edisi kali ini, untuk menghindari kerusakan mata akibat memanteng monitor terlalu lama, saya putuskan untuk menyambungnya di postingan lain waktu.

Have a nice day, blogger!

Anda suka dengan artikel ini dan tidak ingin melewatkan posting berikutnya? Silahkan berlangganan gratis via RSS!

4 comments:

amethys said...

ditunggu cerita selanjutnya.....saya selalu interes dengan cerita2 ttg daerah ini...

wah Timor sepertinya gersang banget yah?
serita dunk ttg kehidupan masyarakatnya

Dyden Rinda said...

Nanti ya amethys, saya juga ga sabar tuk menelurkan tulisan2 ttg itu, keep the spirit!

dee said...

gimana risetnya di NTT..
ada yg bs kita lakukan utk alam..?

Darin said...

Ok saya coba untuk mengulasnya dee..thanks dah komen yah

Post a Comment