March 31, 2008

In Memoriam: Porong (1)

Hari ini, genap setahun saya tinggalkan bumi Porong. Seberkas goresan dari beragam perasaan masih saja saya sesekali izinkan berkutat di kepala. Jangka waktu dua bulan rasanya tidak cukup tuk lebih mendalami dan memahami fenomena yang sebetulnya terjadi di sana. Hingga seminggu pertama awal saya menginjakkan kaki di sana, saya bahkan belum sempat menyadari apa-apa yang terkias di balik bencana ini. Satu minggu pertama itu hanya saya gunakan untuk mempelajari teori, mendengarkan pengarahan, mendelegasikan tugas dengan tim, dan mempelajari medan secara visual dari peta terdampak yang besarnya melebihi poster Nirvana di kamar saya.


Semua diawali dari keputusan Kepala Balai untuk memberangkatkan saya untuk ikut membantu Timnas Lumpur Lapindo di bagian drainase dan irigasi. Semua berjalan begitu cepat. Saya diberi tahu sore hari, besok pagi saya sudah harus berada di bis Eka jurusan Surabaya. Saya sampai-sampai berfikiran bahwa ini hanya dinas luar beberapa hari saja, seperti tugas-tugas luar kota saya yang lain. But the story was different...

Sebelumnya saya sudah pernah ke Surabaya, tapi belum pernah mblasuk-mblasuk pusat kotanya, apalagi survey ke gang Dolly yang kesohor itu..hehe. Saya dulu cuma transit di Bandara Juanda dan kemudian meneruskan perjalanan ke Bandara Mutiara Palu, Sulteng. Dua hal yang saya ingat saat itu, Surabaya itu panas dan ramenya gak ketulungan. Jadi berbekal pengalaman itu, saya hanya membawa beberapa stel kaos oblong dan celana kolor boxer. Jaket? bawa satu cukup rasanya.

Saya berangkat berdua dengan rekan kerja bernama Agus. Saya kira Agus sudah mengerti alasan pemberangkatan, tapi ternyata setali tiga uang, dia blas ga tau apapun tentang Timnas Lapindo. Walhasil, sepanjang perjalanan kita-kita cuma berceloteh tentang rutinitas kantor yang boring, administrasi yang payah, sampe gosipin cewek-cewek SMA yang sedang magang di kantor. Uhuiii...

Agus hanya diberi pengarahan dimana nanti kita bermalam dan siapa yang harus pertama kali kita temui di sana. Sebuah nama membuat dahi saya berkenyit: Apartemen Somerset. Ha? Apartemen? Kita mau nginep di apartemen nih? Kamu gak becanda kan Gus? Saya sudah membayangkan yang tinggi-tinggi saat itu, dan dengan wajah tanpa dosa Agus cuman ngomong: ya katanya sih. Wuzz.. Saya langsung terjun bebas lagi ke bumi dengan sukses!

Mau tahu kisah selanjutnya? Nantikan episode berikutnya ya.. (kalau gak lupa n gak lelet koneksinya nih..hiks)

2 comments:

korban lapindo said...

Wah, ditunggu ceritanya mas, pasti menarik nih insight dari anggota timnas. Terutama kronologis2 seputar upaya penanggulangan dan kejadian sekitar ledakan pipa gas.

salam,

korbanlapindo

Dyden Rinda said...

Insya Allah mas/mbak?
Saya akan berusaha menulis apa adanya tentang pengalaman saya di sana. Semoga bermanfaat. Lalu bagaimana keadaan mas/sekarang?

Post a Comment